Midodareni, Malam Menata Batin Menjelang Pernikahan

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Dalam tradisi Jawa, malam menjelang pernikahan bukan sekadar jeda sebelum Dhaup Suci dilangsungkan keesokan harinya. Malam itu menjadi waktu bagi calon pengantin putri untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin, sekaligus menantikan datangnya berkah dan kesempurnaan menjelang kehidupan baru.

Tahapan tersebut dikenal sebagai Midodareni. Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, KPH Tjuk Susilo, MPA, menjelaskan Midodareni dilaksanakan setelah prosesi Siraman dan menjelang hari pernikahan.

banner 300x250

“Malam Midodareni ini, menurut sejarah dan tradisinya, dipercaya sebagai malam ketika para bidadari turun dari kayangan untuk menghampiri calon pengantin putri. Kehadiran mereka memberikan penguatan serta memperdalam kesiapan lahir dan batin calon pengantin,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, malam Midodareni juga menjadi bagian dari penyempurnaan kelengkapan perabot dan ageman temanten, sehingga calon pengantin tampil lebih cantik dan anggun.

BACA JUGA  Lansia Segar Desa Bero Ingin Jadi Agen Perubahan Bukan Beban Tapi Aset Inspirator Bagi Generasi Muda

“Harapannya, calon pengantin yang besok pagi akan menikah sudah benar-benar siap. Malam Midodareni ini juga menjadi waktu bagi calon pengantin untuk berdoa dan menyendiri, memusatkan pikiran serta mempersiapkan diri untuk hari esok,” jelas Kanjeng Tjuk.

Dalam prosesi ini, calon mempelai putri menghabiskan malam di Pracimayasa, kawasan Keputren, dan tidak diperkenankan keluar hingga malam berlalu.

Sementara itu, calon mempelai pria bersama keluarga calon mempelai putri mengikuti rangkaian acara di Pendapa Ageng.

Prosesi Midodareni pada malam itu diawali dengan kedatangan rombongan calon mempelai pria dari Ndalem Prangwedanan.

BACA JUGA  Amankan Salat Tarawih di Sejumlah Masjid, Polisi Wonogiri Berjanji Gelar Patroli Jam Rawan

Sekitar pukul 19.00 WIB, rombongan tiba di Bangsal Tosan. Setibanya di lokasi, dilaksanakan tata cara Pasrah Tinampi dan seserahan yang diterima oleh GKP Mangkoenagoro IX.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi Tumuruning Kembar Mayang. Kembar mayang beserta kelengkapannya dibawa dari Bangsal Tosan menuju Ndalem Ageng. Kembar mayang ini bermakna doa dan harapan agar Tuhan memberi restu dan perlindungan kepada kedua mempelai.

Dalam rangkaian Dhaup Ageng ini, terdapat empat pasang kembar mayang yang ditempatkan di empat lokasi, yakni nDalem Ageng, Pelaminan, Kamar Pusaka, dan Prangwedanan. Prosesi ini menjadi bagian dari tata cara adat yang menyertai persiapan pernikahan.

BACA JUGA  Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Idul Adha 2026

Setelah itu, keluarga besan menerima sambutan selamat datang yang disampaikan oleh KPH Tjuk Susilo, MPA. Acara kemudian dilanjutkan dengan sajian Tari Srimpi Sura Asmara, karya maestro tari RNg Rusini, yang berlangsung selama kurang lebih 20 menit.

Rangkaian Midodareni kemudian dilanjutkan dengan tata cara pemberian Kancing Gelung kepada calon mempelai pria oleh GKP Mangkoenagoro IX. Setelah prosesi tersebut selesai, rombongan calon mempelai pria kembali menuju Ndalem Prangwedanan.

Melalui rangkaian Midodareni, Dhaup Ageng Mangkunegaran memperlihatkan kesinambungan antara persiapan batin calon pengantin, tata cara adat keluarga, dan pelestarian seni tradisi. Malam menjelang akad nikah pun menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kehidupan rumah tangga. (Ariyanto)

Komentar