Portalika.com [KARANGANYAR] – Gerakan Solusi Indonesia (GSI) memelopori peta digital jalur pendakian di Bukit Mongkrang di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.
Kegiatan bernama Gerakan Peduli Lingkungan 3M yakni Memetakan, Mendaki dan Membersihkan itu bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri Karanganyar, Anak Gunung Lawu (AGL) dan pengelola Bukit Mongkrang.
Dewan Pembina GSI, Prof Pujiyono Suwadi menuturkan, Gerakan 3M sebagai bentuk kepedulian GSI terhadap lingkungan dan keselamatan para pendaki. Gerakan yang dilakukan GSI sesuai dengan semangat dalam upaya bermanfaat untuk masyarakat dan hadir menawarkan solusi.
”Naik gunung saat ini adalah tren. Meski jadi tujuan anak-anak muda, tetap harus paham jalur dan keselamatan. Maka, kami menginisiasi pemetaan jalur pendaki secara digital. Bisa dimanfaatkan pendaki secara gratis,” terang dia, Kamis, 17 September 2026.
Adapun tim 3M yang dipimpin Co Founder GSI, Anas Syahirul bersama sejumlah pendaki dilepas Kepala Kejaksaan Negeri Karanganyar, Dr Abdurachman, SH, MH.
Abdurachman mengapresiasi kegiatan memetakan jalur pendakian secara digital. Menurutnya, tidak hanya sebagai bentuk kepedulian lingkungan, tetapi menjadi alat untuk meminimalisir pendaki tersesat dan hal-hal yang tidak diinginkan saat berada di alam.
”Ini ide briliant yang luar biasa. Pendaki bisa memiliki peta digital, sehingga jalurnya jelas. Harapannya tidak ada yang tersesat kembali,” jelas dia.
Koordinator Tim Pemetaan GSI, Hasan Achmad menjelaskan, peta digital berbasis geospasial diserahkan kepada pengelola Mongkrang. Sebelumnya, tim melakukan pendakian ke puncak Mongkrang sembari bersih-bersih memungut sampah dan pemasangan papan peta tersebut.
”Peta ini dapat digunakan secara offline melalui ponsel tanpa memerlukan sinyal seluler karena memanfaatkan teknologi GPS satelit. Selain itu, kami juga menyerahkan pemasangan papan peta dan leaflet,” terang dia.
Dikatakan Hasan, peta digital dapat diakses melalui kode QR yang tercantum pada papan peta besar yang telah diserahkan kepada pengelola Mongkrang, Edi Purwanto.
Adapun panduan penggunaannya tersedia secara lengkap melalui tautan tersebut. Secara umum, pendaki cukup mengunduh file peta berformat PDF, memasang aplikasi Avenza Maps atau SW Maps, kemudian mengimpor peta ke dalam aplikasi agar dapat digunakan selama perjalanan.
”Sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat masa kini, telah disediakan pula data jalur dalam format GPX dan KML. Data tersebut dapat digunakan melalui aplikasi navigasi, perangkat GPS, maupun jam olahraga yang kompatibel,” jelas dia.
Lebih lanjut Hasan menerangkan, Mongkrang merupakan salah satu lokasi favorit untuk berlatih bagi pelari lintas alam, mulai dari kalangan anak muda hingga pelari senior.
Kehadiran data GPX dan KML diharapkan dapat menjadi panduan navigasi serta pengingat arah jalur bagi para pelari agar tetap berada di jalur resmi yang telah dipetakan.
Dengan adanya peta digital ini, pendaki dan pelari diharapkan dapat mengenali jalur secara lebih akurat, merencanakan perjalanan dengan lebih baik, serta meningkatkan kewaspadaan selama beraktivitas.
”Peta digital berfungsi sebagai alat bantu navigasi dan tidak menggantikan rambu-rambu lapangan, arahan pengelola, kesiapan fisik, maupun kewajiban untuk memperhatikan kondisi cuaca dan medan,” terang dia.
Bahkan kata dia, pengelola Mongkrang mengimbau seluruh pendaki dan pelari untuk selalu berhati-hati, mengikuti jalur resmi yang telah dipetakan, tidak membuat jalur sendiri, serta mempersiapkan perjalanan dengan baik.
”Tujuan mendaki maupun berlari di alam bukan sekadar mencapai puncak atau mencatatkan waktu tercepat, tetapi menikmati perjalanan dan kembali pulang dengan selamat,” harap dia.
Sebelumnya, Bukit Mongkrang menjadi primadona para pendaki baru. Namun di antaranya ada yang kemudian hilang dan tersesat. Maka keberadaan peta digital akan membantu pendaki agar tetap pada jalur yang benar. (Triantotus/*)












Komentar