Portalika.com [SOLO] – Seratusan diaspora Jawa datang dari berbagai negara di dunia hadir di Kota Solo, Jateng. Mereka yang rata-rata merupakan generasi kelima ini hadir di Kota Solo untuk mengikuti Kongres ke-6 Diaspora Jawa Internasional 2025 di Hotel Dana, Sriwedari, Laweyan, Solo, Jateng.
“Acara ini dihadiri sekitar 100-150 peserta dari berbagai negara, dari ujung Pasifik di Kaledonia Baru sampai ujung Atlantik di Suriname. Ada juga dari Belanda, Singapura, Malaysia dan negara-negara lainnya,” ujar Pembina Diaspora Jawa, KPH Wironegoro kepada awak media saat menghadiri welcome party & speech dari panitia Diaspora Javanese International di Hotel Dana, Solo, Senin, 9 Juni 2025 malam.
Dia yang juga menantu Sri Sultan Hamengku Buwana (HB) X ini mengutarakan acara tersebut digelar di dua kota yaitu di Solo dan di Jogja pada 10-16 Juni 2025. Mereka setiap dua tahun berkumpul di Tanah Jawa yang juga tanah leluhur mereka.
Wironegoro yang juga suami GKR Mangkubumi yaitu putri pertama HB X ini mengatakan kedatangan para diaspora ini pada dasarnya ingin menengok kampung halaman leluhur mereka di Tanah Jawa.
“Tujuan utamanya mayoritas mencari jejak leluhur mereka dari mana. Kami juga banyak membantu mereka mencarikan asal mbah-mbah atau leluhur mereka dari mana,” ujar dia.
Pada Kongres Diaspora Jawa 2025 ini, kata dia, pihaknya ingin menekankan tiga hal. Pertama, ingin memberikan masukan kepada para peserta kira-kira apa penyebutan paling tepat untuk Diaspora Jawa sebagai identitas kultural.
Kedua, pihaknya akan diterima dan dijamu Bupati Gunungkidul di pendapa untuk menanamkan kepada diaspora Jawa back to the roots. Artinya, Jawa itu secara peradaban berasal dan bermula dari mana.
Ketiga, pihaknya akan membeberkan basic unggah-ungguh, suba sita dan tata karma. Untuk itu mereka akan diterima Sri Sultan HB X di Sasana Hinggil untuk menerangkan suba sita, unggah-ungguh dan tata krama.
Menyinggung acara yang digelar di Kota Solo, Wironegoro antara lain menyebutkan berkunjung ke Keraton Surakarta, pelatihan jamu di Unit Pelaksana Fungsional Pelayanan Kesehatan Tradisional (UPF Yakestrad) Tawangmangu, Karanganyar sekaligus makan siang di taman Atsiri.
Potensi Pariwisata
Untuk acara di Jogja mereka akan ramah tamah dengan Ngarsa Dalem, menghadiri acara di Desa Wulenpari, Gunungkidul dan acara lain dengan para pelaku UMKM. Pihaknya akan memberi pelatihan tentang bentuk rumah limasan Jawa sehingga di Suriname nanti mereka diharapkan bisa menjadi ujung tombak budaya Jawa di seluruh dunia. Misalnya ketika membangun rumah dengan entitas Jawa menggunakan bentuk limasan.
Namun di bagian lain Wironegoro mengungkapkan istilah Diaspora Jawa tidak cukup kuat, beda halnya kalau namanya Diaspora Indonesia. Karena Diaspora Indonesia ada negaranya, ada pemerintahnya, ada kementeriannya, ada dinasnya sehingga ketika Diaspora Indonesia punya acara negara bisa hadir.
Sedangkan kalau Diaspora Jawa tidak bisa mengajukan Keraton Jogja, Keraton Surakarta karena Diaspora Jawa ini berasal dari Jawa ujung timur di Banyuwangi sampai Jawa ujung barat di Banyumas.
“Karena itu kami akan bertemu dengan para pemimpin mereka untuk merumuskan penyebutan yang tepat bagi mereka yang orang Jawa tapi bukan warga Negara Indonesia ini,” ungkap dia.
Ditanya kenapa kegiatan Diaspora Jawa ini sering kali digelar di Solo dan Jogja, karena kedua kota ini dinilai mempunyai patron budayanya. Yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Jogja sehingga diharapkan kedua kota ini sebagai kota singgah dan terselenggaranya acara ini.
Kedua keraton ini juga bisa memberi induksi, ilmu-ilmu yang sederhana. Diharapkan Pemda DIY dan Surakarta bisa melihat kegiatan ini menjadi potensi pariwisata.
Karena, ujar Wironegoro, para Diaspora Jawa ini datang sebagai wisatawan yang spending powernya lumayan panjang.
“Mereka tinggal selama satu bulan. Mereka juga belanja, berkonsumsi, bertransport. Semoga ini dilirik menjadi salah satu potensi pariwisata dari angle yang berbeda. Ini beda dengan pasar-pasar umum yang sekarang terganggu dengan kondisi ekonomi yang terjadi di dunia dan Indonesia,” ungkap dia.
Empat Kali Ke Solo
Sementara itu Ketua Panitia Kongres Ke-6 Diaspora Jawa Internasional, Ine Waworuntu mengatakan sebagai ketua panitia yang mewadahi para diaspora dari berbagai negara yang sekarang ikut acara tantangannya adalah memahami budaya mereka.
Sebab sebagian dari mereka merasa dirinnya sangat Jawa sangat ingin menjadi Jawa tapi ternyata belum mengerti semua.
“Mereka sudah terkontaminasi dengan budaya negara tempat mereka tinggal,” kata dia yang menjadi staf Kantor Yayasan Budaya Wironegoro di Belanda ini.
Di bagian lain salah seorang Diaspora Jawa, Juliet Moeljoredjo mengatakan dia ke Solo sudah empat kali. Dia mengaku sudah berjalan ke berbagai tempat dan menjajal berbagai kuliner di Solo.
“Makanan kesukaan saya di Solo ini nasi liwet dan wedang jahe. Tadi malam saya juga sudah menikmatinya,” ujar warga negara Belanda kelahiran Suriname yang sehari-hari menjadi manajer sebuah perusahaan ternama di Belanda ini dengan Bahasa Jawa ngoko fasih sambil menambahkan kakek neneknya dari Jogja dan Semarang. (Iskandar)












Komentar