Seratusan Petani Karanganyar Siap Bangkitkan Kejayaan Kopi Warisan Mangkunegara IV Di Lereng Lawu

banner 468x60

Portalika.com [KARANGANYAR] – Salah seorang inisiator pegiat kebangkitan Kopi Karanganyar Lawu, Aris Munandar mengatakan pihaknya siap mengembalikan kejayaan kopi yang sudah dibudidayakan sejak zaman Kolonial Belanda dan Mangkunegara IV.

Karena sejak sekitar tahun 1990 tanaman kopi milik warga banyak yang dibabat habis akibat harga kopi terjun bebas alias tak laku.

banner 300x250

Dia menjelaskan Pengageng Parentah Pura Mangkunegaran, Solo, Jateng yang bertahta tahun 1853-1881 ini mampu membangun ekonomi yang kuat.

Dan salah satu komoditi yang dikembangkan adalah kopi. “Kopi menjadi produk pertanian yang diekspor ketika itu melalui VOC untuk diekspor ke Eropa. Inilah kemudian muncul istilah Java Coffee,” ujar dia yang juga pemilik Resto Banana Krezzz, Karangpandan, Karanganyar, Jateng ini kepada awak media didampingi Humas Banana Krezzz, Bimo Aji Sudarsono saat ditemui di restonya belum lama ini.

Menurut dia seiring perjalanan waktu, Kopi Lawu yang ditanam di Lereng Gunung Lawu Karanganyar, juga mengalami pasang surut. Puncak kesuraman itu pada sekitar tahun 1990-an. Akibatnya banyak tanaman kopi di Karanganyar dibabat para pemiliknya karena harga kopi terjun bebas alias tak laku.

Bimo menambahkan guna membangkitkan kejayaan Kopi Karanganyar Lawu, mulai tahun 2017 sebelum covid 19 dia menggelar festival kopi di Karanganyar. Sebagai ketua pelaksana festival Bimo mengatakan tujuan festival antara lain untuk kembali menggeliatkan kopi Karanganyar Lawu dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Kegiatan itu muncul setelah salah seorang barista Karanganyar mencoba mengikutkan lomba kopinya di tingkat Jateng. Kebetulan kopi yang diambil dari halaman rumah Bimo ternyata mendapatkan juara lima dari 35 peserta, yang datang dari berbagai daerah di Jateng.

Menurut dia, Aris Munandar yang dinilai paham tentang kopi tergerak hatinya ingin menggeliatkan kopi Karanganyar Lawu. Aris yang telah memiliki sertifikat tentang perkopian dan sudah malang-melintang menjelajahi berbagai daerah penghasil kopi di Jawa serius menghimpun seratusan petani kopi.

Selain itu Aris yang turut menggeliatkan Kopi Karanganyar Lawu ini juga sanggup membeli hasil panen para petani dengan nilai yang pantas.

“Saat ini hampir 200 orang petani yang tersebar dari [Kecamatan] Jatiyoso hingga [Kecamatan] Jenawi sudah menjalin kerja sama dengan Mas Aris. Dan saat ini sudah ada Kopi Arabika Lawu yang bisa diperoleh di Resto Banana Krezzz milik Mas Aris. Kopi yang tersedia di sini dijamin petik merah [sudah tua-red],” ungkap Bimo.

Pemilik Resto Banana Krezzz, Karangpandan, Karanganyar, Jateng, Aris Munandar menyeduh salah satu kopi produksinya saat ditemui di restonya belum lama ini. (Portalika.com/Iskandar)

Menyinggung peran Pemkab Karanganayar dalam mem-branding kopi, Bimo mengaku telah mendapat perhatian. Sehingga begitu pihaknya mengadakan festival kopi 1, 2, 3 Dinas Pertanian langsung aktif untuk mencarikan bibit. Saat ini bibit tanaman kopi yang sudah didistribusikan ke petani sudah mulai panen meski kapasitasnya dinilai belum maksimal.

Dia menjelaskan masa tanam hingga buah siap petik butuh waktu kira-kira dua tahun dengan catatan perlu pemupukan yang benar dan baik. Sedangkan panen maksimal bisa diperoleh ketika tanaman berusia empat tahun.

Nilai Ekonomi Kopi Luar Biasa

Terkait masa depan perkopian di Karanganyar dia optimistis Tawangmangu mampu menjadi sentral kopi Lawu. “Empat tahun lalu saya sudah memprediksikan bahwa harga kopi bakal naik dan hari ini terbukti. Kita juga diuntungkan sebagai eksportir kopi terbesar dunia baru peremajaan. Bicara tentang ekonomi nilai yang dihasilkan dari kopi luar biasa,” papar dia.

Diperkirakan sampai empat tahun mendatang harga kopi masih stabil. Karena itu jika sejak hari ini Kabupaten Karanganyar tak segera menyiapkan mekanisme yang tepat dikhawatirkan akan menjadi bumerang.

Sebab ketika kampanye budidaya kopi dilakukan tapi tak ada sistem yang menjaga agar hasil panen bisa terserap hasil panen akan sia-sia. Saat ini kapasitas panen kopi hanya cukup sekadar untuk kebutuhan oleh-oleh.

Tapi kalau hasil panennya lebih dari yang diperkirakan tentu harus ada sistem yang siapkan lebih lanjut. “Salah satu sistem yang coba di creat Mas Aris adalah bikin pabrik. Karena kita tak mungkin terus menerus mendistribusikan hasil kopi kita ke luar daerah,” kata Bimo.

Saat ini pihaknya sudah menyediakan produk Kopi Karanganyar Lawu dalam bentuk berbagai kemasan. Karena itu konsumen bisa memilih ukuran kemasan yang diinginkan.

Kopi Lawu Aroma Apel

Di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan pasok bahan baku olahan kopi kemasan pihaknya sementara ini memperoleh dari perkebunan rakyat di Kecamatan Jatiyoso. Sampai saat ini total luas area perkebunan kopi di Karanganyar hampir 50 hektare tersebar di Kecamatan Jatiyoso, Tawangmangu, Ngargoyoso, Karangpandan dan Mojogedang.

Karena kawasan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan air laut (Mdpl) dan 1.000 Mdpl lebih itu dinilai cocok untuk budidaya tanaman kopi Robusta dan ketinggian di atas 1.000 Mdpl, untuk tanaman kopi Arabika.

Semakin tinggi lokasi penanaman dinilai akan kian baik kualitas kopi Arabika. Untuk cita rasa, Robusta cenderung lebih pahit dan Arabika cenderung asam atau aciditinya lebih tinggi.

“Kopi di Karanganyar yang saya tanam after taste-nya masih ada aroma apel. Karena beberapa tahun lalu Tawangmangu kan sempat menjadi sentra apel dan jeruk,” ungkap Bimo. (Iskandar)

Komentar