Portalika.com [SURAKARTA] – Sebanyak lima juragan batik dan 19 desainer ready to wear siap memamerkan sejumlah koleksi istimewa mereka pada Solo Batik Fashion (SBF) 2025 di Bale Pangenggar, Taman Balekambang Solo, Jateng. Kiprah mereka yang dijadwalkan berlangsung Jumat 3 sampai Minggu, 5 Oktober 2025 ini digelar dalam rangka memperingati 17 tahun Hari Batik Nasional (HBN).
Lima juragan batik itu adalah Batik Danar Hadi, Batik Semar, Batik Iskandartex Solo, Hadinata Batik dan Afif Syakur. Sedangkan desainer ready to wear di antaranya Djongko Rahardjo, Uzy Fauziah, Tuty Adib, Astuty Kharizma, Hanif Aisyah, Joko Widiarto, Brahm Italia, Robby Dion, Batik Pitulungan by Robin dan Hanna dan sebagainya.
Salah seorang desainer, Djongko Rahardjo mengatakan ada sesuatu yang istimewa pada peringatan 17 tahun HBN yang menjadi pembeda banding HPN yang lalu. Di antaranya stage yang digunakan berdimensi besar sesuai standar fashion show.
“SBF kali ini megambil tema Dahulu, Sekarang dan Nanti. Batik memang sudah sejak dahulu ada sehingga bagaimana kita menghargai batik. Sekarang kita sebagai pelaku harus bisa bagaimana memperlakukan batik sebaik mungkin dan Nanti tanggung jawab kita bagaimana batik masih bisa dinikmati generasi selanjutnya,” ujar dia saat konferensi pers di Balekambang, Solo, Kamis, 2 Oktober 2025 petang.
Batik yang akan ditampilkan pada HBN kali ini dinilai merupakan batik sesungguhnya sebagaimana mestinya, bukan tekstil motif batik. Karena itu pada SBF ini, pihaknya berkomitmen harus benar-benar menampilkan batik sesungguhnya.
Jadi, kata Djongko, pihaknya dengan idealism yang dipegang akan menampilkan batik sesungguhnya yang dibuat dengan proses panjang bukan menggunakan tekstil bermotif batik. Pada belaran yang dijadwalkan berlangsung di Balekambang, Solo, Jumat 3 sampai Minggu 5 Oktober 2025 ini, pihaknya siap menampilkan para desainer muda yang sekarang lagi hits.
“Terus terang kami akhirnya harus melihat siapa partisipan yang layak dan akan tampil dalam SBF ini. Pada perhelatan SBF tahun ini kita memang menginginkan yang lebih dibanding kegiatan yang lalu,” tegas dia.
Lebih jauh dia mengungkapkan bagi warga Solo dan sekitarnya yang bisa mendapati batik dengan mudah di sekelilingnya, karena Kota Solo dinilai sebagai salah satu sentra batik Indonesia, mungkin melihat batik sebagai hal biasa atau bosan. Sebab biasanya batik yang mereka lihat hanya dibuat kalau tidak busana ya digunakan daster dan sebagainya. Padahal batik dengan segala proses panjangnya mempunyai fisosifi menarik.
Namun jika batik tulis digarap serius oleh para desainer berpengalaman bisa bernilai ekonomi puluhan juta rupiah. Karena itu pihaknya memilih membidik pasar mereka yang sudah mapan khususnya secara ekonomi.

Dia mengakui generasi muda yang sudah mempunyai penghasilan tertentu menjadi bidikan pasar potensial. Tetapi generasi muda yang belum bekerja atau belum mempunyai penghasilan sendiri tidak menjadi bidikan mereka.
“Bukan mengecilkan anak-anak muda tapi kebanyakan masih banyak yang belum mempunyai uang cukup. Kecuali anak orang kaya mungkin tidak masalah membeli batik puluhan juta rupiah,” ungkap Djongko.
200 Peserta Desain Motif Batik
Sementara itu Rendy selaku penyelenggara mengutarakan pada SBF ini juga akan digelar lomba desainer untuk desain motif batik, desain busana ready to wear. “Nanti pada hari Minggu akan diumumkan siapa pemenangnya,”papar dia
Salah satu lomba itu dilatari atas keinginan agar muncul motif-motif batik yang baru, desain baju baru dan sebagainya. Untuk itu pihaknya juga akan membuat panggung didesain semenarik mungkin.
Rendy menjelaskan pada perhelatan ini Pemerintah Kota Surakarta/Solo menggandeng CV Rama Dian Kencana berkolaborasi dengan Solo Fashion Week merayakan Sweet Seventeen SBF. Rangkaian acara yang digelar bertemakan Dahulu, Sekarang dan Nanti.
Ini merefleksikan perjalanan batik sebagai warisan budaya dari masa lampau, keberadaannya di masa kini, hingga potensinya di masa depan.
Menurut dia, Walikota Solo dalam sambutannya menyampaikan bahwa SBF tidak hanya menjadi panggung mode, tetapi juga panggung kebudayaan yang menghubungkan generasi. Tema tahun ini diharapkan mampu menghadirkan narasi kuat mengenai perjalanan batik sebagai identitas bangsa yang terus berevolusi.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta sebagai bentuk komitmen menjaga dan mengembangkan batik sebagai identitas budaya bangsa. SBF 2025 hadir sebagai jembatan antara tradisi dan inovasi, mengajak masyarakat untuk merayakan batik bukan hanya sebagai warisan, tetapi juga sebagai inspirasi bagi masa depan dengan menampilkan koleksi istimewa dari para pembatik dan desainer ready-to-wear ternama Indonesia.
Diharapkan kegiatan ini bisa menjadi wadah kolaborasi kreatif yang mendorong pertumbuhan industri batik di Indonesia, khususnya industri batik di kota Solo.
Rendy menjelaskan untuk menyemarakkan acara ini juga telah digelar dua kompetisi besar, yaitu lomba desain motif batik dan lomba desain busana ready to wear. Lomba desain motif batik telah melalui proses seleksi ketat dari sekitar 200 peserta menjadi 15 besar.
Sedangkan itu, lomba desain busana ready to wear berhasil menyaring 10 finalis dari total 108 pendaftar. “Penonton juga akan disuguhi penampilan dari Nashwa Accessories, Himpunan Ratna Busana Surakarta, tokoh masyarakat, influencer, make up artist Surakarta, Ledhek Kepunjulen, dan mantan model Solo,” kata dia. (Iskandar)












Komentar