Momentum Penting Penegasan Komitmen Kebangsaan untuk Melestarikan Mahakarya Kebudayaan Indonesia

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] — Peringatan ke-12 Hari Wayang Dunia (HWD) tahun 2026 resmi dibuka Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr Restu Gunawan MHum mewakili Menteri Kebudayaan RI, Prof Dr Fadli Zon, SS, MSc yang berhalangan hadir di Pendapa GPH Joyokusumo ISI Solo, Kentingan, Minggu Pahing, 1 November 2026 malam.

Perhelatan akbar dengan tema “Urubing Blencong: Menjaga Nyala Wayang dari Jagat Lokal ke Panggung Global” ini menjadi momentum penting perenungan sekaligus penegasan komitmen kebangsaan untuk melestarikan mahakarya kebudayaan Indonesia.

banner 300x250

Menteri Kebudayaan RI, dalam sambutannya melalui video yang ditayangkan di Pendapa GPH Joyokusumo ISI Solo menegaskan, wayang bukan sekadar agenda seremoni tahunan, melainkan sebuah manifestasi falsafah hidup bangsa Indonesia.

“Seni pertunjukan ini merangkum sastra, seni rupa, musik, seni peran, hingga nilai-nilai spiritual dan etika peradaban,” papar dia.

Sejak ditetapkan oleh Unesco tahun 2003 sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage (ICH) of Humanity (Warisan Budaya Tak Benda Dunia), wayang telah diakui secara internasional sebagai mahakarya kebudayaan milik dunia yang lahir dari bumi Indonesia dan Nusantara.

Meski demikian, masuknya wayang ke daftar ICH Unesco bukanlah garis akhir, melainkan sebuah tanggung jawab moral dan sejarah yang besar.

Peringatan HWD menjadi pengingat bahwa warisan luhur ini menuntut konsistensi dalam tiga hal utama yaitu perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan dan pembinaan sumber daya manusia (SDM) pewayangan.

BACA JUGA  Jateng Siap Sambut Pemudik Lebaran 2026, H-10 Perbaikan Jalan Pantura Selesai

Tanpa ekosistem yang hidup, pengakuan internasional tersebut hanya akan menjadi catatan sejarah di atas kertas. Merawat wayang berarti merawat identitas, memperkuat karakter bangsa, serta menjaga nilai-nilai kebinekaan Indonesia.

Dalam sambutannya, apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada ISI Solo atas penyelenggaraan ke-12 HWD tahun 2026 ini. Blencong sebagai simbol penerang dalam pewayangan melambangkan nyala semangat dan ketahanan ekosistem seni wayang di tengah arus modernisasi.

“Nyala itu tidak boleh padam dan harus menerangi, tidak hanya merambah ruang-ruang tradisi di jagat lokal, tetapi juga mengepakkan sayap menjangkau panggung-panggung internasional serta ruang digital generasi muda. ISI Solo telah membuktikan peran strategisnya sebagai garda terdepan laboratorium kebudayaan melalui riset, karya inovatif, melahirkan generasi dalang dan pengrawit muda, serta membuka ruang kolaborasi lintas disiplin,” tegas Fadli.

Fadli menjelaskan pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan berkomitmen penuh untuk terus berada di samping para pelaku seni dan lembaga pendidikan seni. Kebudayaan diyakini sebagai fondasi pembangunan bangsa dan mesin penggerak kemajuan.

Salah satu tari-tarian yang disuguhkan saat pembukaan Peringatan ke-12 Hari Wayang Dunia (HWD) tahun 2026 di Pendapa GPH Joyokusumo ISI Solo, Kentingan, Minggu Pahing, 1 November 2026 malam. (Portalika.com/Iskandar)

Menurut dia wayang harus menjadi ruang dialog inklusif, media edukasi karakter, serta media diplomasi budaya yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan roh tradisi.

BACA JUGA  Panic To Magic: Seni Mengolah Krisis Lingkungan

Rektor ISI Solo Ikut Ndalang

Sementgara itu Rektor ISI Solo, Jateng, Dr Bondet Wrahatnala, SSos, MSn, mengutarakan tema peringatan ke-12 HWD XII tahun 2026 ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi perjalanan kebudayaan Nusantara.

Blencong dimaknai sebagai sumber cahaya yang menghidupkan bayangan di atas kelir. Melalui cahayanya, tokoh bergerak, cerita berkembang, dan berbagai nilai kehidupan disampaikan kepada masyarakat.

Rerumping Blencong dapat dimaknai sebagai semangat untuk terus merawat pengetahuan, kreativitas, dan kearifan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menjaga nyala wayang berarti menjaga keberlangsungan kebudayaan bangsa sekaligus membuka ruang agar kekayaan tersebut dapat berkembang dan berdialog dengan masyarakat dunia.

Wayang merupakan kesatuan pengetahuan dan praktik kesenian yang mempertemukan sastra, seni rupa, karawitan, gerak, dramaturgi, serta pemikiran filosofis.

Di dalamnya berlangsung hubungan yang dinamis antara dalang, pendukung pertunjukan, perajin, dan masyarakat penonton.

Namun, tantangan ke depan juga semakin nyata, terutama dengan semakin terbatasnya ruang bagi kekhasan gaya dan kekayaan pewayangan lokal. Sebagian pengetahuan masih tersimpan dalam ingatan para maestro, praktik komunitas, serta bentuk pertunjukan yang semakin jarang dihadirkan.

Pada perhelatan HWD tahun ini, Rektor ISI Solo juga terjun langsung ke kelir untuk tampil mendalang. Ini menjadi simbol kedekatan kepemimpinan kampus dengan praktik kesenian kreatif yang menjadi jati diri ISI Solo.

BACA JUGA  KKN-PPM Unisri 2024 Gelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan dan Perundungan di SD Negeri 2 Sidorejo

Ketua Panitia Peringatan ke-12 HWD, Dr Tatik Harpawati MSn, melaporkan rangkaian kegiatan komprehensif yang digelar sepanjang perhelatan ini. Di antaranya adalah Ruwatan Murwakala yang telah digelar pada siang hari, dilanjutkan dengan Seminar Lakon yang merefleksikan mutiara pengetahuan lewat mitos masyarakat Jawa.

Selain itu, festival ini menyajikan parade pertunjukan yang sangat kaya, mulai dari Wayang Purwa, Wayang Gedog, Wayang Madya, Wayang Dupara, Wayang Glek, pameran seni wayang dari berbagai daerah, hingga pertunjukan inovatif Wayang Intermedia karya mahasiswa Program Studi Pedalangan ISI Solo.

Menurut dia penyelenggaraan ke-12 HWD ini merupakan buah kolaborasi besar antara civitas akademika, tenaga kependidikan, seniman, komunitas, dan para mitra strategis. ISI Solo turut menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta para donatur seperti PT Baskara Sinar Sakti, Prof Dr Yanto, SH, MH, Yayasan Putro Pendowo, serta para tokoh seni seperti Abah Kirun dan seluruh pihak yang terlibat.

Melalui gelaran ke-12 HWD ini, ISI SOLO menegaskan visinya sebagai garda terdepan laboratorium kebudayaan nasional yang siap membawa warisan agung adiluhung Indonesia bersinar terang di cakrawala dunia. (Iskandar)

Komentar