Portalika.com [SURAKARTA] – Krisis lingkungan menjadi isu besar di kehidupan masyarakat modern saat ini. Praktik pembangunan, produksi dan konsumsi yang semakin tidak terbendung tetapi tidak dibarengi dengan kesadaran lingkungan, maka alam yang kemudian dikorbankan.
Sebut saja di Yogyakarta, tanda-tandanya terlihat semakin jelas: udara yang makin panas, sungai yang berubah warna, sampah yang menumpuk tanpa arah di ruang publik, hingga ruang hijau yang terus menyempit.
Situasi ini semakin terasa sejak penutupan TPSa Piyungan, yang mengungkap betapa rentannya sistem pengelolaan sampah kota—sekaligus menunjukkan dampak krisis ekologis di Yogyakarta.
Rasa panik itu muncul bukan hanya karena sampah tak lagi tertampung, tetapi karena kita menyadari bahwa bumi sudah memberi peringatan keras.
Kesempatan untuk menggagas pameran foto bekerjasama dengan mitra lokal di Yogyakarta bisa tercapai melalui Program inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang dirancang oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) di bawah program Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Tim dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang digawangi Endang Purwasari, MA sebagai ketua bersama Dessy Rachma Waryanti SSn, MSn, Varatisha Anjani Abdullah, SS, MA dan Dwi Putri Nugrahaning Widhi, SSn, MSn melakukan pendampingan untuk membuat berkolaborasi membuat karya dengan menggandeng kawula muda.
Tim ISI Surakarta menawarkan kegiatan bertajuk Ekologi Visual Nusantara: Potret Krisis dan Inovasi Seni untuk Kesadaran Lingkungan yang diharapkan dapat memotret krisis ekologis dari suara akar rumput.
Panic to Magic lahir dari ruang keresahan tersebut. Pameran foto ini merupakan hasil kolaborasi dengan Komunitas Seni Jathilan Panggung Perwira di Dusun Panggungharjo, sebuah komunitas yang tumbuh dari semangat warga untuk berkarya, belajar, dan bergerak bersama.
Di tengah situasi lingkungan yang rumit, termasuk dampak dari penutupan TPSa Piyungan, warga Panggungharjo menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil di tingkat dusun.
Pameran yang digelar sejak tanggal 22 November hingga 24 November ini menampilkan karya foto dokumenter, pemutaran film dokumenter, penampilan seni tradisi jathilan, memamerkan kerajinan hasil olah limbah plastik, dan lilin aroma terapi limbah minyak jelantah.
Ragam karya yang dipamerkan dalam pameran ini menangkap perjalanan itu: bagaimana keresahan ekologis, terutama terkait sampah dan perubahan lingkungan di sekitar lingkungan tempat tinggal, menjadi pemantik bagi kreativitas.
Bersama Panggung Perwira, proses ini membuka ruang dialog antara warga dan komunitas untuk memaknai krisis sebagai peluang menciptakan “magic”—keajaiban kecil yang lahir dari tindakan bersama.
Di Panggung Harjo, “magic” itu terlihat dalam bentuk inisiatif warga: cara baru mengelola sampah, kegiatan kampung yang lebih ramah lingkungan, ruang-ruang kreatif yang terbuka untuk anak muda, hingga kolaborasi seni yang mengubah keresahan menjadi gagasan visual yang menggerakkan.
Semua ini menunjukkan bahwa meski krisis terasa besar, harapan dapat tumbuh dari akar rumput. Fajar Budiaji selaku ketua Komunitas Panggung Perwira menyatakan bahwa pameran yang digelar ini memberikan inspirasi pada warga sekitar untuk menyelenggarakan gelar pameran arsip warga.
Yogyakarta, dengan energi budayanya yang kuat, menyediakan konteks yang mempertemukan krisis, komunitas, dan seni. Dari situ, Panic to Magic mengajak kita menyadari bahwa perubahan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar; ia bisa dimulai dari keberanian untuk melihat keadaan apa adanya—dan melakukan sesuatu, sekecil apa pun.
Pameran ini adalah ajakan untuk melihat lebih dekat, merasakan lebih dalam, dan terlibat lebih jauh. Dari keresahan akibat penutupan TPSa Piyungan hingga semangat hidup warga Panggungharjo; dari panik yang kita rasakan bersama hingga keajaiban yang tumbuh dari langkah kolektif.
Inilah perjalanan dari panic menuju magic—perubahan yang lahir dari keberanian, kreativitas, dan kepedulian bersama. (*)
Editor: Triantotus












Komentar