Sembilan Tahun di Jalan Kabut Menuju Cahaya Abuya Thoifur

Abuya dalam kenangan ku (**)

banner 468x60

Aku pertama kali mendengar nama KH Muhammad Thoifur Mawardi sekitar tahun 2000-an. Waktu itu, di telinga masyarakat Purworejo, Magelang, Wonosobo, bahkan sampai Kulon Progo, namanya sudah harum. Orang-orang mengenalnya sebagai kiai kharismatik, alim, dan teguh memegang prinsip tauhid.

Dihormati pemerintah, disegani masyarakat, sekaligus menjadi sandaran umat. Hampir semua orang di perdikan Menoreh tahu siapa Abah Thoifur.

banner 300x250

Namun, aku baru benar-benar menjadi “santri kalong” – datang ngaji tanpa mukim – sejak tahun 2016. Setiap Jumat pagi, aku berangkat dari Kotagede, Yogyakarta, dengan motor tuaku. Kadang sendiri, kadang ditemani istri.

Jalan yang kutempuh panjang: melintasi Godean, Moyudan, menanjak ke kabut Menoreh, lalu turun ke Kaligesing. Kadang hujan, kadang kabut menutup pandangan. Tapi tekad untuk hadir di ngaji membuat semua lelah terbayar.

Pukul sembilan tepat, ngaji dimulai. Abah selalu on time. Kitab yang dikaji bergantian: Tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, atau Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi. Jamaah yang hadir bukan puluhan, tapi ratusan, bahkan kadang ribuan.

Mereka datang dari berbagai kota, berbagai latar belakang organisasi Islam – NU, Muhammadiyah, LDII, Tabligh, PKS, HTI. Semua duduk bersama, tanpa sekat. Di hadapan Abah, semua sama: murid yang haus ilmu.

Abah dikenal sebagai sosok yang sangat wirai, zuhud, dan istiqamah. Pesantrennya, Darut Tauhid, tidak pernah dijadikan ladang bisnis. Santri hanya membayar syahriah Rp5.500 per bulan, dengan uang pendaftaran Rp25.000.

Bahkan anak-anak beliau pun membayar syahriah. Pernah ada cerita seorang santri ketahuan mencuci mobil dengan listrik pondok, Abah marah, “Apa kamu mau mengajarkan kiyaimu jadi maling, Mas?” Begitulah tegasnya Abah menjaga amanah.

Dalam hal rezeki, Abah tidak pernah mengantongi uang bisyarah untuk dirinya. Uang yang beliau dapat saat mengisi kajian selalu dibagikan kepada orang lain. Makan pun sangat sederhana – sekali sehari, dengan lauk seadanya.

“Beliau makan hanya sekali dengan satu lauk,” begitu kata seorang teman ngaji.

Portalika.com/Yuliantoro

Ketegasan Abah juga tampak saat menyikapi pemerintah. Beliau keras menolak kemaksiatan. Namun, ketika bicara soal kewajiban sebagai warga negara, Abah tetap patuh. Pajak motor tuanya yang sudah jadul tetap dibayar. Inilah teladan: kritis, tapi tetap adil.

Di keseharian, Abah dikenal istiqamah dalam ibadah. Seorang santri dalam bercerita, setiap pagi Abah mengulang hafalan Alquran dengan disimakkan kepada santri. Beliau gemar membaca hadits, tafsir, dan sejarah Nabi.

“Itu jalan untuk bertemu Rasulullah,” begitu kata Abah.

Sebelum wafat, pesan terakhir beliau adalah: “Perbanyaklah ngaji kitab-kitab hadits. Karena setiap kali membaca hadits, kita otomatis bertawasul dengan Rasulullah, membaca shalawat, dan mengenal keseharian beliau.”

Abah Thoifur adalah guru sejati. Dari kelas bawah sampai tinggi, dari pagi hingga malam, beliau terus mengajar. Kalau terpaksa bepergian, jadwal ngaji dimajukan, atau sepulangnya langsung dilanjutkan. Disiplin ilmu adalah nafas beliau

Dalam menerima tamu, Abah luar biasa ramah. Siapapun bisa sowan, tanpa janji atau protokoler. Semua tamu yang datang wajib makan lebih dulu, berapapun jumlahnya. Dari rakyat kecil sampai pejabat tinggi, semua diterima.

Banyak yang datang bukan sekadar bertanya agama, tapi juga curhat tentang hidup. Abah mendengarkan, menenangkan, bahkan sering memberi uang.

Abah juga dikenal sering menangis ketika bercerita tentang Rasulullah. Hatinya begitu lembut. Meski sakit, beliau tidak berhenti mengajar, wirid, dan mengulang hafalan Qur’an. Pesantrennya egaliter. Tidak ada jarak feodal antara kiai dan santri. Abah biasa makan satu nampan bersama santri, bercanda sekaligus mendidik mereka dengan kasih sayang.

Di balik ketawaduan itu, Abah sesungguhnya adalah ulama besar. Beliau pernah nyantri di banyak pesantren, termasuk belajar selama 12 tahun di Makkah kepada Sayyid Muhammad Al-Maliki. Karena kealimannya, beliau dipercaya mengajar di sana. Karomahnya banyak dikenal: dari doa-doanya yang mustajab, berjalan di bawah hujan tanpa basah, hingga mimpi-mimpi bertemu Rasulullah SAW yang kemudian terbukti nyata.

Sumur di Rushoifah, Makkah, diberi nama Bi’ru Thoifur karena dibuat berdasarkan petunjuk Rasulullah yang beliau dapat dalam mimpi.

Ketika beliau wafat pada usia 70 tahun, Purworejo diguyur hujan. Ribuan orang datang melayat. Jalan-jalan desa berubah jadi lautan manusia. Aku datang malam itu, dan suasana duka bercampur haru memenuhi udara.

Kini, setiap Jumat pagi terasa sepi tanpa suara Abah menjelaskan Tafsir Jalalain. Namun, warisannya tetap hidup: Pondok Darut Tauhid yang egaliter, sanad ilmu yang bersambung hingga Rasulullah, serta teladan akhlak yang begitu mulia.

Bagiku, sembilan tahun ngaji bersama Abah adalah anugerah terbesar dalam hidup. Dari beliau aku belajar arti istiqamah, keikhlasan, dan cinta sejati kepada Rasulullah. Dan hingga kini, aku masih percaya: hidupku akan berakhir di jalan ngaji dan ibadah, sebagaimana Abah mengajarkan dengan teladannya. (*)

** Yuliantoro, santri warga Yogyakarta

Komentar