Portalika.com [SURAKARTA] – Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS) menyuguhkan pameran berskala internasional yang mempertemukan dunia akademik dengan para seniman profesional dalam dan luar negeri melalui Multiframe #6 bertema “Transcending Boundaries.”
Pameran berlangsung di Jogja Gallery pada 13–18 November 2025 ini menghadirkan keberagaman ekspresi seni yang menafsirkan batas dalam berbagai konteks fisik, sosial, budaya, hingga konseptual sekaligus merespons dinamika global yang terus berubah.
Dalam sambutan pembukaan, Dekan FSRD UNS, Dr Denny Tri Ardianto, DiplArt menegaskan pelampauan batas adalah keniscayaan zaman.
“Seni hari ini tidak lagi dapat dibatasi oleh sekat-sekat disiplin, geografis, maupun politik identitas. Multiframe #6 menjadi bukti bahwa kreativitas selalu menemukan jalan untuk mempertemukan perbedaan dan memperkuat kemanusiaan,” ujarnya.
Pameran ini diketuai Dr Sn Dona Prawita, MHum yang menekankan pentingnya kolaborasi. “Multiframe #6 adalah panggung berbagi ruang. Akademisi, mahasiswa, dan para seniman profesional dari beragam negara berkumpul untuk saling menyapa melalui karya. Sebanyak 151 peserta pameran yang diantaranya adalah seniman luar negeri sebanyak 11 seniman. Inilah saat ketika seni tidak hanya tampil, tetapi berdialog dan berkembang,” ungkapnya.
Kehadiran para tokoh seni dan akademisi memperkuat atmosfer kolaboratif pameran ini. Hadir Kaprodi Seni Rupa, Dr Sigit Purnomo Adi, serta perupa-perupa senior Solo seperti Sulistyo, Gigih, Jaya Adi, Zul dan dihadiri langsung seniman dari Australia Fasih Keiso. Mereka memberi apresiasi terhadap ruang perjumpaan lintas generasi dan wilayah yang terbangun dalam pameran ini.

Multiframe #6 diikuti oleh dosen dan mahasiswa FSRD UNS, alumni, serta seniman profesional dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara, termasuk Bangladesh, Malaysia, Thailand, dan India.
Kurator internasional yang terlibat Sujud Dartanto (Indonesia), Md Imran Hossen (Bangladesh), Nur Adibahnadiahmohd Aripin (Malaysia), Sompron Taemprasit (Thailand), dan Binoy Varghese (India) menjadikan pameran ini sebagai wadah pertukaran gagasan yang luas.
“Seni selalu punya peran untuk merayakan perbedaan sebagai kekuatan,” ujar Sujud Dartanto.
Salah satu peserta pameran Dyah Yuni Kurniwati yang menyajikan berjudul “The Enlightened Leader” karya , yang menggambarkan figur pemimpin tercerahkan dengan memadukan keteduhan spiritual arca Buddha Candi Sewu dan estetika kontemporer.
“Kekuatan seorang pemimpin muncul dari kedamaian yang ia temukan dalam dirinya sendiri,” tutur Dyah mengenai konsep karyanya.
Multiframe #6 bukan hanya ajang presentasi karya seni, tetapi juga ruang untuk menghubungkan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Yang Transenden. Pameran ini menjadi penegasan bahwa seni mampu menembus sekat dan membangun percakapan yang lebih luas bagi kemanusiaan. (*)
Editor: Triantotus












Komentar