Waste to Worth: KKN-T 28 Undip Kenalkan Briket Arang Ramah Lingkungan di Desa Pugeran

banner 468x60

Portalika.com [KLATEN] — Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Lintang Bagas Pangayom dan Ni’mah Afifah Armalia, dari Program Studi Teknik Kimia, telah melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan dengan mengedukasi pemanfaatan limbah sekam padi dan kulit pisang sebagai briket arang.

Kegiatan ini disasarkan kepada ibu-ibu PKK RT 2/RW 4 Desa Pugeran, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten mengingat mayoritas masyarakat desa tersebut bergerak di sektor pertanian padi dan perkebunan pisang.

banner 300x250

Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi sekaligus memberdayakan ibu-ibu PKK di Desa Pugeran agar lebih mandiri dalam mengelola limbah organik serta mengurangi jumlah sampah yang selama ini langsung dibuang tanpa pemanfaatan lebih lanjut.

Selama kegiatan berlangsung, Lintang Bagas Pangayom memberikan materi mengenai pengenalan briket arang, potensi limbah sekam padi dan kulit pisang sebagai bahan baku briket, perbedaan antara briket arang dan arang kayu konvensional, serta tahapan pretreatment awal yang diperlukan sebelum limbah diolah menjadi briket arang.

Penyampaian materi ini kemudian dilengkapi oleh Ni’mah Afifah Armalia, yang menjelaskan alat dan bahan yang dibutuhkan serta langkah-langkah pembuatan briket arang secara sederhana dan aplikatif.

Briket arang dari limbah sekam padi dan kulit pisang ini merupakan salah satu solusi yang aplikatif untuk dilakukan ibu-ibu PKK di Desa Pugeran karena bahan dan alat serta cara pembuatan mudah untuk didapatkan dan dilakukan.

Selain dapat mengurangi limbah sekam padi dan kulit pisang yang melimpah, briket arang ini lebih hemat dan terjangkau dibandingkan dengan gas LPG yang saat ini masih sering dipakai.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan secara ringkas tahapan pembuatan briket arang dari limbah sekam padi dan kulit pisang sebagai bagian dari edukasi teknis kepada peserta. Proses pembuatan diawali dengan pengeringan bahan baku, kemudian dilanjutkan dengan pembakaran tidak sempurna (karbonisasi) hingga terbentuk arang.

Arang yang dihasilkan selanjutnya dihaluskan dan dicampur dengan perekat sederhana seperti tepung kanji, kemudian dicetak sesuai bentuk yang diinginkan dan dikeringkan hingga siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Penjelasan ini diberikan sebagai gambaran praktis agar masyarakat dapat mencoba membuat briket secara mandiri di rumah dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Selain penyampaian materi, kedua mahasiswa juga memfasilitasi sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Dalam sesi ini, ibu-ibu PKK diberi kesempatan untuk bertanya mengenai proses pembuatan briket arang atau tentang kendala dalam mengintegrasikan limbah organik khususnya sekam padi dan kulit pisang yang jumlahnya melimpah.

Diskusi ini sebagai jembatan komunikasi antar mahasiswa dan ibu-ibu PKK untuk mencari solusi bersama dan memperkuat jaringan sosial di antara mahasiswa dan Ibu-Ibu PKK Desa Pugeran. Melalui pendekatan ini, diharapkan masyarakat dapat saling mendukung dan bekerja sama dalam menjadikan limbah lebih bermanfaat dan bernilai jual.

Melalui kegiatan ini, Lintang Bagas Pangayom dan Ni’mah Afifah Armalia berharap program tersebut dapat menjadikan ibu-ibu PKK di Desa Pugeran, Kecamatan Karangdowo, untuk lebih menyadari bahwa limbah memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai jual serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Program ini juga menjadi wujud komitmen Universitas Diponegoro dalam berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat pedesaan yang berkelanjutan. (*)
Editor: Triantotus

Komentar