Kaji Moderasi Islam di Solo, Dosen Unisri Diuji Pakar dari Amerika

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Salah seorang dosen Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo, Jateng, Halifa Haqqi, yang menjalani Ujian Tertutup Program Doktor (S3) Ilmu Politik Islam diuji beberapa pakar perguruan tinggi ternama, baik nasional maupun internasional.

Siaran pers dari Unisri yang diterima Senin, 2 Maret 2026 menyebutkan, ujian yang digelar di Ruang Sidang Doktoral Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat, 20 Februari 2026 itu menghadirkan Dr Hasse Jubba, MA; Prof Dr Zuly Qodir, MAg; Dr Sugeng Riyanto, MSi; dan Dr Suswanta, MSi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; dan Hakimul Ikhwan, MA, PhD dari Universitas Gadjah Mada; serta Prof Robert W Hefner dari Boston University, Amerika Serikat.

banner 300x250

Dalam sidang, Halifa Haqqi mempresentasikan disertasi berjudul “Konstruksi Diskursus Moderasi Islam di Kota Solo Tahun 2019–2024”. Disertasi ini merupakan sebuah penelitian yang mengkaji bagaimana narasi moderasi Islam terbentuk dan berkembang di ruang sosial-politik Kota Solo dalam beberapa tahun terakhir.

Kajian ini menyoroti perubahan konstruksi identitas keagamaan masyarakat dari citra eksklusif menuju praktik keberagamaan yang lebih inklusif dan dialogis.

Disebutkan, peterlibatan Prof Robert W Hefner sebagai penguji menjadi perhatian tersendiri karena dia merupakan akademisi internasional yang memiliki reputasi kuat dalam studi Islam, demokrasi, dan masyarakat sipil di Asia Tenggara.

Kehadiran pakar global tersebut sekaligus mencerminkan tingginya relevansi akademik penelitian mengenai moderasi Islam di Indonesia dalam percakapan ilmiah internasional.

Tantangan Resistensi Kelompok Konservatif
Melalui pendekatan kualitatif, disertasi ini menunjukkan bahwa moderasi Islam di Kota Solo merupakan proses sosial yang berlangsung dinamis dan tidak tunggal. Diskursus moderasi terbentuk melalui interaksi berbagai aktor lokal, termasuk organisasi keagamaan, pemerintah daerah, serta komunitas masyarakat sipil, yang bernegosiasi dalam ruang publik maupun arena digital.

Penelitian ini juga menyoroti adanya tantangan berupa resistensi kelompok konservatif, polarisasi digital, serta potensi instrumentalisasi politik terhadap isu keagamaan. Temuan menarik tersebut menegaskan bahwa moderasi Islam tidak dapat dipahami sebagai kondisi yang statis, melainkan sebagai proses sosial berkelanjutan yang terus diproduksi melalui praktik sosial dan diskursus publik.

Sebagai dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Unisri, capaian akademik ini diharapkan semakin memperkuat kontribusi institusi dalam pengembangan kajian hubungan internasional, politik Islam kontemporer, serta isu moderasi beragama yang relevan baik pada level nasional maupun global.

Partisipasi dosen Unisri dalam forum akademik doktoral bertaraf internasional ini sekaligus menjadi wujud komitmen universitas dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset, dan reputasi akademik di tingkat nasional dan internasional. (Iskandar)

Komentar