Portalika.com [YOGYAKARTA] — Dulgabul menghadirkan pengalaman kuliner yang berbeda di tengah ramainya persaingan tempat makan di Yogyakarta. Kedai yang berdiri di Jalan Onggomertan Utara No 30, Nayan, Maguwoharjo, Sleman, itu tidak hanya menawarkan semangkuk Bakmi Jawa dan secangkir kopi, melainkan menghadirkan cerita tentang tradisi yang bertemu inovasi dalam satu meja makan.
Heru Kuswanto bersama Helena membangun Dulgabul berangkat dari kecintaan terhadap Bakmi Jawa, kuliner legendaris yang telah diwariskan turun-temurun dalam keluarga mereka.
Resep keluarga tetap dipertahankan sebagai fondasi utama agar cita rasa otentik tidak hilang di tengah berkembangnya tren kuliner modern.
Setiap porsi bakmi dimasak dengan rempah khas Jawa yang menghasilkan rasa gurih, hangat, sekaligus akrab bagi penikmatnya. Bakmi Jawa sendiri lahir dari perjumpaan budaya Tionghoa dan Jawa.
Penggunaan mi kuning menjadi jejak pengaruh kuliner Tionghoa, sementara kekayaan rempah, kecap manis, dan teknik memasak tradisional memberikan identitas yang sangat Jawa.
Perpaduan tersebut menjadikan Bakmi Jawa sebagai salah satu ikon kuliner Yogyakarta yang terus bertahan melintasi zaman.
Nama Dulgabul turut menghadirkan daya tarik tersendiri. Istilah yang akrab dalam percakapan masyarakat Jawa itu kerap digunakan sebagai ungkapan ringan kepada seseorang yang keras kepala atau sulit diberi tahu, namun tetap disampaikan dengan nada akrab dan penuh kasih.
Nuansa hangat itulah yang ingin dihadirkan kepada setiap pengunjung, yakni suasana santai layaknya berkumpul bersama keluarga dan sahabat.
Pilihan menu utama terdiri atas Bakmi Godhog, Bakmi Goreng, dan Bakmi Nyemek. Bakmi Godhog menawarkan kuah kaldu ayam kampung yang kaya rempah dan terasa menenangkan.
Bakmi Goreng menghadirkan perpaduan mi, telur bebek, suwiran ayam, sayuran, serta kecap manis yang menghasilkan rasa gurih-manis khas Jawa. Sementara Bakmi Nyemek menjadi pilihan menarik karena teksturnya berada di antara bakmi rebus dan goreng sehingga bumbu terasa lebih meresap pada setiap helai mi.
Keunikan Dulgabul semakin terasa melalui kolaborasi dengan Sellie Coffee milik Imam Wisnu Birowo yang telah berkecimpung di dunia kopi lebih dari 16 tahun.
Kolaborasi tersebut melahirkan konsep Prasmanan Kopi, sebuah pengalaman yang memberi kesempatan kepada pengunjung memilih sendiri biji kopi, menentukan komposisi Arabika maupun Robusta, hingga menyaksikan proses roasting secara langsung.
Pengalaman itu berlanjut ketika kopi hasil roasting dapat langsung diseduh tanpa harus menunggu proses resting sebagaimana lazim dilakukan pada metode konvensional.
Pengunjung bahkan dapat mengikuti sesi cupping untuk mengenali aroma, body, tingkat keasaman, dan karakter rasa dari racikan mereka sendiri. Proses tersebut menjadikan setiap cangkir kopi terasa lebih personal karena lahir dari pilihan dan selera masing-masing.
Menu minuman juga menawarkan berbagai kreasi yang menarik. Dulgabul Latte menjadi salah satu andalan karena memadukan karakter latte dengan cita rasa Bajigur yang kaya rempah.
Perpaduan itu menghasilkan sensasi creamy, hangat, sekaligus menghadirkan sentuhan tradisional dalam sajian modern. Pilihan lain seperti Sandyakala, Arunica, Satapatri, Tehpoci, dan Wedang Oewoeh semakin melengkapi pengalaman bersantap di kedai ini.
Dulgabul menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai kenangan masa lalu. Semangkuk Bakmi Jawa dan secangkir kopi spesial justru menjadi jembatan yang menghubungkan warisan kuliner dengan gaya hidup masa kini.
Setiap hidangan membawa pesan sederhana bahwa rasa terbaik lahir dari ketulusan menjaga tradisi sekaligus keberanian menghadirkan pengalaman baru bagi setiap orang yang datang. (Yuliantoro/*)












Komentar