Portalika.com [KLATEN] – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan program edukasi berbasis ilmu pengetahuan untuk mendorong pemanfaatan potensi lingkungan dan peningkatan keterampilan masyarakat di Desa Blimbing, Kabupaten Klaten.
Dua program monodisiplin ini mengangkat pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi Pupuk Organik Cair (POC) serta pembuatan sabun cuci piring cair untuk kebutuhan rumah tangga.
Kedua program tersebut dilaksanakan pada Minggu, 2 Agustus 2026 oleh mahasiswa dari bidang keilmuan yang berbeda. Program pemanfaatan limbah kulit pisang dilaksanakan Femilia Yulianisyah, Program Studi Biologi, sedangkan edukasi pembuatan sabun cuci piring cair dilaksanakan Salwa Azzura Zein dari Program Studi Kimia.
Keduanya dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan masyarakat menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Olah Limbah Kulit Pisang Jadi Pupuk Organik Cair
Program yang dilaksanakan Femilia Yulianisyah berfokus pada pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan dasar Pupuk Organik Cair (POC). Kulit pisang dipilih karena mudah ditemukan dari aktivitas rumah tangga maupun pengolahan makanan, tetapi masih sering berakhir sebagai sampah dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diberikan edukasi mengenai potensi kulit pisang sebagai bahan organik yang dapat diolah menjadi produk bermanfaat. Femilia menjelaskan tahapan pengolahan mulai dari persiapan bahan, pemotongan kulit pisang menjadi bagian yang lebih kecil, pencampuran dengan bahan pendukung, hingga proses fermentasi dengan bantuan EM4.
Selain proses pembuatan, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai cara menggunakan POC untuk tanaman. Pendekatan praktik secara langsung diterapkan agar warga tidak hanya memahami proses secara teori, tetapi juga memiliki gambaran untuk mengolah limbah organik secara mandiri di rumah.
Pemanfaatan kulit pisang menjadi POC sekaligus memperkenalkan konsep ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga, yaitu mengubah bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi produk yang masih memiliki nilai guna.
Antusiasme warga terlihat dari ketertarikan untuk mencoba memanfaatkan POC bagi tanaman di rumah. Dewi, salah satu warga Desa Blimbing, menyampaikan dirinya memiliki banyak tanaman dan tertarik untuk mencoba menggunakan POC dalam perawatan tanaman sehari-hari.
“Di rumah saya banyak tanaman, jadi saya tertarik untuk mencoba menggunakan POC ini untuk sehari-hari. Kalau hasilnya bagus, saya bisa terus menggunakannya dan kulit pisang yang biasanya dibuang bisa dimanfaatkan,” ujar Ibu Dewi.
Kenalkan Pembuatan Sabun Cuci Piring Berbasis Kimia Terapan
Tidak hanya mengangkat isu lingkungan, mahasiswa KKNT Undip juga menghadirkan program yang berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga. Salwa Azzura Zein dari Program Studi Kimia melaksanakan edukasi dan pendampingan pembuatan sabun cuci piring cair kepada ibu rumah tangga di Desa Blimbing.
Berbeda dengan kegiatan yang dilakukan secara berkelompok, edukasi pembuatan sabun dilaksanakan dengan metode door to door. Salwa mengunjungi rumah warga dan memberikan penjelasan sekaligus demonstrasi secara langsung, sehingga ibu rumah tangga dapat berinteraksi dan melihat proses pembuatan sabun secara lebih dekat.
Dalam kegiatan tersebut, ibu rumah tangga diperkenalkan dengan bibit sabun sebagai bahan konsentrat yang dapat diencerkan menggunakan air untuk menghasilkan sabun cuci piring cair.
Edukasi juga mencakup konsep pengenceran serta fungsi surfaktan sebagai zat aktif yang membantu mengangkat minyak dan lemak dari permukaan peralatan makan sehingga lebih mudah dibilas dengan air.
Setelah penjelasan, Salwa mendemonstrasikan proses pembuatan mulai dari pengukuran air, pencampuran bibit sabun secara perlahan, pengadukan hingga homogen, hingga pengemasan produk. Penggunaan bahan secara aman dan cara penyimpanan sabun juga turut dijelaskan.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari warga. Ibu Ida, salah satu ibu rumah tangga yang mendapatkan edukasi dan sabun hasil praktik, mengaku baru mengetahui bahwa sabun cuci piring dapat dibuat menggunakan bibit sabun.
“Saya baru tahu kalau sabun cuci piring bisa dibuat dari bibit sabun seperti ini. Selama ini saya kira membuat sabun itu harus menggunakan banyak bahan dan prosesnya sulit. Ternyata cukup sederhana. Menurut saya, ini bisa menjadi peluang usaha kalau dibuat lebih banyak dan dijual,” ujar Ida.
Menurut Ida, sabun cuci piring merupakan produk yang digunakan setiap hari sehingga keterampilan tersebut tidak hanya bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi usaha sederhana.
Menghubungkan Ilmu dengan Kebutuhan Masyarakat
Kedua program tersebut menunjukkan bagaimana ilmu bidang Biologi dan Kimia dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Program POC memanfaatkan proses pengolahan dan fermentasi bahan organik untuk mengubah limbah kulit pisang menjadi produk yang dapat digunakan bagi tanaman.
Sementara itu, program pembuatan sabun menerapkan konsep Kimia seperti pengenceran, pencampuran, dan fungsi surfaktan dalam menghasilkan produk pembersih rumah tangga.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh hasil produk, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan kembali secara mandiri.
Pemanfaatan limbah kulit pisang diharapkan dapat membantu mengurangi limbah organik rumah tangga, sedangkan keterampilan membuat sabun dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun peluang usaha rumahan.
Antusiasme warga selama kegiatan juga menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat terhadap program yang bersifat praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Diskusi berlangsung mengenai bahan yang digunakan, proses pembuatan, cara pemanfaatan produk, hingga kemungkinan untuk menerapkannya kembali setelah kegiatan KKN berakhir.
Melalui program monodisiplin yang dilaksanakan oleh Femilia Yulianisyah dari Program Studi Biologi dan Salwa Azzura Zein dari Program Studi Kimia, mahasiswa KKNT Undip berharap ilmu yang diberikan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Blimbing.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan potensi lingkungan dan kebutuhan masyarakat melalui penerapan yang sederhana, praktis, dan berkelanjutan. (*)
Editor: Triantotus












Komentar