Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia, Mahasiswa KKN Undip Sulap Kotoran Ternak Jadi Pupuk Organik di Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri

banner 468x60

17/8, 12.28]

Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik” oleh Mahasiswa KKN TIM II UNDIP Desa Pule pada 10 Agustus 2026. (Portalika.com/Ist)

banner 300x250

Leaflet edukasi pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi yang disusun Tim II KKN Undip 2025/2026. (Portalika.com/dok Tim II KKN Undip)

 

Portalika.com [WONOGIRI] — Sepuluh mahasiswa Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tahun Akademik 2025/2026 menginisiasi program multidisiplin bertajuk Olah Limbah, Panen Manfaat: Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik di Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Program yang berlangsung pada 10 Agustus 2026, yang digagas sebagai respons terhadap permasalahan yang disampaikan oleh Kelompok Tani (Poktan) setempat terkait penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, sehingga berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kesuburan tanah dan kesehatan masyarakat.

Desa Pule dikenal sebagai desa dengan status Desa Mandiri dan skor Indeks Desa Membangun (IDM) tertinggi di Kecamatan Selogiri. Perekonomian warganya banyak ditopang dari sektor pertanian dengan padi sebagai komoditas utama.

Meskipun tergolong sebagai desa maju, ketergantungan petani terhadap pupuk kimia masih cukup tinggi. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dan tidak terkendali berpotensi menurunkan kualitas serta kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa KKN mendorong pemanfaatan limbah organik yang tersedia di sekitar warga, seperti kotoran ternak sapi dan limbah perikanan, sebagai bahan baku pupuk organik atau yang lebih dikenal dengan pupuk kandang.

Leaflet edukasi pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi yang disusun Tim II KKN Undip 2025/2026. (Portalika.com/dok Tim II KKN Undip)

Selain lebih ramah lingkungan dan bersahabat bagi kesehatan, pupuk ini dinilai mampu memperbaiki kesuburan tanah secara alami tanpa efek samping yang kerap ditimbulkan oleh pupuk kimia.

7 Tahap, Dari Kotoran Ternak Hingga Siap Jual

Kegiatan diawali dengan pengambilan kotoran ternak langsung dari peternak sebagai bahan baku utama, yang selanjutnya dilakukan penjemuran hingga kondisi semi-kering.

Kotoran ternak kemudian dicampur dengan bahan tambahan seperti EM4, molase, dan kapur pertanian, diaduk hingga merata, lalu ditutup rapat agar proses fermentasi berjalan optimal.

Proses fermentasi dan penjemuran berlangsung selama dua hingga empat minggu, dengan pembalikan secara berkala hingga tekstur dan kadar air pupuk sesuai standar. Setelah matang, pupuk dikemas menggunakan karung sesuai ukuran dan siap dipasarkan kepada petani, warga, maupun dipromosikan melalui media sosial.

Kolaborasi dari Berbagai Disiplin Ilmu

Program ini menjadi wujud nyata kolaborasi lintas disiplin ilmu. Mohammad Ridho Yanuardi (Ilmu Hukum) menyosialisasikan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah sebagai landasan hukum pengelolaan limbah organik.

Portalika.com/dok Tim KKNT Undip Semarang)

Tanaya Helga Fidelya (Teknologi Hasil Perikanan) mengedukasi warga terkait pemanfaatan limbah perikanan sebagai bahan tambahan pupuk, Irfan Riski Wijaya (Ilmu Komunikasi) berperan mengoordinasikan dan memobilisasi masyarakat, sementara Montana Ester Ayomi (Ilmu Keperawatan) menyampaikan edukasi mengenai dampak pupuk kimia terhadap kesehatan.

Alya Nabila Putri Larasati (Bioteknologi) memaparkan proses pembuatan dan manfaat pupuk kompos bagi lingkungan, Indah Dhita Sari Sitorus (Akuntansi Perpajakan) menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan Gabriel Adriano Dwi Putra (Manajemen dan Administrasi Logistik) mengatur pengadaan alat dan bahan, distribusi, hingga penyimpanan hasil produksi.

Sementara itu, Nevin Aldora Kayana (Teknik Komputer) merancang desain kemasan produk, Valentina Melani Putri (Antropologi Sosial) melakukan pendekatan dan pemberdayaan masyarakat, dan Zahra Octavia Ramadani (Sastra Inggris) menyusun label komposisi (ingredients) pada kemasan pupuk.

Bernilai Ekonomi dan Mengutamakan Keselamatan Kerja

Tim KKN turut menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) pupuk kandang sebagai bekal bagi Poktan untuk mengembangkan produk ini menjadi peluang usaha. Dari perhitungan bahan baku berupa EM4, molase, kotoran sapi, dan kemasan, diperoleh HPP sebesar Rp5.100 per kilogram, dengan saran harga jual berkisar antara Rp6.630 hingga Rp7.650 per kilogram atau setara margin 30–50 persen.

Aspek keselamatan kerja juga tidak luput dari perhatian. Warga diimbau untuk selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa sarung tangan, masker, sepatu boots, apron, dan kacamata pelindung selama proses pembuatan pupuk. Pesan utama yang digaungkan dalam kegiatan ini adalah: “Utamakan pupuk kandang, gunakan pupuk kimia seperlunya, dan tetap utamakan keselamatan.”

Disambut Antusias, Diharapkan Berkelanjutan

Ketua Poktan Dusun Jetak, Alex mengaku program ini sangat membantu petani di Desa Pule. “Sosialisasi Pembuatan Pupuk Kandang sangat baik dan disambut antusias yang tinggi.” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa KKN berharap masyarakat Desa Pule, khususnya anggota Kelompok Tani, dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pupuk pertanian secara berkelanjutan, sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis produk lokal ramah lingkungan yang dapat mendukung program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ke depannya. (*)

Editor: Triantotus

Komentar