Portalika.com [SURAKARTA] – Festival Wayang Kayu Nusantara di Sanggar Wayang Gogon, Kampung Seni Kentingan dan UMKM Asri, Jebres, Surakarta, tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni. Gelaran yang berlangsung 28 September hingga 2 Oktober 2026 tersebut menjadi ruang untuk mengembangkan inovasi pewayangan sekaligus memperkuat regenerasi seni budaya di Kota Surakarta.
Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani mengapresiasi penyelenggaraan festival yang mampu menghadirkan tradisi dengan pendekatan kreatif sehingga tetap dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut Astrid, kebudayaan tidak cukup hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu. Tradisi harus terus dikenalkan, dikembangkan, dan diberi ruang agar dapat diterima serta diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Saya juga mengapresiasi banyak inovasi bagaimana budaya tetap kita jaga, tetap kita lestarikan dengan berbagai karya, berbagai bentuk, dan alhamdulillah bisa diterima dengan baik dengan penuh antusias,” ujar Astrid, Jumat, 2 Oktober 2026.
Festival Wayang Kayu Nusantara merupakan program Dana Indonesia 2025 melalui pemanfaatan hasil kelola Dana Abadi Kebudayaan, Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan kategori Pendayagunaan Ruang Publik.
Salah satu inovasi yang ditampilkan adalah pengembangan wayang purwa berbahan kayu yang dibuat pipih dan dapat digerakkan seperti wayang kulit. Pewarnaannya menggunakan teknik batik yang dirancang lebih tahan terhadap perubahan cuaca.
Selain pertunjukan, rangkaian festival diisi pameran dan workshop pembuatan wayang kayu. Kegiatan juga melibatkan seniman muda serta anak-anak dari jenjang TK hingga SMA sebagai bagian dari proses regenerasi seni tradisi.
Pada pembukaan festival, Restu Gunawan, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia hadir sekaligus membuka Festival Wayang Kayu Nusantara.
Panitia menyerahkan cinderamata dari Sanggar Wayang Gogon kepada Restu Gunawan dan Astrid Widayani. Selain itu, Restu Gunawan menyerahkan gunungan wayang kayu kepada Ki Dalang Sasmita Raras dan Ki Dalang Krisna Alfarendra.
Penyerahan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembukaan sekaligus simbol dukungan terhadap keberlanjutan pengembangan wayang kayu sebagai bagian dari kekayaan seni tradisi.
Astrid mengatakan keterlibatan anak-anak menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan. Festival, menurut dia, dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk tidak hanya menonton, tetapi juga mengenal proses, belajar, dan terlibat langsung dalam berkesenian.
“Warisan budaya itu salah satunya memberikan wawasan seluruh masyarakat, khususnya anak-anak kita, agar memahami pesan-pesan dari cerita sejarah maupun budaya terus dilestarikan sampai kapan pun, sampai masa mendatang,” katanya.
Menurut Astrid, Surakarta memiliki posisi penting dalam perkembangan wayang karena memiliki tradisi pewayangan yang kuat sekaligus ekosistem masyarakat dan komunitas seni yang terus bergerak. Karena itu, pengembangan budaya perlu dilakukan bersama dengan melibatkan sanggar, masyarakat, sekolah, pemerintah, hingga pelaku ekonomi kreatif.
Hal tersebut terlihat dari keberadaan Kampung Seni Kentingan dan UMKM Asri yang berkembang tidak hanya sebagai ruang berkesenian, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat.
Kawasan tersebut turut mengembangkan mural bertema wayang, UMKM, penghijauan, hingga kegiatan edukasi seni.
Festival Wayang Kayu Nusantara sekaligus menunjukkan bahwa tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya. Kreativitas justru dapat menjadi jalan bagi kesenian tradisional untuk menemukan bentuk baru dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Tradisi tidak harus kehilangan jati diri ketika berkembang. Dengan kreativitas, tradisi dapat menemukan cara baru untuk hadir dan menjangkau masyarakat yang lebih luas,” jelasnya.
Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kekuatan festival. Dalam pembukaan, siswa Sanggar Wayang Gogon tampil membawakan Tari Gambyong Putri Solo. Mereka juga terlibat dalam proses berkesenian sebagai bagian dari pembelajaran dan regenerasi di sanggar.
Puncak festival menghadirkan pertunjukan kolosal yang memadukan lima elemen seni dalam satu panggung, yakni wayang orang, seni tari, wayang golek, wayang kayu, dan wayang kulit. Pertunjukan tersebut mengangkat kisah pewayangan yang dipadukan dengan sejarah Kota Solo.
Konsep kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa wayang dapat terus berkembang melalui pertemuan berbagai bentuk seni. Pertunjukan juga menjadi ruang untuk memperkenalkan wayang kayu kepada masyarakat dalam bentuk yang lebih kreatif dan atraktif.
Upaya regenerasi tersebut sejalan dengan kegiatan Sanggar Wayang Gogon sebelumnya. Pada April 2026, sanggar tersebut juga menggelar Festival Dalang Cilik dan Tari yang melibatkan sekitar 200 dalang dan penari cilik dalam pagelaran kolosal. (Ariyanto)











Komentar