Portalika.com [KENDAL] — Dalam upaya mengoptimalkan potensi lokal dan memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan, Tim Pengabdian Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah Ruang Lingkup Desa Binaan kolaborasi Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) sukses melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal.
Mengusung pendekatan “Hilirisasi Budaya Berbasis Experience Tourism” melalui metode Participatory Action Research (PAR), program ini berhasil mentransformasi potensi budaya pasif menjadi sektor industri kreatif yang mandiri, produktif, dan berdaya saing.
Program kolaboratif ini diketuai Triyono, SH, MKn (Universitas Diponegoro), dengan melibatkan anggota tim pengabdian kepada masyarakat, yaitu Dr Fuad Muhammad, SSi, MSi (Universitas Diponegoro), Yanuar Yoga Prasetyawan, SHum, MHum (Universitas Diponegoro), dan Dr Mastur, SH, MH (Universitas Wahid Hasyim).
Menjawab Tantangan Melalui Inovasi, Teknologi Tepat Guna (TTG), dan Aksi Nyata
Pelaksanaan program pada tahun pertama berfokus pada penyelesaian permasalahan mendasar di dua mitra strategis, yakni Paguyuban Seni Barongan “Putro Setyo Budoyo” dan Pokdarwis Tawang Laut (pengelola Kawasan Wisata Pantai Moro Istimewa/Moris). Mitra seniman sebelumnya menghadapi kendala berat berupa kerusakan gamelan yang ada akibat korosi sea mist, tingginya biaya sewa gamelan dan kostum (high cost economy yang menguras 40–50% pendapatan), serta minimnya paket wisata yang siap jual.
Sementara itu, pengelola wisata pesisir menghadapi tantangan ketergantungan pada panorama alam (nature-dependency) tanpa adanya atraksi buatan (man-made attraction).
Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim pengabdian menghadirkan intervensi komprehensif melalui penerapan teknologi keras (hard technology) dan lunak (soft technology). Di sektor seni, tim menyerahkan seperangkat instrumen gamelan besi/baja anti-korosi lengkap (meliputi 2 unit Demung, 2 unit Saron, 5 unit Kempul, 1 unit Gong Suwuk, 1 unit Gong Ageng, 1 unit Gayor Naga, 1 set Kendang Jaipong, 1 kendang sabet, dan 1 set bonang), implementasi storage gamelan yang aman, inovasi properti Barongan berteknologi efek visual sensor gerak (mata LED Barong), serta pelatihan koreografi sendratari compact performance berdurasi ideal 60–90 menit.
Di sektor pariwisata, diserahkan seperangkat sound system outdoor profesional untuk mendukung kemandirian penyelenggaraan event, pembangunan spot foto tematik “I LOVE MORIS” berteknologi lampu sensor cahaya, perancangan fasilitas destinasi (sunset viewing deck, jalur pedestrian), hingga digitalisasi promosi melalui pembuatan website profil destinasi, video sinematik, dan filter TikTomenit
Program ini juga diwarnai dengan aksi nyata melalui kegiatan pelestarian lingkungan “Gugur Gunung Green Action” serta uji coba ruang publik lewat penyelenggaraan event rintisan “Pasar Budaya” yang mengkolaborasikan pentas seni dan bazar kuliner.
Penguatan Tata Kelola, Legalitas Formal, dan Dampak Nyata
Selain penyediaan sarana fisik dan digital, program ini juga menitikberatkan pada penguatan kapasitas manajerial (capacity building) dan legalitas formal. Kedua mitra didampingi dalam penyusunan AD/ART organisasi, dokumen Grand Design Organisasi (GDO), pengurusan NIB serta sertifikasi halal self declare bagi UMKM lokal (seperti UMKM Sekar Wilujeng), pendaftaran Hak Cipta (HAKI) seni barongan, hingga penerbitan Surat Keputusan (SK) resmi dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar).
Implementasi teknologi dan pendampingan ini terbukti memberikan dampak (impact) transformatif yang signifikan. Beban pengeluaran sewa alat luar berhasil dipangkas secara drastis, frekuensi latihan dan pementasan mandiri meningkat, serta durasi kunjungan wisatawan (length of stay) dan tingkat pengeluaran wisatawan (spending of money) di kawasan wisata turut terdongkrak secara positif.
Kesuksesan pelaksanaan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan dan sinergi berbagai pihak. Tim Pengabdian Masyarakat menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, yang telah mendanai kegiatan pengabdian ini melalui skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah Ruang Lingkup Desa Binaan Tahun Anggaran 2026 sesuai kontrak pelaksanaan kegiatan: Nomor Kontrak Induk: 148/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Nomor Kontrak Turunan: 255-3/UN7.D2/PM/IV/2026.
Melalui sinergi penerapan teknologi, penguatan legalitas, dan pemberdayaan masyarakat ini, diharapkan Paguyuban Barongan “Putro Setyo Budoyo” dan Pokdarwis Tawang Laut dapat terus berkembang menjadi lembaga yang mandiri, profesional, serta memberikan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat Desa Gempolsewu secara berkelanjutan. (*)
Editor: Triantotus












Komentar