ISI Surakarta Selamatkan Warisan Budaya Via Pengelolaan Arsip Kolaboratif di Solo Raya

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] — Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jateng melalui Unit Penunjang Akademik Dokumentasi dan Koleksi Seni (UPA Doksen) bekerja sama dengan Unit Kearsipan ISI Surakarta sukses menggelar forum strategis Bincang Arsip #2 Tahun 2026 di Pendapa Galeri FSRD ISI Surakarta.

Siaran pers dari ISI yang diterima belum lama ini menyebutkan, kegiatan ini mengusung tema “Penyelamatan Warisan Budaya melalui Pengelolaan Arsip Kolaboratif.”

banner 300x250

Kegiatan ini menjadi ruang penting untuk bertukar gagasan, sekaligus menjaring peluang kerja sama konkret antarlembaga dalam melestarikan arsip seni dan budaya, khususnya di wilayah Solo Raya.

Forum prestisius tersebut dihadiri oleh perwakilan dari berbagai instansi penting, di antaranya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus/Dispusip) se-Solo Raya, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Kota Surakarta, Lembaga Kearsipan Perguruan Tinggi (LKPT), Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Surakarta, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran Surakarta, Museum Samanhoedi Surakarta, serta jajaran arsiparis profesional ISI Surakarta.

Kepala UPA Doksen ISI Surakarta, Irvan Muhamad Nursyahid, SKom, MM, menyampaikan bahwa arsip memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga memori kolektif masyarakat. Menurutnya, kerja kearsipan tidak bisa berjalan sendiri.

“Pengelolaan arsip tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan sebagai penjaga dan pelestari agar arsip dapat diidentifikasi, diolah, serta dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber informasi. ISI Surakarta memiliki peluang besar membangun kolaborasi ini melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat [PKM],” ujar Irvan.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik ISI Surakarta, Dr Drs HM Arif Jati Purnomo, MSn, yang membuka acara secara resmi, menguraikan peran vital arsip dalam menghidupkan kembali warisan budaya yang sempat hilang dari ruang pertunjukan.

Dia mencontohkan mahakarya tari klasik Bedhaya Bedhah Madiun yang kini tinggal nama, namun berpotensi direkonstruksi berkat adanya arsip naskah tua Serat Pesinden.

“Arsip bukan kuburan masa lalu, arsip adalah benih yang harus disirami. Tanpa arsip, karya-karya adiluhung berpotensi tidak dapat dilahirkan kembali. Arsip adalah karakter, jati diri, identitas [DNA] kebudayaan yang menyimpan jejak perjalanan seni dan budaya suatu bangsa. Upaya penyelamatan arsip saat ini adalah investasi masa depan, sehingga forum ini harus berkembang menjadi gerakan moral lintas batas,” tegas Arif Jati.

Sultan HB X Telusuri Leluhur di Sragen

Memasuki sesi diskusi, pemantik pertama Jamal, SIP, MA mengajak para peserta melihat arsip dari sudut pandang identitas budaya. Dia mencontohkan momen ketika Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menelusuri memori kolektif leluhur di wilayah Sragen, yang membuktikan bahwa kepingan sejarah masa lalu harus terus dihubungkan agar tidak terputus antar-generasi. Jamal lantas menawarkan pendekatan post-custodial sebagai pijakan kerja sama baru.

“Sudah waktunya kita yang berada dalam ikatan karakter, jati diri, dan identitas kebudayaan yang berdekatan saling membangun komunikasi untuk bertukar informasi. Melalui pendekatan post-custodial, fokus kita bukan lagi pada siapa yang menyimpan arsip secara fisik, melainkan bagaimana informasi tersebut dapat diakses, dikembangkan, dan dimanfaatkan bersama. Kita juga perlu mengaktivasi arsip yang bersifat ‘wingit’ atau tersembunyi lewat peran aktif arsiparis yang jeli menggali rasa penasaran publik,” jelas Jamal.

Sebagai pembicara kedua, Wahyu Widyasih, SSos, MSi menutup esensi diskusi dengan menekankan pentingnya sinergi lintas sektor yang melibatkan perguruan tinggi, museum, perpustakaan, dinas kearsipan, hingga komunitas seni lokal.

“Setiap lembaga memiliki sumber daya, pengetahuan, dan pengalaman yang unik untuk saling melengkapi. Bincang Arsip #2 ini diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi semata, tetapi menjadi momentum awal untuk membangun jejaring kolaborasi yang nyata, demi menyelamatkan serta memanfaatkan arsip sebagai sumber ilmu pengetahuan,” tutur Wahyu.

Melalui pengelolaan yang kolaboratif, arsip seni dan budaya kini tidak lagi sekadar rekaman usang masa lalu. Bagi ISI Surakarta, langkah ini menjadi komitmen nyata untuk memastikan nilai-nilai luhur dari generasi terdahulu tetap hidup, relevan, andal, dan dapat dipelajari oleh generasi masa depan sebagai penguat identitas bangsa. (Iskandar)

Komentar