Mantan Penata Tari Madonna Dikukuhkan Jadi Profesor di ISI Solo…

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] — Mantan penata tari penyanyi pop legendaris dunia asal Amerika, Madonna, Dr Dr Eko “Pece” Supriyanto, SSn, MFA dikukuhkan menjadi guru besar (Gubes) di Pendapa Djojokusumo ISI Solo, Kentingan, Rabu, 28 Oktober 2026 malam.

Dengan pengukuhan tersebut Eko secara resmi berhak menyandang gelar profesor dalam ranting ilmu/kepakaran Koreografi pada ISI Solo. Karenanya deretan gelarnya bertambah satu lagi menjadi Prof Dr Dr Eko Supriyanto, SSn, MFA.

banner 300x250

Selain dihibur dengan berbagai tari-tarian, pengukuhan Gubes ini mendapat aprisiasi dari Menteri Kebudayaan (Hon) Dr Fadli Zon, MSc, Menteri Pariwisata tahun 2020-2024, Sandiaga Uno juga sejumlah rektor di Indonesia dan tokoh masyarakat lainnya melalui karangan bunga.

Karangan bunga ucapan selamat atas pengukuhan Eko sebagai Gubes berderet di depan tempat pengukuhan di Pendapa Djojokusumo ISI Solo kampus Kentingan. Hal ini sempat menyita perhatian pengguna jalan yang melintas di dekat Pendapa Djojokusumo ISI Solo.

Laki-laki kelahiran Banjar, Jateng, 26 November 1970 ini berpendapat gelar Gubes membawa semangat baru bagi dunia seni pertunjukan di Indonesia.

Eko yang pernah ditunjuk penyanyi pop kondang asal Amerika, Madonna menjadi penata tari untuk 268 kali konsernya di berbagai Negara ini mengatakan perolehan gelar akademik tertinggi ini bukan sekadar pencapaian personal, melainkan momentum penting untuk membuktikan bahwa seni, khususnya seni tari dan koreografi, memiliki posisi yang setara, sebanding, serta mampu berdampingan dengan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya.

BACA JUGA  Polisi Kartasura Ungkap Dua Kasus Pencurian di Perusahaan, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah

“Seni tari—baik bentuk tradisi, kontemporer, maupun ragam kreasi lainnya—harus terus dikuatkan dan diimbangi secara keilmuan agar mampu bersaing, berdaya guna, dan berdampingan di kancah nasional maupun internasional,” tegas dia ketika ditemui awak media sebelum acara pengukukhan dimulai.

Seni dan Sains Harus Berjalan Seimbang

Dalam pandangannya, pencapaian gelar guru besar memberikan posisi tawar yang strategis untuk memposisikan seni agar sejajar dengan disiplin ilmu lain.

Tantangan ke depan justru menjadi pendorong untuk memulai kembali dari awal, terus berkarya, serta mendedikasikan diri untuk memajukan khazanah keilmuan seni pertunjukan.

“Pengukuhan ini membuat saya semakin yakin bahwa seni potensinya memang harus sejajar dan memiliki posisi yang sebanding dan berimbang dengan bidang-bidang ilmu yang lain,” ungkapnya.

Ketika disinggung mengenai fokus koreografi secara umum, ia menjelaskan bahwa koreografi adalah seni menata tari—mencakup penciptaan dan penataan tari, baik dalam ranah tradisional, kontemporer, maupun bentuk-bentuk eksperimental lainnya yang tidak terbatas pada satu kategori saja.

BACA JUGA  3 Pemain Spanyol dan Mbappe Rebut Penghargaan Bergengsi

Ke depan, langkah nyata yang akan dilakukan pasca-pengukuhan ini adalah fokus pada program pendampingan bagi para dosen dan seniman muda. Tujuannya jelas: memperkuat potensi koreografi di Indonesia agar semakin berkecambah, berdaya, dan melahirkan generasi seniman serta perintis seni yang berkualitas.

Meski telah meraih pencapaian tertinggi di bidang akademik, ia memastikan bahwa aktivitas berkarya tidak akan berhenti. Baik menyandang status sebagai guru besar maupun tidak, berkarya bagi kemajuan seni dan budaya Indonesia tetap menjadi komitmen utamanya.

Pencapaian gelar guru besar ini diharapkan semakin memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan dan penciptaan seni tari, menginspirasi generasi seniman serta pemusik, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan seni budaya Indonesia di kancah global.

Seni Pertunjukan Dunia

Sementara itu Rektor ISI Solo, Dr Bondet Wrahatnala SSos, MSn, dalam sambutannya mengutarakan pengukuhan ini merupakan capaian penting bagi ISI Solo.

Sebagai perguruan tinggi seni, pihaknya mempunyai tanggung jawab mengembangkan pendidikan, penelitian, dan penciptaan seni dengan mutu akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

BACA JUGA  Persiwi U-13 Juara Fourfeo Match, Modal Berharga Menuju Piala Soeratin 2026

“Karena itu, pengukuhan hari ini perlu kita tempatkan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas kekaryaan dan cara kita menjelaskan kontribusi akademiknya,” tegas dia.

Menurut dia, Eko telah menempuh perjalanan yang mempertemukan pendidikan tinggi, praktik profesional, dan kerja bersama masyarakat. Eko disebut merupakan alumnus sekaligus dosen ISI Solo, menempuh pendidikan Master of Fine Arts bidang tari dan koreografi di UCLA, serta membangun ruang pengembangan tari melalui Solo Dance Studio dan EkosDance Company.

Pengalaman ini menunjukkan hubungan yang erat antara kegiatan pendidikan dan praktik kesenian yang terus dijalankan.

Bondet mengungkapkan rekam jejak Internasional Eko Supriyanto mencakup keterlibatan sebagai penari dalam Drowned World Tour Madonna, konsultan tari untuk produksi The Lion King, serta penari dan koreografer dalam opera A Flowering Tree karya John Adams yang disutradarai Peter Sellars.

Melalui Cry Jailolo, Balabala, SALT, dan Ibu-Ibu Belu, Eko juga memperluas pengakuan internasional terhadap koreografi Indonesia yang dikembangkan melalui penelitian dan kerja bersama masyarakat.

“Pengalaman tersebut menunjukkan kemampuan menghubungkan pengetahuan lokal dengan standar profesional dan jejaring seni pertunjukan dunia,” tegas Bondet. (Iskandar)

Komentar