Astrid: Perkuat Kaderisasi dan Siapkan Generasi Wartawan Yang Adaptif Profesional di Tengah Berbagai Platform Media

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] — Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta periode 2026-2030 digelar di Monumen Pers Nasional di Kota Solo, Sabtu, 20 Juni 2026.

Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulkifli Gani Ottoh, hadir bersama Ketua Bidang Pembinaan Daerah PWI Pusat, Mirza Zulhadi.

banner 300x250

Zulkifli menjelaskan masa kepengurusan PWI Surakarta sejatinya masih berlangsung hingga 2027. Namun konferensi harus dilaksanakan lebih awal karena Ketua PWI Surakarta periode 2022-2026, Anas Syahirul Alim, akan mengemban tugas di tingkat pusat.

“Seharusnya konferensi ini digelar pada 2027. Namun karena aturan organisasi tidak memperbolehkan rangkap jabatan di daerah dan pusat, maka perlu dilakukan konferensi untuk memilih kepemimpinan baru di Surakarta,” ujar Zulkifli.

Menurutnya, proses regenerasi merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi sekaligus memastikan roda kepemimpinan berjalan sesuai konstitusi PWI.

Konferensi merupakan forum tertinggi organisasi wartawan di tingkat kota menjadi momentum penting untuk memilih Ketua PWI Surakarta yang baru sekaligus merumuskan arah organisasi dalam menghadapi tantangan industri media yang terus berubah.

Sementara itu, Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani yang membuka konferensi memberikan apresiasi terhadap kontribusi insan pers, khususnya PWI Surakarta, dalam mendukung pembangunan daerah dan menjaga kualitas demokrasi.

Astrid mengaku menjadi saksi perjalanan kepemimpinan Anas Syahirul Alim selama hampir satu dekade membersamai PWI Surakarta.

“Saya menjadi saksi perjalanan Mas Anas selama 10 tahun membersamai PWI Surakarta. Organisasi ini mampu tetap relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.

Astrid menitipkan pesan kepada kepengurusan berikutnya agar terus memperkuat kaderisasi wartawan di tengah berkembangnya berbagai platform media.

“Saya titip kepada penerus kepemimpinan PWI Surakarta agar kaderisasi terus dikembangkan. Saat ini media sudah berkembang dengan begitu banyak platform, sehingga organisasi harus mampu menyiapkan generasi wartawan yang adaptif dan profesional,” ujarnya.

Menurut Astrid, di tengah era transformasi digital dan maraknya informasi yang beredar di ruang publik, peran pers semakin strategis.

“Pers tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sarana edukasi, kontrol sosial, menjaga kepercayaan publik, dan menjaga situasi tetap kondusif di tengah maraknya hoaks,” katanya.

Ia berharap sinergi antara media, pemerintah, dan para pemangku kepentingan terus diperkuat untuk mendukung kemajuan Kota Surakarta.

Ketua Panitia Konferensi PWI Surakarta, Bramantyo, mengatakan pemilihan Monumen Pers Nasional sebagai lokasi konferensi memiliki makna historis yang kuat. Dari kota inilah PWI lahir pada 9 Februari 1946 dan berkembang menjadi organisasi wartawan terbesar di Indonesia.

“Kami ingin konferensi ini tidak sekadar menjadi agenda organisasi, tetapi juga momentum memperkuat persatuan, profesionalisme, dan integritas insan pers,” katanya.

Bramantyo menegaskan konferensi bukan hanya soal memilih ketua baru, melainkan menjaga kehormatan organisasi dan memastikan estafet kepemimpinan berlangsung secara demokratis dan bermartabat.

“Berbeda pilihan adalah bagian dari demokrasi. Bersatu kembali adalah kehormatan organisasi,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh anggota untuk menjaga persaudaraan di tengah perbedaan pandangan yang mungkin muncul selama proses pemilihan berlangsung.

Sementara itu, Ketua PWI Surakarta periode 2022-2026, Anas Syahirul Alim, mendapat apresiasi dari berbagai pihak atas kontribusinya dalam memimpin organisasi dan memperkuat eksistensi PWI Surakarta selama beberapa tahun terakhir.

Konferensi PWI Surakarta 2026-2030 diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan baru yang dapat menjaga profesionalisme, independensi, dan integritas jurnalistik, sekaligus memperkuat peran PWI Surakarta dalam menghadapi tantangan dunia pers di era digital.

Dari Monumen Pers Nasional, tempat sejarah pers Indonesia bermula, para wartawan Surakarta kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga marwah profesi, memperkuat organisasi, dan terus menghadirkan karya jurnalistik yang mencerdaskan masyarakat. (*)

Editor: Triantotus

Komentar