Destinasi Wisata Baru Di Solo, Museum Jarik Eyang Somo Kalitan

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Walikota Solo, Respati Ardi meresmikan Museum Jarik Eyang Somo Kalitan, Surakarta. Keberadaan museum itu kini menjadi salah satu rujukan literasi batik pinggir Kali Bengawan.

Pembukaan diawali dengan mengarak jarik batik lawasan pinggir kali dan topeng simbol manusia oleh Nbah Janthit, seniman Solo dari Ndalem Kalitan hingga museum.

banner 300x250

Pembukaan Museum Jarik Eyang Somo pinggir kali dilaksanakan, dihadiri tokoh dan budayawan Solo Raya, pelukis Mbah Mbong, pelukis Jayadi, Pangsit Anjasmara, Ki dalang Bayu Aji, Toni belok kiri, Ki Agung Bakar, dan para pemerhati batik serta kebudayaan.

Kehadiran mereka membuat suasana bincang budaya gayeng dan penuh dengan makna. Filosofis batik diuraikan dengan lengkap oleh Ki dalang Bayu Aji.

Dia bicara sejarah panjang batik di Indonesia hingga muncul pembatik pinggir Kali Bengawan. Sedangkan Ki Agung Bakar mengulas detail dan diakhir paparannya menyentil pemulangan artefak dan benda seni lainnya dari Belanda sejumlah 30.000.

“Mungkin disitu juga dipulangkan batik peninggalan leluhur,” ujarnya.

Sementara Toni belok kiri dengan gayanya yang khas, menyoroti masalah bagaimana membudayakan Gen Z untuk menyukai dan memakai batik dalam kehidupan sehari-hari. Pembukaan bertepatan dengan Hari Batik 2025. Diharapkan Museum Jarik Eyang Somo Kalitan bisa menjadi salah satu destinasi wisata dan tempat literasi budaya batik.

Karena batik ada beberapa macam mulai dari tulis hingga printing, harapannya Museum Jarik Eyang Somo menjadi jawaban dan membantu penyediaan literasi tentang budaya batik.

Anggun Mahardika, pemilik museum sekaligus Batik Joyodipo menekankan perlunya menjaga warisan budaya lelulur, sebagai upaya penyelamatan jarik-jarik lawas peninggalan leluhurnya yang berkembang di pinggir Kali Bengawan, denga motif yang khas.

Menjadi rekam jejak kehidupan di pinggiran Kali Bengawan yang di tulis dalam selembar kain baik, saksi sejarah juga dihadirkan di museum jarik, yakni Mbah Daliyem, 90. Dia menerangkan bahwa dirinya membatik sejak dari kecil hingga sekarang karena ikut orang tuanya buruh batik waktu itu. (Ariyanto)

Komentar