Portalika.com [SURAKARTA] – Perekonomian Solo Raya tetap menunjukkan kinerja yang solid di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pada tahun 2025, ekonomi Solo Raya tumbuh 5,39% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 sebesar 5,24% (yoy).
Capaian tersebut juga berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11% (yoy) dan Jawa Tengah sebesar 5,37% (yoy).
Kinerja tersebut mencerminkan aktivitas konsumsi, produksi, dan perdagangan di Solo Raya masih terjaga, terutama didukung oleh sektor perdagangan, industri pengolahan, pertanian, transportasi, serta jasa lainnya.
Hal itu muncul di Wedangan Media (Wadah Media Ngobrol Santai) yang digagas BI Solo. Forum juga mencatat di tengah tekanan global yang berdampak pada pasar keuangan dan nilai tukar, Bank Indonesia terus menempuh langkah stabilisasi rupiah secara terukur.
Tujuh langkah utama dilakukan melalui intervensi pasar valas di dalam dan luar negeri, termasuk melalui spot, DNDF, dan offshore NDF; optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk memperkuat aliran masuk modal asing; pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder; penjagaan kecukupan likuiditas perbankan dan pasar uang.
Juga pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying dari USD100.000 menjadi USD50.000 per orang per bulan dan akan ditekan menjadi USD25.000; penguatan intervensi offshore NDF bersama perbankan domestik; serta penguatan pengawasan bersama Otoritas Jasa Keuangan terhadap aktivitas pembelian dolar AS dalam jumlah besar.
Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas Rupiah, memitigasi dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian domestik, serta memastikan stabilitas ekonomi tetap menunjang pertumbuhan.
Pelaku usaha ekspor di Solo Raya juga menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap dinamika global. Berdasarkan survei Bank Indonesia terkait dampak eskalasi konflik Timur Tengah, sebanyak 40% responden menyampaikan bahwa konflik tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap permintaan, sementara 80% responden menyatakan belum terdapat pembatalan purchase order selama periode konflik.
Meski demikian, pelaku usaha tetap mencermati risiko kenaikan beaya pengiriman, perubahan tarif perdagangan internasional, serta tekanan biaya energi dan bahan baku.
Dari sisi kegiatan dunia usaha, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia pada Triwulan I 2026 mengindikasikan aktivitas usaha di Solo Raya tetap positif.
Kinerja mayoritas lapangan usaha masih terjaga, terutama didorong oleh sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) serta Industri Pengolahan.
Responden memperkirakan kegiatan usaha pada Triwulan II 2026 tetap positif, tercermin dari prakiraan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 37,33%, terutama ditopang oleh industri pengolahan serta sektor pertanian seiring periode panen raya.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Solo Raya tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional 2,5±1%. Pada April 2026, Kota Surakarta mencatat deflasi 0,10% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,27% (yoy).
Kabupaten Wonogiri mencatat deflasi 0,25% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,16% (yoy). Sejumlah komoditas pangan utama seperti beras dan telur ayam ras terpantau stabil dengan pasokan memadai.
Bank Indonesia bersama TPID tetap mencermati potensi tekanan harga pada cabai merah, cabai rawit, bawang putih, dan daging ayam ras yang dipengaruhi dinamika panen, distribusi, serta permintaan masyarakat.
Optimisme masyarakat terhadap ekonomi daerah juga masih terjaga. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kota Surakarta pada Mei 2026 berada di level optimis sebesar 114,17.
Optimisme tersebut didukung oleh persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan.
Bank Indonesia Solo terus mendorong penguatan ekonomi daerah melalui digitalisasi sistem pembayaran dan pengembangan UMKM.
Sepanjang 2026, nominal transaksi QRIS di Solo Raya mencapai Rp5,3 triliun atau tumbuh 114,3% (yoy), dengan volume 54,54 juta transaksi atau tumbuh 141,6% (yoy). Jumlah merchant QRIS bertambah 53.281 merchant, sehingga total merchant QRIS di Solo Raya mencapai 1.109.871 merchant atau tumbuh 18,1% (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, menyampaikan QRIS memberi manfaat langsung bagi pelaku usaha, termasuk restoran, rumah makan, kafe, dan sektor kuliner.
“QRIS membuat pembayaran lebih cepat, aman, dan praktis. Bagi pelaku usaha kuliner, transaksi yang tercatat secara digital membantu pemantauan penjualan, pembukuan, dan pembentukan rekam jejak usaha. Hal ini penting agar usaha kuliner Solo Raya semakin modern, tertata, dan berdaya saing,” ujar Dwiyanto.
Bank Indonesia menegaskan bahwa pembayaran QRIS bagi konsumen tidak dikenakan biaya tambahan. Biaya layanan atau Merchant Discount Rate (MDR) dikenakan kepada merchant sesuai ketentuan dan tidak boleh dibebankan kepada konsumen.
Sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah, Bank Indonesia Solo juga menyelenggarakan Adikarya Fest, Adipati Run, dan Kenduren UMKM untuk memperluas akseptasi pembayaran digital, meningkatkan literasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, serta memperkuat peran UMKM dalam ekonomi daerah. Ke depan, Bank Indonesia Solo bersama Pemerintah Daerah, TPID, perbankan, pelaku usaha, akademisi, media, dan pemangku kepentingan terkait akan terus memperkuat sinergi untuk menjaga inflasi, memperluas digitalisasi pembayaran, mengembangkan UMKM, dan menjaga optimisme dunia usaha. (Ariyanto)












Komentar