Portalika.com [ACEH BESAR] – Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertema Mata Rantai Stunting dalam Daur Kehidupan Wanita di Desa Lambaro Nijib, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.
Kegiatan ini dihadiri oleh akademisi dari berbagai universitas nasional dan internasional, yaitu Universiti Putra Malaysia (UPM), Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari dan Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh.
Geuchik Lambaro Nijib, Fadhil, menyampaikan apresiasi atas kepedulian dunia akademik terhadap isu kesehatan masyarakat di desa binaannya. Dia berharap kegiatan ini dapat memberi manfaat nyata bagi ibu-ibu dan keluarga di desa.
Selanjutnya, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Abulyatama, Dr Lensoni, MKes, menyampaikan stunting adalah persoalan multidimensi yang harus ditangani sejak dini melalui pendekatan edukatif dan intervensi gizi yang tepat.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam menangani masalah kesehatan masyarakat yang kompleks seperti stunting.
Empat pemateri utama memberikan perspektif ilmiah dan praktis, yaitu Prof Madya Dr Haliza Abdul Rahman, Universiti Putra Malaysia, Sallehuddin bin Ismail, Universiti Putra Malaysia, Erwanto, SKM, Universitas Halu Oleo Kendari dan Dr Khairan, Universitas Teuku Umar Meulaboh.
Dari sisi internasional, Haliza Abdul Rahman dan Sallehuddin bin Ismail memaparkan pentingnya pendekatan sistemik dalam memutus rantai stunting, dimulai sejak masa kehamilan hingga usia balita. Mereka juga mengapresiasi potensi lokal seperti ikan, telur, dan sayuran yang kaya gizi sebagai bagian dari solusi.
Sedangkan Rrwanto, SKM menyampaikan prevalensi stunting di Aceh masih tinggi, mencapai sekitar 29 persen. Ia menyoroti bahwa meskipun masyarakat pesisir memiliki akses terhadap ikan dan sumber protein lainnya, pola konsumsi gizi seimbang masih belum merata.
Ia juga menekankan pentingnya mengalihkan pengeluaran rumah tangga, seperti rokok, untuk pemenuhan gizi keluarga. Khairan dari UTU menambahkan banyak ibu muda cenderung memilih makanan instan yang kurang bernutrisi, dan hal ini berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak.
Ia menekankan perlunya edukasi gizi yang praktis dan menggunakan pendekatan berbasis kearifan lokal.
Dalam sesi diskusi, warga desa mengangkat isu keterlambatan bicara dan berpikir pada anak-anak meski tinggi dan berat badan normal. Para pakar menyatakan bahwa stunting bisa berdampak pada perkembangan kognitif, namun faktor genetik dan lingkungan juga berpengaruh.
Oleh karena itu, diperlukan pemantauan menyeluruh dan edukasi berkelanjutan bagi orang tua. Dalam sesi diskusi, warga desa mengangkat isu keterlambatan bicara dan berpikir pada anak-anak meski tinggi dan berat badan normal.
Oleh karena itu, diperlukan pemantauan menyeluruh dan edukasi berkelanjutan bagi orang tua. Setelah sesi diskusi, para peserta melanjutkan dengan penandatanganan Intent Agreement (IA) sebagai komitmen bersama untuk kerja sama dalam edukasi dan pencegahan stunting di Aceh. (Putra/*)
Editor: Triantotus












Komentar