Peringatan Hari Kartini, Wawalkot Astrid Bagikan Buket ke Buruh Gendong

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani memilih cara berbeda dalam memperingati Hari Kartini. Dari pintu utama Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, Selasa, 21 April 2026 pagi, ia turun langsung membagikan buket bunga kepada para buruh gendong, menjadikan ruang pasar sebagai panggung apresiasi bagi Kartini masa kini.

Puluhan perempuan buruh gendong tampil anggun mengenakan kebaya, jarit, dan sanggul. Momen paling mencuri perhatian terjadi saat Astrid membagikan buket bunga unik yang dirangkai dari lembaran uang Rp5.000.

banner 300x250

Aksi simbolis ini disambut antusias para buruh gendong dan pengunjung pasar, lalu dilanjutkan dengan tarian bersama yang semakin memeriahkan peringatan.

Astrid menegaskan, peringatan Hari Kartini menjadi momentum untuk mengapresiasi perempuan pekerja yang selama ini berjuang dalam keseharian.

“Perempuan-perempuan hebat di Pasar Gede ini adalah Kartini masa kini. Ketangguhan mereka dalam bekerja setiap hari adalah inspirasi nyata bagi kita semua,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi upaya untuk menyemangati para buruh gendong sekaligus mengangkat peran perempuan dalam ruang publik.

“Ini bukan sekadar seremoni. Kami ingin hadir, memberi apresiasi, dan memastikan perempuan-perempuan pekerja seperti ibu-ibu buruh gendong mendapat perhatian. Semangat mereka harus terus kita dukung,” kata Astrid.

Selain itu, kolaborasi dengan komunitas perempuan juga diwujudkan melalui penyediaan fasilitas tempat duduk di kawasan Pasar Gede guna mempercantik ruang publik sekaligus meningkatkan kenyamanan destinasi wisata.

Astrid menegaskan bahwa saat ini semakin banyak ruang terbuka bagi perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan.

“Sekarang ruang untuk perempuan semakin luas. Tinggal bagaimana kita terus menggali potensi dan berani mengambil peran, baik di ranah domestik maupun publik,” ujarnya.

Peringatan Kartini di Pasar Gede tersebut menjadi potret nyata bahwa semangat emansipasi terus hidup, tumbuh dari keseharian perempuan pekerja yang tangguh dan penuh dedikasi. (Ariyanto)

Komentar