Gen Z Didorong Punya Visi Global Meski Gaya Lokal Jangan Takut Tidak Punya Modal Usaha

Ketua TPPD Jateng : Manfaatkan Program Zilenial, Ada 45 Jenis Pelatihan Gratis

banner 468x60

Portalika.com [SRAGEN] – Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli Gayo menerangkan, anak muda atau Gen Z harus mempunyai daya saing agar ke depan menjadi orang sukses.

Gen Z bisa memanfaatkan seluas-luasnya program Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi secara gratis untuk meningkatkan kompetensi demi menghadapi dunia kerja.

banner 300x250

Stigma Gen Z salah satunya menyumbang angka pengangguran di Jawa Tengah menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama sehingga ekonomi benar-benar tumbuh dari bawah karena motivasi dari pribadi masing-masing dan adanya fasilitas pemerintah.

“Mumpung masih ada waktu. Beraktivitas [aktif di organisasi apapun] lebih banyak. Mereka yang berhasil, karena menyibukkan diri untuk meningkatkan kualitasnya,” terang dia dalam Diskusi Publik ‘Inspirasi Sukses dari Local Hero Sragen’ yang digelar Kejaksaan Negeri Sragen bersama Solusi Indonesia, Selasa, 2 Desember 2025.

Lebih lanjut dia memaparkan, anak muda sekarang jangan mau kalah dengan senior-senior yang sudah sukses terlebih dahulu. Gen Z meskipun memiliki gaya lokal, tetapi visinya tetap global.

“Mimpi lokal gak apa-apa, penting dampaknya sampai ke global. Makanya Pak Gubernur Jateng mendorong ini melalui program-programnya,” paparnya.

Dia menambahkan, ada lima program Gubernur Jateng untuk pengembangan kapasitas Gen Z mulai dari pendidikan dan vokasi berupa Kartu Zelineal atau Taruna Karya Mandiri, ekonomi & kewirausahaan muda di antaranya 1 RT 1 UMKM, pelatihan 1.000 konten kreator desa wisata, pelibatan Gen Z dalam program lingkungan hingga penguatan bahasa asing dan literasi digital global.

“Khusus kartu zilenial ada 45 jenis pelatihan sesuai minat dan bakat. Mulai pengen jadi bisnisman, petani, peternak, content creator dan banyak lagi jenisnya,” ungkap dia.

Selain Zulkifli, ada pembicara lain yakni Direktur Bisnis Dana, Jasa dan UMKM Bank Jateng, Anna Kusumarita dan pengusaha muda Sragen, Joko Pramono. Sebelum itu, ada sesi pertama dengan tema ‘KUHAP Baru dan Tantangan Pemberantasan Korupsi’ narasumber Ketua Komisi Kejaksaan RI, Pujiyono Suwadi dan Kajari Sragen, Jerniaty.

Bank Jateng Fasilitasi Permodalan
Direktur Bisnis Dana, Jasa, dan UMKM Bank Jateng, Anna Kusumarita menantikan calon-calon pengusaha sukses yang merintis dengan segenap ketangguhan. Bank Jateng meminta Gen Z tidak khawatir bagi mereka yang belum memiliki usaha tetapi memiliki cita-cita ingin menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja.

“Kalau memang belum pernah punya usaha, pengen belajar kami punya program literasi. Program peningkatan literasi keuangan dan skill mikro bisnis. Mereka kami latih untuk mengawali mikro bisnis awal. Sudah ada puluhan ribu yang tergabung dan tumbuh,” tuturnya.

Gen Z baik itu mahasiswa maupun siswa SMA/SMK lanjut Anna, bisa memanfaatkan program permodalan Bank Jateng. Syaratnya sudah memiliki usaha. Seperti halnya banyak mahasiswa yang mengajukan permodalan tanpa agunan seperti usaha warung makan di lingkungan kampus dan fotocopy.

“Kami bekerjama dengan kampus. Mahasiswa yang punya usaha ada program permodalan. Ada yang Rp10 juta, Rp15 juta hingga Rp20 juta. Kami support itu agar naik kelas,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selain itu ada program lain berupa kredit usaha rakyat (KUR) dengan permodalan di bawah Rp100 juta. Permodalan itu tanpa agunan, namun tentunya memiliki usaha. Sementara bunga hanya 6-6,5 persen karena sudah disubsidi oleh pemerintah pusat.

“Ini yang dibutuhkan pengusaha awal. Kendala modal bisa diselesaikan. Tanpa agunan. Ini program dari Bapak Presiden Prabowo agar perekonomian di daerah berkembang pesat,” harap dia.

Pengusaha muda, Joko Pramono menularkan ilmunya. Dia merintis usaha menjadi pedagang kaki lima (PKL) mulai dari Snack Kita, Tahu Granat, Warung Teko Warmindo & Penyetan hingga Top Chiken.

“Dulu 2015 saya resign bekerja untuk orang di luar Jawa sana. Ada uang Rp3 juta saya nekat berjualan PKL-an,” aku dia kepada peserta diskusi yang berasal dari Gen Z mulai siswa SMA, mahasiswa, karang taruna, kepala desa, perbankan hingga BUMD.

Setelah berkali-kali gagal, akhirnya Joko banting stir ke bisnis properti dengan bendera Betaland hingga melebarkan sayap dengan membuka Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bahasa Korea beberapa tahun ini.

Tidak hanya omzet yang meningkat, tetapi karyawan tetap hingga freelance bersamanya mencapai puluhan orang.

“Saya memulai usaha tanpa modal, hanya Rp3 juta saja, hingga asetnya sekarang alhamdulillah miliaran rupiah. Dulu tidak punya apa-apa, buat makan saja susah, sekarang tinggal pilih,” tuturnya.

“Modal jangan jadi penghalang. Kuncinya mindset, relasi [jaringan] dan punya mentor. Paling utama juga punya business plan yang jelas. Gagal, bangun, gagal lagi bangun lagi sampai berhasil,” kata dia. (*)
Editor: Triantotus

Komentar