Jemaah Masjid Al Fatah Dikenalkan Kalender Hijriyah Global Tunggal

banner 468x60

Portalika.com [SUKOHARJO] – Kajian Ahad kelima ba’da Magrib mengawali bulan Syawal digelar di Masjid Al-Falah Madyorejo RT 01 RW 07, Jetis – Sukoharjo, Minggu, 29 Maret 2026.

Ketua Takmir Masjid Al-Falah Madyorejo Jetis, Sukoharjo, Bidang Dahwah dan Pendidikan, Muh Anis, SPd, menyampikan kajian Ahad sore ba’da Magrib kali ini bersama ustadz Bimawan Syamsudin, SP, dengan mengambil tema “Mengenal KHGT- Kalender Hijriyah Global Tunggal”.

banner 300x250

Ustadz Bimawan dalam tauziyahnya menyampaikan materi kajian Kalender Hijriah Global Tunggal yang bisa dipakai untuk pengajian, halaqah, atau diskusi.
Menurutnya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah sistem kalender Islam yang disepakati memberlakukan satu tanggal hijriah yang sama untuk seluruh dunia, atau lebih tepatnya satu dunia-satu hari-satu tanggal yang sama.

Diharapkan dengan adanya KHGT umat Islam mengawali dan mengakhiri Ramadan dan ber-Idul Adha pada hari yang sama. Selama ini terjadi perbedaan awal bulan karena perbedaan metode (rukyat lokal, hisab lokal, kriteria berbeda antar negara).

KHGT merupakan kalender yang menggunakan prinsip satu matla’ global (wilayatul hukmi) jika hilal terlihat di satu titik bumi, maka berlaku untuk seluruh dunia.

“Dengan menggunakan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) yang disepakati secara ilmiah, bukan sekadar rukyat mata di tiap negara,” paparnya.

Dasar pemikiran KHGT, pertama dalil Syar’i : Hadis “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal” (HR Bukhari Muslim) dipahami berlaku global, bukan lokal. Prinsip persatuan umat Islam itu satu tubuh.

Kedua, dalil ilmiah bahwa hisab astronomi modern sudah mampu memprediksi posisi hilal secara akurat. Bumi itu satu, bulan juga satu, maka penanggalan mestinya satu.

Perbedaan KHGT dengan sistem lain
Aspek KHGT sistem lokal (misal MABIMS) Matla’ Global (satu dunia) Lokal (per negara/wilayah). Kriteria Imkanur rukyat global Imkanur rukyat lokal (2°/3°/8 jam). Hasil satu tanggal sedunia bisa berbeda antar negara.

Keutamaan dan tujuan KHGT yakni mewujudkan persatuan umat Islam dalam ibadah, menghilangkan kebingungan perbedaan hari raya, memudahkan kalender global (pendidikan, haji, ekonomi syariah), menggabungkan hisab dan rukyat secara proporsional.

Tantangan penerapan KHGT, ujarnya, satu saat ini baru 60 negara yang menerapkan KHGT. Kedua, negara masih berpegang pada otoritas lokal dan tiga, perbedaan metode (hisab vs rukyat murni).

“Jadi KHGT bukan mengganti syariat, tapi metode penerapan syariat agar lebih maslahat dan menyatukan. Muhammadiyah telah mengadopsi KHGT sejak 2024, dan diharapkan menjadi langkah menuju kalender Islam pemersatu dunia,” jelasnya. (Begug SW/*)
Editor: Triantotus

Komentar