Kolaborasi Pentahelix, Pemilihan Miss Batik Indonesia Siap Curi Perhatian Dunia

banner 468x60

Portalika.com [SOLO] – Panitia pemilihan Miss Batik Indonesia (MBI) yang grand finalnya dijadwalkan digelar di Ndalem Wuryaningratan Danar Hadi Solo, Jateng Minggu, 13 Oktober 2024 tampaknya tak main-main menggelar event tersebut.

Mereka mempersiapkan diri dengan matang dan detail menggandeng sejumlah pihak berkompeten di bidangnya. Guna merealisasikan MBI 2024 agar gaungnya moncer hingga ke kancah internasional panitia berkolaborasi dengan pentahelix.

banner 300x250

“Event perdana MBI 2024 ini akan melahirkan sinergi baru di ranah kebudayaan dan pariwisata Indonesia, baik lingkup lokal, regional, nansional dan internasional. Kegiatan ini bertema Berkarya dan Bersinar dalam Balutan Batik Indonesia,” ujar Ketua Panitia MBI 2024, Endang Tri K Sukarso saat konferensi pers di Ruang Mini Cinema Lab Multimedia SBSN FSRD Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) 2 Solo, Senin, 7 Oktober 2024.

Baca juga: Mahasiswa KKN UNS 72 Lakukan Pelatihan Pembuatan Produk Home Decor Korden Dengan Teknik Kombinasi Batik Cap Dan Batik Kuas Di Desa Girilayu

Menurut dia kriteria ditetapkan MBI adalah creative, beautiful, talented dan cultured. Kegiatan MBI terdiri atas beberapa tahap yakni pendaftaran babak kualifikasi pertama, psikotes dan seluruh online chellenge, pembekalan dan grand final.

Dia mengutarakan kegiatan ini merupakan kolaborasi dan sinergi lima unsur kekuatan pentahelix terwujudnya SDGs [Sustainable Development Goals] Miss Batik Indonesia 2024. Lima unsur itu masing-masing pemerintah, korporasi, akademisi, media dan masyarakat/komunitas.

Hadir dalam konferensi pers antara lain, Dekan FRSD ISI Solo, Ana Rosmiati; Pengusaha & Kurator Batik, Gunawan Setiawan; Perwakilan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah (Disporapar Jateng), Dini Mukti dan Pendiri MBI, Endang R Guritno.

Endang Tri menjelaskan Kota Surakarta (Solo) memiliki akar seni dan warisan budaya yang melahirkan beragam jenis kriya (batik, tenun, anyaman, kerajinan logam, ukiran kayu dan keramik) kesenian rakyat dan kuliner. Ini menegaskan identitas kota sebagai Kota Budaya dan memperkuat branding Solo the Spirit of Java.

Ketua Panitia MBI 2024, Endang Tri K Sukarso (tengah) dan Dekan FRSD ISI Solo, Ana Rosmiati (dua dari kiri) memamerkan dokumen kerja sama saat konferensi pers di Ruang Mini Cinema Lab. Multimedia SBSN FSRD Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) 2 Solo, Senin, 7 Oktober 2024. (Portalika.com/Iskandar)

Lebih lanjut dia mengatakan batik telah lama menjadi bagian perjuangan diplomasi Indonesia. Karena itu visi MBI yang pertama adalah mencetak para diplomat wanita yang andal (kreatif, cantik, bertalenta dan berbudaya) dalam memromosikan batik Indonesia di kancah internasional.

Sedangkan misi MBI di antaranya menyediakan wajah ajang pemilihan MBI tingkat provinsi, nasional dan internasional menjadi agenda tahunan di bidang pariwisata dan kebudayaan.

Menyediakan dan menyelenggarakan pendidikan/pelatihan beauty building, pelatihan tentang kerajinan dan industri batik. Bekerja sama intensif dengan para stakeholder guna mengeksplorasi promosi batik Indonesia di skala nasional dan internasional.

Selanjutnya tujuan diselenggarakannya MBI ada beberapa hal di antaranya menggelar kompetisi duta batik MBI tingkat nasional dan internasional menjadi agenda tahunan Disbudpar dari 38 Provinsi di Indonesia. Mempertahankan dan meningkatkan spirit batik Indonesia sebagai pemersatu bangsa.

Memupuk rasa cinta dan bangga pada Batik Indonesia, ikut memajukan desainer motif batik Indonesia, ikut memajukan desainer pakaian batik Indonesia, ikut memajukan UMKM & pengusaha batik Indonesia, menyemarakkan peringatan Hari Batik Nasional dan sebagainya.

Panitia dan narasumber yang hadir dalam konferensi pers MBI 2024 berfoto bersama di Ruang Mini Cinema Lab. Multimedia SBSN FSRD Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) 2 Solo, Senin, 7 Oktober 2024. (Portalika.com/Iskandar)

“Semoga Miss Batik Indonesia bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah budaya maupun ekonomi bisnis nasional dan internasional,” kata Endang.

Didukung Disporapar Dan ISI Solo
Pada bagian lain Endang menngutarakan dari sekitar 500 pendaftar lomba berasal dari 16 provinsi berhasil terseleksi 20 finalis. Mereka akan memperebutkan gelar MBI 2024, Sabtu-Minggu 12-13 Oktober 2024 di Ndalem Wuryoningratan Solo, Jateng.

Dia menjelaskan MBI yang digagas empat Srikandi yaitu Endang R Guritno, Lidia S Hutapea, Kurnia Asih Rahayu dan dirinya diharapkan menjadi momentum untuk mencetak diplomat batik hingga kancah internasional. Dia menilai banyaknya pendaftar event ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang masih ingin menjaga dan melestarikan batik.

Guna melancarkan penilaian 20 finalis tersebut pihaknya mengundang tiga juri yang berkompeten. Mereka masing-masing Dewi Motik, Nina Akbar Tandjung dan Enny Agung.

Sementara itu Perwakilan Disporapar Jateng, Dini Mukti menegaskan pihaknya mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui sertifikasi dan pelatihan bagi seniman batik.

Sedangkan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Solo, Ana Rosmiati mengutarakan, ISI Solo juga mendukung pelestarian budaya termasuk di antaranya batik. Karena itu pihaknya juga mempunyai Program Studi (Prodi) Desain Mode Batik. Bahkan Prodi ini sudah dikenal di berbagai festival dan kompetisi hingga tingkat internasional.

Harganya Ratusan Juta Rupiah
Dukungan event ini juga datang dari salah seorang pengusaha batik asal Solo, Gunawan Setyawan. Dia mengakui semula “meremehkan” event tersebut.

Namun setelah mempelajari dengan seksama dan melihat keseriusan panitia dalam menggarap event ini dia berbalik 180 derajat mendukung dan mengapresiasi MBI 2024. Apalagi setelah dicermati ternyata Solo akan menjadi pionir MBI 2024 dan kegiatan ini melibatkan pentahelix.

“Ini keren sekali, kalau melibatkan berbagai pihak berkompeten artinya mumpuni. Apalagi kegiatan ini melibatkan akademisi seperti ISI dan stakeholder lainnya,” tegas dia.

Dia berharap event ini akan memicu lahirnya seniman batik kaliber seperti di era kejayaan batik Indonesia tempo dulu. Karena akhir-akhir ini beberapa pusat batik di Solo seperti Kampung Batik Laweyan, Kauman, Pasar Klewer dan lainnya kecenderungan mindset-nya hanya jualan batik.

Karena itu dengan kerja sama berbagai pihak diharapkan MBI 2024 mampu melahirkan seniman-seniman batik seperti era kejayaan batik tulis tempo dulu.

“Zaman Belanda dulu ada batik Pansellen [van Zuylen-red] yang terkenal sekarang harganya bisa ratusan juta rupiah, batik Haji Kholilan dan Haji Bilal di Kauman [Solo], di Jogja juga ada. Dengan kegiatan ini diharapkan muncul seniman-seniman baru yang bisa menampilkan namanya di produknya,” ujar dia.

Sekarang ini batik Mataraman yang dikenal hanya filosofinya seperti batik Truntum, Wahyu Tumurun dan sebagainya. Diharapkan nanti ada nama batik dari pembuatnya, misalnya batik Susi ISI 2024, Bambang ISI 2025 dan seterusnya.

Dengan demikian ke depan batik akan dicari atau diburu seperti layaknya karya lukisan. Ini dinilai akan mengangkat batik karena mem-branding senimannya dan seniman akan muncul kalau ada penilai yang mumpuni.

“Dulu pembuat batik tulis itu di kainnya ada nama si pembuat, kalau di Solo namanya ada gembelnya. Itu sebenarnya nama si pengrajin atau pembatiknya. Dengan demikian juga akan memunculkan karakter batik tersebut,” ungkap Gunawan. (Iskandar)

Komentar