Malioboro Jadi Pasar Kopi, Petani Perkuat Posisi Tawar

banner 468x60

Portalika.com [YOGYAKARTA] — Petani kopi kerap berada di hulu industri, tetapi belum tentu memiliki akses langsung ke pasar. Malioboro Coffee Night #6 berupaya memutus jarak tersebut dengan mempertemukan petani dan pembeli dalam transaksi langsung.

Digelar pada 29–31 Oktober 2026 di kawasan Gedung DPRD DIY dan pedestrian Malioboro, ajang ini menempatkan petani sebagai pelaku utama perdagangan kopi, bukan sekadar pemasok bahan baku.

banner 300x250

“Banyak petani masih menyimpan kopi, sementara pelaku usaha kesulitan mendapatkan bahan baku. Kami ingin mempertemukan langsung penjual dan pembeli,” kata Ketua Komunitas Kopi Nusantara, Wisnu Birowo, dalam konferensi pers di Sellie Coffee Malioboro, Selasa, 20 Oktober 2026.

Penyelenggaraan keenam ini hadir dengan format berbeda. Setelah terakhir berlangsung pada 2023 di Kopi Menara, kegiatan tersebut tidak digelar pada 2024 dan 2025.

BACA JUGA  Polwan Bersholawat Bersama Masyarakat Sukoharjo Jalin Kebersamaan

Di tengah kondisi ekonomi yang belum menggembirakan, panitia memilih memperkuat fungsi pasar daripada membagikan kopi secara gratis seperti pada penyelenggaraan sebelumnya.

Ketua Panitia Andri mengatakan, sebanyak 24 kelompok tani dari berbagai daerah akan terlibat, mulai dari Aceh, Gayo, Lampung, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Petani dari Timor-Leste juga disebut akan berpartisipasi.

Kopi ditampilkan dalam karung-karung, dilengkapi meja transaksi dan fasilitas pencicipan. Pembeli dapat mengenali karakter biji kopi sekaligus bernegosiasi langsung dengan petani.

Panitia juga menyediakan mesin sangrai (roasting) untuk membantu pengolahan dan pemeriksaan kualitas kopi. Lelang kopi dijadwalkan berlangsung pada hari terakhir.

Menguatkan Sektor Hulu

Persoalan kopi Indonesia bukan semata-mata produksi, melainkan juga tata niaga dan kualitas pascapanen. Petani membutuhkan akses pasar yang lebih luas, sementara pelaku usaha memerlukan bahan baku berkualitas dengan harga yang sesuai.

BACA JUGA  Mahasiswa KKN Unisri Ajak Siswa Kelas V SDN 01 Cokro Cerdas dan Aman Bermain Gadget

Pertemuan langsung diharapkan memangkas hambatan distribusi sekaligus meningkatkan posisi tawar petani.

Kualitas kopi juga tidak cukup ditentukan oleh mesin sangrai atau keterampilan peracik. Proses budidaya, pemetikan, pengeringan, dan penyimpanan biji turut menentukan cita rasa.

Karena itu, panitia berharap perguruan tinggi, termasuk Institut Pertanian Stiper (Instiper), dapat berkontribusi melalui pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi pascapanen.

Menurut Andri, penguatan ekosistem kopi perlu melibatkan petani, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan sektor pariwisata. Panitia menyebut kegiatan ini mendapat dukungan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Audiensi dengan Ketua DPRD DIY Nuryadi juga diharapkan membuka ruang keterlibatan pemangku kepentingan di bidang pertanian dan pariwisata.

BACA JUGA  Tingkatkan Ketahanan Bencana, Mahasiswa KKN Undip Gelar Simulasi Evakuasi dan Edukasi Partisipatif di Desa Kepatihan

Pemilihan Malioboro bukan tanpa alasan. Kawasan ini merupakan magnet wisata yang berpotensi mempertemukan produk kopi daerah dengan pasar yang lebih luas. Panitia bahkan merencanakan deklarasi Yogyakarta sebagai kota kopi pada penutupan acara.

Tagline “Urip Pahit Ora Podho Karo Kopi Pait” menyiratkan semangat untuk terus bergerak di tengah tantangan. Namun, ambisi menjadikan Yogyakarta kota kopi membutuhkan lebih dari sekadar perayaan.

Ukurannya adalah transaksi yang berkelanjutan, kualitas produk yang meningkat, dan kesejahteraan petani yang benar-benar terangkat.

Malioboro Coffee Night #6 diharapkan menjadi ruang awal untuk membangun perdagangan kopi yang lebih adil, dengan petani sebagai bagian utama dari rantai nilai industri kopi Indonesia. (Yuliantoro/*)

Komentar