Portalika.com [WONOGIRI] – Sebanyak 25 ibu-ibu RT 02 Dusun Kopen, Desa Pule, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, ikut serta dalam pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah yang diadakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Kegiatan ini sebagai bagian dari program KKN UNS Surakarta, Januari hingga Februari 2026. Program yang diberi nama “Recycle to Light” ini hadir sebagai respons atas kebiasaan warga membuang minyak goreng bekas tanpa pengolahan — padahal di tangan yang tepat, limbah itu bisa jadi produk yang laku dijual.
Desa Pule memang cukup dikenal sebagai salah satu sentra pengolahan kacang mete di Kabupaten Wonogiri. Aktivitas penyangraian dan penggorengan berlangsung hampir setiap hari — apalagi saat musim panen — dan itu artinya minyak jelantah terus menumpuk.
Masalahnya, selama ini minyak bekas itu sering dibuang begitu saja ke tanah atau selokan. Kebiasaan yang kelihatannya sepele, tapi lama-lama bisa mencemari sumber air dan mengganggu ekosistem di sekitar permukiman.
Dari situlah ide program ini muncul. Fransisca Amelia Kartika Ardhyanti, mahasiswi Ilmu Lingkungan Fakultas MIPA UNS, bersama Dosen Pembimbing Lapangan Dr Dra Yuli Bangun Nursanti, MPd memilih untuk tidak berhenti di sosialisasi saja. Mereka turun langsung dan mengajak warga mempraktikkan sesuatu yang bisa langsung berguna.
Program “Recycle to Light” sendiri menggabungkan dua sesi: edukasi dan praktik langsung. Pada sesi pertama, peserta mendapat pemaparan tentang bahaya pembuangan minyak jelantah sembarangan serta potensi ekonominya jika diolah dengan benar.
Sesi ini berlangsung cukup interaktif — banyak peserta yang aktif bertanya, terutama soal seberapa besar potensi penghasilan dari produk lilin ini. Di sesi praktik, peserta langsung mencoba empat tahapan pembuatan lilin aromaterapi.
Mulanya, minyak jelantah disaring dulu untuk membuang kotoran dan sisa makanan. Setelah itu baru dicampur dengan bahan dasar lilin — sesuai takaran yang sudah ditentukan. Begitu meleleh dan rata, adonan dituang ke cetakan yang tersedia — seperti gelas kaca bekas atau keramik.
Langkah terakhir adalah menambahkan pewangi atau essential oil sesuai selera. Hasilnya bukan cuma lilin biasa, tapi lilin yang wangi dan punya efek aromaterapi.
Antusiasme peserta terasa cukup tinggi sejak awal kegiatan.
Para ibu terlihat serius mengikuti setiap tahapan dan aktif berdiskusi soal kemungkinan mengembangkan produk ini sebagai usaha rumahan. Barangkali itulah tanda paling nyata bahwa program ini menyentuh sesuatu yang lebih dari sekadar pengetahuan teknis.
Dusun Kopen dipilih bukan sekadar kebetulan. Wilayah ini punya konsentrasi produsen kacang mete yang cukup tinggi, jadi otomatis limbah minyak jelantahnya pun lebih besar dibanding dusun lain di Desa Pule. Masuk akal kalau program ini memang diarahkan ke sini terlebih dulu.
Di luar keterampilan teknis, kegiatan ini tampaknya juga berhasil menggeser cara pandang peserta terhadap limbah rumah tangga. Yang sebelumnya dianggap masalah, kini mulai dilihat sebagai sumber daya yang bisa dikelola.
Beberapa peserta menyatakan ketertarikannya untuk mencoba memproduksi lilin aromaterapi secara mandiri dan menjualnya sebagai produk usaha rumahan. Ini tentu menjadi sinyal yang cukup menjanjikan — bahwa satu pelatihan sederhana bisa memantik potensi kewirausahaan yang selama ini belum tergali.
Soal dampak lingkungan, program ini juga punya kontribusi yang cukup konkret. Setiap liter minyak jelantah yang berhasil diolah adalah satu liter yang tidak jadi mencemari tanah atau air. Program ini sejalan dengan SDGs nomor 12 soal konsumsi dan produksi bertanggung jawab, serta nomor 13 tentang aksi iklim. Dan yang menarik, semua itu dimulai dari dapur rumah warga — bukan dari pabrik atau kebijakan besar.
Harapannya, “Recycle to Light” tidak berhenti begitu tim KKN pulang. Dengan keterampilan yang sudah di tangan, warga Dusun Kopen diharapkan bisa terus mengembangkan produk lilin aromaterapi ini secara mandiri — baik sebagai solusi pengelolaan limbah yang berkelanjutan maupun sebagai peluang ekonomi keluarga yang nyata dan bisa terus tumbuh. Kalau berhasil, kisah dari Dusun Kopen ini bisa jadi inspirasi bagi desa-desa lain yang punya masalah serupa. (*)
Editor: Suryono












Komentar