Masih Pelajar, Pemerintah Lindungi Pelaku Peledakan SMAN 72

banner 468x60

Portalika.com [JAKARTA] – Menteri Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyatakan akan memberikan perlindungan kepada terduga pelaku ledakan di sekolah tersebut. Alasannya, terduga pelaku masih berstatus sebagai pelajar dan masih di bawah umur.

Sedangkan di Rumah Sakit Islam (RSI) Cempaka Putih masih merawat 13 korban ledakan di SMAN 72 Jakarta. Dari jumlah itu, 12 pasien berada di ruang perawatan biasa dan satu pasien dirawat intensif di ICU.

banner 300x250

“Oh iya pasti kami lakukan pendampingan baik untuk terduga pelaku maupun anak-anak lainnya,” ujarnya saat menyambangi SMA Negeri 72 Jakarta Utara, Sabtu, 8 November 2025.

Kedatangan Arifah bertujuan memastikan aktivitas di sekolah tersebut segera kembali normal usai ledakan yang menyebabkan puluhan siswa luka-luka. “Kami akan berbagi tugas dengan pihak-pihak terkait lainnya,” ucapnya.

Menurut Arifah, Kementerian PPPA juga akan melakukan assessment terhadap terduga pelaku peledakan. Namun, dia mengaku bakal lebih dulu memastikan kondisi korban yang mengalami luka-luka dan trauma.

“Yang penting sekarang anak-anak itu harus menjalani pemulihan terlebih dulu supaya sehat,” ujarnya. Setelah itu dipastikan akan dilanjutkan dengan tahapan-tahapan penanganan yang harus dilakukan.

Arifah mengatakan kegiatan belajar mengajar di SMAN 72 tidak boleh berhenti di SMAN 72 Jakarta. “Sekarang kami ingin membicarakan sistem metoda yang akan dijalankan di sekolah ini,” ucapnya.

Sementara itu, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memastikan masih terus mendalami kasus peledakan di SMAN 72. Hingga saat ini, lembaga tersebut fokus pada upaya perlindungan terhadap para korban dan keluarganya.

Wakil Ketua LPSK, Mahyudin, mengatakan timnya baru menelusi kondisi dan situasi di lokasi kejadian. “Kami masih dalam proses pendalaman, jadi belum bisa menyampaikan lebih jauh,” ujarnya.

13 Korban Masih Dirawat

Humas RS Islam Cempaka Putih, Rianca, menyebut kondisi para pasien yang dirawat di ruang biasa stabil. Sebagian besar mengalami keluhan telinga berdengung akibat tekanan suara ledakan.

“Yang di ruang rawat inap biasa kondisinya stabil, keluhan paling banyak masih terkait telinga berdengung. Sementara yang di ICU masih dipantau terus oleh dokter,” ujar Rianca, Sabtu.

Sementara itu, sebanyak 30 korban lainnya yang sebelumnya mendapat perawatan telah diperbolehkan pulang. Pihak rumah sakit terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pihak sekolah untuk pemantauan lanjutan.

Di depan Instalasi Gawat Darurat, berdiri tenda bertuliskan Posko Pelayanan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Petugas dari tim Psikologi Kepolisian dan tenaga medis tampak berjaga di area tersebut.

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf sebelumnya menyampaikan tiga langkah utama penanganan bagi korban ledakan. Pertama, pemerintah menanggung seluruh biaya pengobatan dan perawatan korban.

Kedua, Kementerian Sosial memberikan bantuan berupa rehabilitasi medis dan sosial. Ketiga, dilakukan asesmen terhadap korban untuk menentukan bentuk bantuan pemberdayaan yang sesuai. (RRI)

Editor: Triantotus

Komentar