Mengenal Ragam Motif Batik dan Asal Daerahnya: Eksperimen Seru Pewarnaan dengan Larutan Asam dan Basa

banner 468x60

Portalika.com [SRAGEN] – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Vita, dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), melaksanakan program kerja individu bertajuk “Mengenal Ragam Motif Batik dan Asal Daerahnya: Eksperimen Seru Pewarnaan dengan Larutan Asam dan Basa” bersama siswa kelas 4 Sekolah Dasar di Desa Jenalas, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen.

Program ini merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma pengabdian kepada masyarakat, yang dirancang untuk memadukan pengenalan budaya lokal dengan penguatan literasi sains bagi siswa sekolah dasar.

banner 300x250

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi di lapangan yang menunjukkan sebagian besar siswa mengenal batik semata-mata sebagai motif kain tanpa memahami asal daerah maupun makna filosofis di baliknya.

Selain itu, materi asam dan basa yang termuat dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) sering kali disampaikan secara teoretis tanpa disertai praktik langsung, sehingga pemahaman siswa terhadap konsep tersebut cenderung terbatas.

Berdasarkan kondisi tersebut, disusunlah sebuah program pembelajaran terpadu yang menggabungkan aspek budaya dan sains dalam satu rangkaian kegiatan, sejalan dengan pendekatan pembelajaran tematik yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka.

Program ini bertujuan untuk memperkenalkan keragaman motif batik Nusantara beserta asal daerahnya kepada siswa sekolah dasar, sekaligus menanamkan pemahaman konsep asam dan basa melalui eksperimen sederhana menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu mengenali beberapa motif batik khas Indonesia, memahami keterkaitan antara pewarnaan alami dan konsep kimia dasar, serta mengembangkan sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, ketelitian, dan keberanian dalam menyampaikan hasil pengamatan.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menggunakan sejumlah alat dan bahan sederhana, di antaranya kertas bergambar motif batik sebagai media pengenalan ragam motif dan asal daerahnya, kunyit bubuk yang dilarutkan dengan air untuk menghasilkan larutan indikator alami, serta deterjen bubuk yang dilarutkan dengan air sebagai contoh larutan bersifat basa.

Pemilihan bahan-bahan tersebut disesuaikan dengan pertimbangan kemudahan memperoleh bahan, keamanan bagi siswa, serta kesederhanaan proses sehingga mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan sesi pengenalan motif batik menggunakan kertas bergambar berbagai motif khas daerah, di antaranya motif Parang, Kawung, dan Mega Mendung, disertai penjelasan singkat mengenai daerah asal dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Untuk menguatkan pemahaman siswa, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif berupa permainan menebak asal daerah motif berdasarkan gambar yang ditunjukkan, sehingga siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

Pada sesi berikutnya, siswa diajak untuk melaksanakan eksperimen sains sederhana menggunakan larutan kunyit bubuk sebagai indikator alami dalam menguji sifat asam dan basa suatu larutan.

Larutan deterjen bubuk digunakan sebagai contoh larutan basa yang diteteskan ke dalam larutan kunyit. Siswa mengamati secara langsung perubahan warna yang terjadi, yaitu larutan kunyit yang semula berwarna kuning berubah menjadi merah kecokelatan ketika bereaksi dengan larutan deterjen.

Hasil pengamatan tersebut kemudian dikaitkan kembali dengan proses pewarnaan alami pada kain batik, sehingga siswa dapat memahami bahwa prinsip kimia sederhana turut berperan dalam tradisi membatik yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pelaksanaan kegiatan, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk memudahkan proses eksperimen dan pengamatan. Setiap kelompok didampingi secara langsung untuk memastikan seluruh siswa dapat berpartisipasi aktif dalam melakukan pengujian larutan serta mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja yang telah disediakan.

Sebagai tahap akhir, setiap kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil temuan mereka di depan kelas, dengan tujuan melatih kemampuan komunikasi dan rasa percaya diri siswa dalam menyampaikan hasil kerja ilmiah.

Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif yang tinggi. Rasa ingin tahu siswa terlihat jelas melalui keaktifan mereka dalam mengajukan pertanyaan maupun mencoba secara langsung proses pengujian larutan pada kunyit bubuk.

Suasana pembelajaran yang interaktif turut mendukung terciptanya proses belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi siswa.

Program “Mengenal Ragam Motif Batik dan Asal Daerahnya: Eksperimen Seru Pewarnaan dengan Larutan Asam dan Basa” merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKN-PPM Universitas Slamet Riyadi Surakarta dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di tingkat sekolah dasar, khususnya di Desa Jenalas, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen.

Program ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu kependidikan yang telah diperoleh selama masa perkuliahan secara langsung di tengah masyarakat, sekaligus melatih kemampuan merancang pembelajaran yang inovatif dan kontekstual.

Melalui pelaksanaan program ini, diharapkan siswa Sekolah Dasar di Desa Jenalas dapat semakin mengenal dan mencintai kekayaan budaya bangsa, khususnya batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia, sekaligus memiliki ketertarikan yang lebih besar terhadap bidang sains sejak usia dini.

Selain itu, program ini diharapkan dapat menjadi salah satu contoh model pembelajaran terpadu yang dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah dasar, guna mendukung terbentuknya generasi yang memiliki kecintaan terhadap budaya lokal sekaligus berwawasan ilmiah. (*)

Editor: Suryono

Komentar