Portalika.com [SUKOHARJO] – Prosesi pelantikan PC GP Ansor Kabupaten Sukoharjo Masa Khidmah 2025–2029 dilakukan Pimpinan Pusat GP Ansor Korwil DIY–Jawa Tengah, HM Hanies Cholil Barro.
Pelantikan tersebut menjadi momentum penting bagi GP Ansor Sukoharjo untuk memperkuat kaderisasi, menata sistem organisasi, serta meningkatkan kontribusi kepada masyarakat, umat, bangsa, dan daerah.
Acara pelantikan dihadiri Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah H. Shidqon Prabowo, Sekretaris Wilayah GP Ansor Jawa Tengah H Husain Ahmadi, serta Ketua Korda Solo Raya, Zen Fathoni Achmad.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Sukoharjo, H Khomsun Nur Arif, menyampaikan pesan ulama dari Tremas mengenai karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemuda.
Menurutnya, pemuda harus memiliki tiga sifat utama, yakni syaja’ah atau keberanian, tawadhu atau rendah hati serta amanah atau dapat dipercaya dalam menjalankan tanggung jawab yang diemban.
Nilai-nilai tersebut menjadi penting bagi kader GP Ansor dalam menjalankan khidmah organisasi dan pengabdian kepada Nahdlatul Ulama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah, H Shidqon Prabowo, menekankan seluruh pengurus harus memiliki kekuatan dan kesiapan dalam menjalankan amanah organisasi.
Ia menyampaikan lima karakter yang perlu dimiliki oleh kader GP Ansor. Pertama, Habluminallah, yaitu kader Ansor harus memiliki spiritualitas yang kuat. GP Ansor harus mampu membangun kader yang kuat secara ruhani dan keagamaan.
Kedua, Habluminannas yaitu kader Ansor harus mampu menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat. Ansor harus hadir di tengah masyarakat dan memberikan manfaat sehingga keberadaannya dikenal dan dicintai.
Ketiga, Habluminal Alam, yaitu kader Ansor harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan alam. Menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial kader Ansor.
Keempat, Habluminal Digitalisasi, yaitu kader Ansor harus memahami perkembangan teknologi dan dunia digital. Kader diharapkan mampu membangun gerakan positif melalui media sosial dan ruang digital.
Kelima, Habluminal Fulus, yaitu kader Ansor harus memiliki kemandirian ekonomi dan mampu memberikan kontribusi terhadap gerakan organisasi, bukan justru mencari keuntungan pribadi dari organisasi.
Sementara itu, Pimpinan Pusat GP Ansor Korwil DIY–Jawa Tengah, HM Hanies Cholil Barro’, menyampaikan GP Ansor Sukoharjo harus mampu menata gerakan organisasi sekaligus memetakan berbagai peluang yang dapat dikolaborasikan bersama pemerintah dan berbagai elemen di Kabupaten Sukoharjo.
“Ansor harus mampu mencari dan mengambil peluang yang dibutuhkan oleh kader maupun masyarakat Sukoharjo,” pesannya.
Ia juga menegaskan gerakan kaderisasi harus terus dilakukan karena merupakan jantung dari gerakan GP Ansor.
Selain kaderisasi, PC GP Ansor Sukoharjo juga didorong untuk membangun sistem organisasi yang kuat, tertata, dan berkelanjutan sehingga dapat terus dilanjutkan oleh kepengurusan pada masa mendatang.
Menurutnya, setiap kepengurusan harus mampu meninggalkan legasii dan karya nyata yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan GP Ansor di Sukoharjo.
Mengusung semangat Nahnu Ansorullah, GP Ansor diharapkan benar-benar hadir sebagai penolong bagi masyarakat.
“Ansor dan Banser harus hadir di tengah masyarakat, termasuk ketika terjadi bencana maupun berbagai persoalan kemasyarakatan yang ada di Sukoharjo,” tegasnya.
Pesan penting juga disampaikan oleh KH Ismail Thayib. Ia menegaskan bahwa GP Ansor merupakan salah satu ruang utama dalam proses kaderisasi generasi muda Nahdlatul Ulama.
“Ansor merupakan kawah candradimuka kader Nahdlatul Ulama. Maksimalkan tenaga, fisik, pikiran, dan keikhlasan untuk berkhidmah di Ansor,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian dalam menjalankan perjuangan organisasi, namun tetap mengedepankan musyawarah, spiritualitas, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Selain kaya secara spiritual, kader Ansor juga didorong untuk memiliki kemandirian dan kekuatan ekonomi sebagai bagian dari upaya memperkuat organisasi dan gerakan.
Ketua PC GP Ansor Sukoharjo Masa Khidmah 2025–2029, Dahwan Asqolani, menyampaikan amanah kepengurusan yang diterima bukan sekadar jabatan, melainkan sebuah ujian terhadap kesungguhan seluruh pengurus. (Arinto/*)
Editor: Triantotus












Komentar