Pemkab Pati Alokasikan Rp9,9 M, Gagalkan 230 Anak Putus Sekolah

banner 468x60

Portalika.com [PATI] – Pemerintah Kabupaten (Pemkan) Pati menyiapkan dana senilai Rp9,9 miliar untuk memutus anak putus sekolah. Prioritas alokasi untuk anak keluarga miskin dan ekstrem miskin.

Tercatat sebanyak 230 anak akan mendapatkan beasiswa per bulan secara variatif. Pernyataan itu disampaikan Bupati Pati, Sudewo dalam silaturahmi bersama tokoh agama, masyarakat Kabupaten Pati, serta penyerahan sertifikat hak cipta Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) oleh Kementerian Hukum RI, di Pendopo Kabupaten Pati, Selasa, 27 Mei 2025.

banner 300x250

Sudewo mengungkapkan, pihaknya konsentrasi penuh pada dorongan kebijakan untuk dunia pendidikan. Akan tetapi juga tak meninggalkan bidang andalan wilayah seperti pertanian, perikanan budidaya dan lainnya.

Dia mengaku punya langkah menggarap dana CSR untuk beasiswa anak kurang mampu yang diterima di perguruan tinggi (PT) maupun sekolah kedinasan.

“[Nilainya] satu bulan Rp1 juta. Bagi warga miskin ekstrim Rp1,5 juta dan jurusan kedokteran Rp2,5 juta. Tahun ini rencananya [disalurkan] untuk 230 anak,” kata Sudewo.

Dia merincikan, nilai anggaran pada tahun ini di antaranya didapat dari CSR Bank Jateng Rp1,9 miliar pertahun, Pabrik Gula Trangkil Rp1 miliar, bank-bank kecil di Pati Rp2 miliar, pabrik pengolahan ikan Rp1 miliar serta pemasukan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) total Rp4 miliar pada tahun ini. Totalnya mencapai Rp 9,9 miliar.

“Untuk beasiswa 230 anak mulai [tahun ajar] Juli 2025-2026 pengeluarannya baru Rp1 miliar. Masih ada saldo Rp8 miliar. Tahun depan pengeluaran akan ditambah dua kali lipat, pun pendapatan dana CSR masih akan ditambah,” katanya.

Selain beasiswa bulanan, melalui anggaran itu Pemkab Pati akan memfasilitasi bimbingan belajar dan kursus bagi penerima beasiswa.

“Penggunaan anggaran akan transparan,” kata mantan Anggota DPR RI tersebut.

Portalika.com/Zul

Kebijakan Pemkab Pati sejalan dengan Pemprov Jateng bahwa mahasiswa dari keluarga kurang mampu secara ekonomi di Jateng bakal mendapatkan beasiswa sebagaimana arahan Gubernur Ahmad Luthfi. Total beasiswa mencapai miliar rupiah yang bersumber dari dana corporate social responsibility (CSR).

Menurut Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, dalam membangun Jateng dimulai dari penyelesaian ragam permasalahan. Salah satunya tentang bagaimana cara mengentaskan masyarakat dari kemiskinan melalui layanan dasar pendidikan.

“Dengan beasiswa, harapannya anak-anak menjadi estafet pembangunan di masa depan,” kata Ahmad Luthfi didampingi Wakil Gubernur Taj Yasin, di Pati.

Gubernur mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Pati. Gubernur juga berterima kasih kepada para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Menurut Ahmad Luthfi, bidang pendidikan, di masa kepemimpinannya bersama Taj Yasin mempunyai program memberikan harapan bagi anak putus sekolah. Salah satunya dengan sentuhan beasiswa Kejar Paket C.

“Tahun 2025, [sentuh] 5.000 anak putus sekolah,” ujarnya.

Dikatakannya, ada ragam faktor anak putus sekolah khususnya saat selesai pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Selain faktor kemiskinan, kata Luthfi, terdapat kebiasaan orang tua yang menginginkan anaknya langsung bekerja setelah lulus SMP.

Portalika.com/Zul

“Wes Le wes, lulus SMP kerjo [sudah nak sudah, lulus SMP langsung kerja]. Ada kebiasaan itu, akhirnya anak tidak melanjutkan sekolah,” ucapnya.

Luthfi mengajak kontribusi tokoh keagamaan dan masyarakat untuk memberi edukasi supaya angka putus sekolah bisa ditekan.

Gubernur menyalurkan bantuan keuangan untuk berbagai bidang kepada Pemkab Pati dengan total senilai Rp316.151.647.330.

Anggaran itu ditujukan di antaranya untuk Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah, Penghargaan Pembangunan Daerah, TMMD, Bantuan Keuangan (Bankeu) Pemerintah Desa untuk Peningkatan Sarana Prasarama Pedesaan.

Selanjutnya penyaluran keuangan untuk pembenahan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Kelompok Usaha Bersama (Kube), hibah bidang pendidikan keagamaan, hibah keagamaan, digester biogas untuk kelompok tani, hibah ormas/yayasan/lembaga pendidikan, internet gratis untuk desa blankspot.

Kemudian beasiswa siswa miskin pelajar SMA/SMK dan SLB, hibah budidaya itik petelur, pemberian Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk Pelaku Usaha Rumah Potong Unggas (RPU), penyaluran alat pasca panen tembakau, bibit tanaman buah.

Terakhir penyaluran staple food kepada 500 masyarakat penerima yang bekerja sama dengan Sampoerna untuk Indonesia, serta penyaluran geomembran dari CSR Bank Indonesia.

Warga Sukolilo Senang Program Speling
Sementara itu, masyarakat Desa Kedungwinong, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati mengapresiasi program dokter spesialis keliling (speling) dari Pemprov Jateng. Berkat program tersebut masyarakat dapat diperiksa secara gratis oleh dokter spesialis dan mendapatkan penanganan sehari-hari.

Portalika.com/Zul

“Saya ikut pemeriksaan kesehatan, periksa jantung. Program ini sangat bagus karena kalau periksa jantung otomatis bayarnya mahal, ini gratis,” ujar Wijayanti, warga Dukuh Krajan, Desa Kedungwinong, yang ikut pemeriksaan kesehatan dalam program Speling di Kantor Desa Kedungwinong, Selasa kemarin.

Wijayanti menceritakan, hasil pemeriksaan dari dokter spesialis menyatakan kondisi jantungnya kurang sehat. Kendati demikian, ia bersyukur karena dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal. Ia bahkan diberikan arahan langsung oleh dokter spesialis untuk penanganan di rumah.

“Hasilnya saya belum sehat. Jantungnya lemah. Tadi dikasih tahu sama dokternya suruh minum godhogan [rebusan] kacang hijau, juga disuruh banyak jalan setiap pagi biar jantungnya sehat,” tutur Wijayanti.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen yang telah menyempatkan hadir di desanya dan memberikan bantuan kepada warga. Wijayanti dan puluhan warga bahkan sempat menyapa dan berdialog dengan Gubernur dan Wagub.

“Terima kasih kepada Pak Luthfi dan Gus Yasin. Harapannya [program speling] lebih bagus lagi,” ujarnya.

Warga lainnya, Sarmi, juga mengaku merasakan manfaat dari program speling dan pemeriksaan kesehatan gratis tersebut. Lewat program itu, ia dapat memeriksa kondisi kesehatan mata dan risiko penyakit dalam yang mungkin dideritanya yang sering merasakan kakinya kram.

“Nggih [ikut periksa] mata, badan dan kaki diperiksa. Sampun umur, sehari-hari ting tegalan [sudah usia lanjut, sehari-hari bekerja di kebun],” ucapnya.

Program speling dan cek kesehatan gratis di Jawa Tengah telah mampu menjangkau hampir 57 desa. Total sekitar 2,8 juta penduduk desa ikut dalam pemeriksaan kesehatan gratis, termasuk pemriksaan dari dokter spesialis. (*)
Editor: Triantotus

Komentar