Portalika.com [SURAKARTA] – Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Cabang Surakarta menggelar seminar interaktif bertema self-care di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Penumping, Surakarta, Sabtu, 19 September 2026.
Kegiatan tersebut mengajak perempuan untuk lebih memperhatikan kondisi fisik dan mental, khususnya mereka yang turut mendampingi korban kekerasan.
Seminar menghadirkan Direktur Spek-HAM Rahayu Purwa Ningsih, SE, MSi serta Konsultan Inspire Anna Marsiana, STh, MA. Rahayu menyampaikan materi mengenai peta persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Surakarta.
Sementara Anna membawakan materi self-care dengan tema Stay Alive, Stay Strong, and Stay Happy. Seksi Pendidikan PWKI Cabang Surakarta, Aniek Tri Maharani, mengatakan kegiatan ini dilatarbelakangi kondisi perempuan yang sering kali lebih banyak mencurahkan perhatian kepada orang lain dibandingkan memperhatikan dirinya sendiri.
Menurut Aniek, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang mengalami kelelahan, bahkan berdampak terhadap kondisi mental.
“Perempuan sering kali begitu peduli dengan persoalan orang lain, tetapi lupa peduli dengan dirinya sendiri. Sampai akhirnya merasa capek, lelah, bahkan kondisi mental juga terdampak,” kata Aniek.
Pendamping Korban Juga Rentan Alami Kelelahan
Aniek menjelaskan, kondisi serupa juga dapat dialami mereka yang mendampingi korban kekerasan. Pendamping tidak selalu berasal dari kalangan profesional, tetapi bisa pula merupakan anggota keluarga maupun orang terdekat korban.
Menurutnya, kelelahan secara psikologis dapat muncul ketika pendamping terlalu larut dalam persoalan yang dihadapi korban.
Kesedihan korban terkadang ikut dirasakan oleh pendamping sehingga turut memengaruhi kondisi psikologisnya.
Karena itu, ia berharap para pendamping tetap menjaga batas agar persoalan korban tidak sampai berdampak pada kondisi diri sendiri.
“Diharapkan kita tidak sampai terlalu larut sehingga kondisi tersebut justru berdampak pada diri sendiri,” ujarnya.
Persoalan Kekerasan Semakin Beragam
Aniek menambahkan, persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak saat ini memiliki bentuk yang semakin beragam. Selain kekerasan fisik, terdapat kekerasan berbasis gender hingga kekerasan yang terjadi di ruang digital.
Dalam kondisi tersebut, kemampuan melakukan self-care dinilai penting, terutama bagi perempuan yang terlibat dalam proses pendampingan korban.
Dengan kondisi fisik dan mental yang tetap terjaga, para pendamping diharapkan memiliki energi untuk terus memberikan dukungan kepada korban.
PWKI Surakarta juga membangun jejaring dengan sejumlah lembaga yang memiliki perhatian terhadap persoalan trauma healing dan kesehatan mental. Melalui jejaring tersebut, anggota dapat bertemu, bertukar pengalaman, serta saling memberikan penguatan.
Dalam pendampingan tertentu, PWKI juga melibatkan psikolog sebagai tenaga ahli. Aniek menyampaikan bahwa menjaga diri tidak selalu harus dilakukan melalui konseling. Berbagai kegiatan sederhana juga dapat membantu seseorang mengelola rasa lelah.
Beberapa di antaranya seperti memasak, menanam, membuat pupuk, berkebun, membuat puding hingga merangkai bunga.
“Ketika kita merasa lelah, kita bisa melakukan kegiatan seperti memasak, menanam, membuat pupuk, berkebun, membuat puding, maupun merangkai bunga,” tuturnya.
Selain itu, PWKI juga mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan konseling pastoral dan konseling mental. Pada November mendatang, organisasi tersebut berencana menggelar pelatihan yang salah satunya berkaitan dengan kegiatan berkebun.
Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali organisasi PWKI di Surakarta.
PWKI telah berdiri sekitar 80 tahun. Secara nasional, organisasi tersebut didirikan pada 28 Februari 1946 oleh sejumlah perempuan dari gereja yang memiliki perhatian terhadap persoalan perempuan.
PWKI sempat mengalami masa vakum. Namun, dalam sekitar satu tahun terakhir, organisasi tersebut kembali aktif melalui regenerasi kepengurusan dan berbagai kegiatan.
Sementara itu, Gembala Sidang GBI Penumping Surakarta, Pendeta Elisa, menilai seminar self-care tersebut menjadi ruang bagi perempuan untuk memperoleh penguatan dalam menjalankan perannya, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat membantu perempuan mengembangkan diri sekaligus membangun motivasi untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Pendeta Elisa berharap manfaat kegiatan tidak berhenti pada peserta, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
“Kiranya melalui kegiatan hari ini, banyak perempuan yang terberkati dan siap memberkati, khususnya keluarga dan lingkungan di mana perempuan tersebut berada,” katanya. (Naharudin)












Komentar