Portalika.com [WONOGIRI] – Sorot mata Sultan Azka Syahputra selalu tampak berbinar ketika berbicara tentang sepakbola. Bocah kelahiran 15 Oktober 2015 itu kini menimba ilmu di SDN 7 Wonogiri.
Sultan adalah anak ketiga dari empat bersaudara, putra dari Dedi Syahputra. Sejak kelas 3 SD, ia mulai serius berlatih sepakbola dan jatuh cinta pada posisi yang tak semua anak berani mengambilnya kiper.
Menjadi penjaga gawang berarti berdiri sendirian di barisan paling belakang. Namun bagi Sultan, di situlah tantangan dan keseruannya. Semua butuh proses. Saat ini, proses itu ia jalani perlahan, dari latihan rutin, pertandingan persahabatan, hingga turnamen resmi.
Salah satu momen yang paling tak terlupakan terjadi belum lama ini, saat Piala Dandim di Lapangan Singodutan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Dalam situasi menegangkan, Sultan berhadapan langsung dengan penendang penalti tim lawan.
Nafas tertahan, penonton ikut menunggu. Tendangan keras dilepaskan dan Sultan berhasil menepisnya. Sorak sorai pun pecah. Momen itu menjadi bukti bahwa kemampuan Sultan terus berkembang.
Di luar lapangan, Sultan tetaplah anak-anak. Ia gemar menyantap sate ayam dan soto, ditemani minuman favoritnya teh panas. Namun di balik kesederhanaan kesehariannya, tersimpan mimpi besar.
Sultan ingin menjadi tentara—sekaligus pemain sepakbola profesional. Ronaldo menjadi panutannya dari pentas dunia, sementara dari dalam negeri ia mengidolakan Ole Romny.
Langkah Sultan mungkin masih panjang, namun keberanian menjaga gawang, menahan rasa takut, serta tekad untuk terus belajar sudah menjadi modal penting. Perjalanan kariernya mungkin baru dimulai, tetapi sepakbola telah membentuknya menjadi anak yang disiplin dan percaya diri.
Siapa tahu, suatu hari nanti, kita akan melihat Sultan bukan hanya berdiri tegap sebagai penjaga gawang hebat, tetapi juga sebagai prajurit yang membela negeri.
“Aku ingin jadi tentara seperti Papaku,” ujar Sultan yang duduk di kelas IVb SDN 7 Wonogiri itu.
Di sekolah, Sultan dikenal sebagai anak yang sigap, peduli, dan punya inisiatif tinggi. Tanpa diminta, ia sering membantu guru atau teman yang memerlukan bantuan. Untuk saat ini, biarlah ia terus menikmati proses seiring mimpi yang perlahan tumbuh bersama setiap penyelamatan yang ia lakukan. (Nadhiroh/*)












Komentar