SPPG Jatipurno 1 Wonogiri Transformasikan Dapur MBG Menjadi Kawasan Hijau Berkelanjutan

banner 468x60

Portalika.com [WONOGIRI] – Inovasi pelayanan gizi berbasis lingkungan mulai tumbuh dari daerah. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jatipurno 1, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, menghadirkan terobosan baru dengan mengintegrasikan program penghijauan tabulampot produktif di area dapur pelayanan Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah tersebut menjadikan SPPG Jatipurno 1 bukan sekadar dapur penyedia makanan sehat bagi ribuan penerima manfaat, tetapi juga berkembang menjadi model dapur hijau berkelanjutan yang menggabungkan sanitasi pangan, ketahanan pangan lokal, dan pelestarian lingkungan.

banner 300x250

Program ini dijalankan melalui kolaborasi strategis bersama Kebun Bibit Griya Amanah Jatipurno. Aneka tanaman buah unggulan seperti Jambu, Anggur Brazil, hingga black sapote ditata rapi diarea dapur utama SPPG.

Konsep tersebut dirancang untuk membantu menjaga kualitas lingkungan dapur yang setiap hari memproduksi ribuan porsi makanan bergizi bagi siswa, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di wilayah Kecamatan Jatipurno.

Selain memperkuat estetika kawasan, keberadaan tabulampot juga berfungsi sebagai penyaring alami debu dan polutan udara, penurun suhu mikro di sekitar dapur, hingga mendukung stabilitas kebersihan area pengolahan makanan.

Aris Setiawan, Ketua Yayasan Budi Utomo selaku lembaga yang menaungi SPPG Jatipurno 1, menegaskan penguatan konsep ruang hijau produktif di kawasan dapur pelayanan gizi merupakan langkah strategis untuk menjaga standar kebersihan dan kualitas lingkungan produksi makanan.

Menurutnya, keberadaan tabulampot di sekitar dapur bukan sekadar penghijauan, melainkan bagian dari sistem pendukung sanitasi modern yang mampu menciptakan suasana kerja lebih sehat, sejuk, dan nyaman.

“Kami ingin memastikan lingkungan dapur tetap bersih, sehat, dan nyaman. Kehadiran tabulampot membantu menciptakan udara yang lebih sejuk sekaligus mendukung stabilitas kebersihan area produksi makanan, sehingga pelayanan gizi bagi ribuan penerima manfaat dapat berjalan optimal dan berkualitas,” tegas Aris.

Tidak berhenti pada penghijauan, program ini juga diarahkan menuju sistem zero waste berbasis pertanian lingkar tertutup. Limbah organik sisa dapur nantinya akan diolah menjadi pupuk kompos dan pupuk cair organik untuk mendukung pertumbuhan tanaman buah di sekitar area dapur.

Tarmin selaku pengelola Kebun Bibit Griya Amanah menyebut kolaborasi tersebut sebagai bukti bahwa kawasan pelayanan publik dapat dibangun lebih produktif dan ramah lingkungan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa dapur layanan gizi pun bisa menjadi pusat edukasi lingkungan dan ketahanan pangan. Tanaman buah yang kami siapkan menggunakan metode vegetatif unggul sehingga cepat berbuah meski ditanam di dalam pot,” katanya.

SPPG Jatipurno 1 sendiri berada di bawah naungan Yayasan Budi Utomo dan kompleks Pondok Pesantren Bairuha Jatipurno. Sejak mulai beroperasi pada September 2025, dapur ini melayani lebih dari 2.700 penerima manfaat dengan standar sanitasi ketat, mulai dari penggunaan alat pelindung diri hingga pengendalian kebersihan lingkungan secara berkala.

Kolaborasi penghijauan ini dinilai memiliki potensi menjadi model nasional pengembangan dapur MBG berbasis ekologi. Integrasi antara pelayanan gizi, pengelolaan limbah organik, dan penghijauan produktif dinilai sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan yang kini mulai diperkuat pemerintah di berbagai daerah.

Dari Jatipurno, Wonogiri, lahir sebuah pesan sederhana namun kuat: dapur sehat tidak hanya menyajikan makanan bergizi, tetapi juga mampu menumbuhkan budaya hijau, kemandirian pangan, dan kepedulian lingkungan bagi masyarakat luas. (Tarmin)

Komentar