Sugiyanto, Dosen Staimas Wonogiri Dari Penggembala Kambing Kini Mendidik Generasi Bangsa

banner 468x60

Portalika.com [WONOGIRI] – Sugiyanto, SE, MSi, 46, dosen Staimas Wonogiri menyimpan kisah hidup penuh liku dan pelajaran berharga. Ia bukan sekadar dosen atau pengusaha kuline Pantai Gading Purba, tetapi juga manusia yang ditempa kerasnya hidup dan menjadikannya modal untuk menebar kebermanfaatan bagi sesama.

Relawan kemanusiaan Tagana Wonogiri ini lahir di Wonogiri pada 22 April 1979. Lelaki yang akrab disapa Sugi tumbuh dalam lingkungan sederhana di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri. Sejak kecil, ia tinggal bersama sang kakek, seorang modin, petugas desa yang menikahkan dan mengurus jenazah.

banner 300x250

Dari sosok kakeknya itu, Sugi kecil belajar tentang pengabdian dan makna pekerjaan mulia, melayani manusia tanpa pamrih. Ia bahkan pernah berjanji akan meneruskan jejak sang kakek.

Namun, sebuah peristiwa mengubah jalan hidupnya. Saat diajak membantu mengurus jenazah korban kecelakaan, Sugi menyaksikan langsung potongan tubuh manusia yang harus disatukan kembali. “Dari situ saya takut… gak berani,” kenangnya lirih.

Sejak saat itu, ia meninggalkan cita-cita menjadi modin dan bertekad menempuh jalan lain, sebagai menjadi pendidik.

Masa kecilnya bukanlah masa bermain. Saat teman-temannya berlari mengejar layang-layang, Sugi justru harus menggembala kambing, mencari rumput, atau mengumpulkan kayu bakar.

“Hati saya sempat protes, kenapa tidak diberi waktu untuk bahagia?” ujarnya.

Namun seiring waktu, ia menyadari didikan keras itu membentuk keteguhan dan etos kerja yang kelak menjadi bekal penting dalam hidupnya.

Saat kuliah di Surakarta, tantangan ekonomi tak pernah lepas dari hidupnya. Pagi hingga sore ia bekerja, malamnya kuliah. Ia sempat tak bisa mengikuti ujian karena belum membayar beaya kuliah, hingga seorang teman menalangi.

“Itulah pertolongan Tuhan lewat manusia,” ucapnya.

Meski sempat bermimpi menjadi guru Bahasa Inggris, jalan hidup membawanya ke dunia ekonomi dan pendidikan tinggi. Setelah menamatkan studi di Universitas Tunas Pembangunan dan melanjutkan Magister di Universitas Islam Batik, ia dipercaya menjadi dosen. Ironisnya, profesi yang dulu hanya menjadi “rencana cadangan”, kini justru menjadi ruang utama untuk menebar manfaat.

Portalika.com/Melysa

Bagi Sugi, kesuksesan sejati bukan soal materi, tetapi kebermanfaatan. “Semakin bermanfaat, tingkat kesuksesannya di situ,” tegas ayah dua anak ini.

Ia memiliki filosofi hidup yang unik, “Uang yang kita simpan akan habis, tapi uang yang kita sedekahkan itulah yang kita bawa mati.”

Kenangan masa SMA menjadi pengingat tentang perjuangan. Dulu ia tak bisa ikut study tour ke Bali karena tak mampu membayar. Bertahun-tahun kemudian, ia akhirnya menginjakkan kaki di Bali bersama anak dan istri.

“Di sana saya bertemu guru saya. Beliau kaget, muridnya yang dulu tak mampu kini bisa berlibur ke Bali. Itu mimpi yang jadi nyata,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini, di sela aktivitas mengajar dan mengelola usahanya, Sugi tengah menyiapkan impian baru, mendirikan lembaga pendidikan atau pesantren sebagai amal jariyah. Ia ingin melanjutkan semangat pengabdian sang kakek dalam bentuk yang lebih luas.

Kepada generasi muda, ia berpesan dua hal sederhana namun dalam, “Jangan pernah punya mimpi kecil. Karena di hadapan Tuhan, semua sama. Kun Fayakun bisa terjadi kapan saja.”

Dan jika diberi kesempatan memutar waktu, ia hanya ingin mengubah satu hal lebih fokus memperkuat diri sebelum terlalu banyak berkorban untuk orang lain. “Ketika kita kuat, sosial akan ikut kuat,” katanya bijak.

Dari lembah sunyi masa kecil hingga ruang kelas yang penuh inspirasi, Sugi membuktikan bahwa hidup bukan tentang di mana kita mulai, tapi seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan. (Melysa Linda Sary/*)

Komentar