Portalika.com [SOLO] – Kerraton Mangkunegaran menggelar Sura Mangkunegaran 2025 dengan prosesi kirab pusaka Dalem 1 Sura Dal 1959 pada Kamis malam, 26 Juni 2025. Tradisi ini menjadi ruang refleksi perjalanan waktu, Atita (masa lalu), Atiki (masa kini) dan Anagata (masa depan).
Rangkaian dimulai dari Atita yang diwujudkan melalui doa dan makan. Dilanjutkan dengan tembang Macapat di Pendhapa Ageng dan pembakaran kertas harapan bersama sebagai bentuk refleksi dan rasa syukur atas masa lalu.
Dilanjutkan Atiki, yang diwujudkan dengan kirab tapa bisu diikuti oleh 1.000 peserta tanpa alas kaki dan tanpa bicara sebagai bentuk kesadaran diri.
Pusaka dalem dibawa oleh abdi dalem dipimpin GPH Paundrakarna sebagai cucuk lampah.
Usai kirab, KGPAA Mangkoenagoro X membagikan udik-udik sebagai simbol harapan baik.
Prosesi jamasan pusaka digelar dengan perlengkapan tradisional, dipercaya membawa berkah.
Puncak acara ditutup dengan Anagata, semedi di Pendhapa Ageng yang dilakukan dalam gelap sebagai momen hening dan harapan untuk masa depan.
Sejak era KGPAA Mangkoenagoro I, perayaan ini diyakini sebagai momen ngalap berkah dan tahun ini dihadiri lebih dari 10.000 masyarakat.
Empat layar besar disiapkan di Pamedan untuk menayangkan prosesi di dalam Pura Mangkunegaran, lengkap dengan pembagian berkah Sura sebagai simbol syukur dan kebahagiaan.
Ketua Panitia GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo menyampaikan harapannya, “Semoga berkah Sura terus bergema dan memberi manfaat untuk masyarakat luas. Mangkunegaran akan terus menggaungkan semangat Culture Future yang menjaga warisan budaya sembari membangun masa depan.”
Tahun ini, yang menarik di area Pendhapa Ageng ada instalasi 11.000 balok yang ditanam sebagai simbol menyatukan diri dengan alam, lalu cermin yang melambangkan refleksi diri kita yang paling jujur dan mawas diri atas perjalanan hidup.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti Siti Hediati Soeharto, Sinta Nuriyah Wahid, Ahmad Muzani hingga Alexandra Askandar. (Ariyanto/*)












Komentar