Portalika.com [WONOGIRI] – Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (Staimas) Wonogiri, Dr Dewi Agustini, SSos, MM menegaskan ada tiga faktor yang mempengaruhi anak sulit diatur. Ketiganya saling keterkaitan dan dibutuhkan keteladanan dan konsistensi pengawasan
Tiga faktor itu yakni kurangnya kedekatan emosional dengan orang tua, sehingga anak merasa tidak diperhatikan. Kedua, pola asuh yang tidak konsisten yaitu adanya perbedaan aturan di rumah antara ayah dan ibu sehingga membuat anak binggung dan cenderung tidak menghormati aturan.
Ketiga, tidak adanya batasan yang jelas, anak dibiarkan bebas tanpa aturan dan merasa dirinya bisa segalanya dan cenderung tidak mau diatur.
“Keberhasilan mengatur anak sangat dipengaruhi oleh konsisten, kedekatan emosional serta keteladanan dari orang tua. Karena setiap anak memiliki karakter yang unik serta orang tua perlu belajar menjadi pengendali kebutuhan emosional mereka,” ujar Dewi.
Pernyataan Dewi disampaikan dalam sosialisasi parenting bertema Mengatur Anak Supaya Mudah Diatur Tanpa Emosi dan Kekerasan, Kamis, 17 Juli 2025 di Balaidesa Cangkring, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri.
Sosialisasi diselenggarakan mahasiswa Kelompok 1 Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) angkatan 6 yang bekerjasama dengan perangkat Desa Cangkring dan Ibu-ibu TP PKK. Sosialiasi dilakukan dalam rangka memberikan edukasi kepada para orang tua tentang pentingnya pola asuh yang tepat.
Tujuannya memberikan bekal ilmu praktis kepada para orang tua, khususnya ibu-ibu agar mampu menghadapi berbagai tantangan mendidik serta mengarahkan anak-anak di era digital saat ini.
Dewi menyampaikan bahwa anak dapat diarahkan dengan lembut apabila orang tua memahami cara berkomunikasi yang tepat dan konsisten dalam menerapkan aturan di rumah.
“Banyak orang tua merasa kewalahan menghadapi sikap anaknya yang sulit diatur, mudah tantrum dan kurang disiplin. Dalam realitasnya cara mendidik anak dalam sehari-harinya yang terlalu keras, seperti membentak atau menghukum, justru anak semakin tertutup dan sulit diarahkan,” lanjut Kepala LPPM Staimas Wonogiri itu.
Sebagai pemahaman, tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya ditunjukkan oleh anak-anak, terutama usia balita, ketika mereka merasa frustrasi, marah, atau tidak mampu mengungkapkan keinginan atau perasaan mereka dengan kata-kata.
Tantrum bisa berupa menangis, berteriak, berguling-guling di lantai, melempar barang, atau perilaku mengganggu lainnya. Dewi menambahkan dari hasil penelitian psikolog, risiko perkembangan pada anak mengalami tantrum pada usia 1 sampai 5 tahun.
“Anak-anak bukan untuk dikendalikan secara keras, tapi diarahkan dengan cinta, teladan, dan aturan yang jelas,” ujar Dewi.
Lebih lanjut diajelaskan kini banyak orang tua merasa kewalahan menghadapi putra putrinya. Dewi membagikan enam strategi penting agar anak lebih mudah diarahkan. Yakni menciptakan rutinitas harian yang jelas agar anak terbiasa dengan jadwal yang teratur.
Berkomunikasi positif dan empati, bukan bentakan atau ancaman, memberikan contoh nyata dari orang tua, karena anak lebih banyak meniru daripada mendengar. Kemudian, pemberian tanggung jawab sesuai usia, agar anak belajar mandiri dan merasa dipercaya, memberikan pujian yang spesifik saat anak menunjukan perilaku baik dan meluangkan waktu khusus untuk berdialog dengan anak setiap hari.
Dewi memberikan contoh kasus nyata dalam kehidupan keluarga yang bisa dijadikan pembelajaran bersama. “Berikan motivasi kepada anak sejak kecil, tanyakan cita-citanya, ingatkan pada cita-citanya setiap hari agar selalu diingat oleh anak dan cita-citanya gampang terwujud. Karena anak perempuan usia 10 tahun sudah dikatakan dewasa dan anak laki-laki dikatakan dewasa usia 18 tahun.”
“Harapannya, ilmu yang di dapat tidak hanya menjadi wawasan akan tetapi juga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta keluarga yang harmonis dan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang taat, sopan dan mudah di atur,” ucapnya.
Ketua Kelompok, Rahmad Widodo berharap melalui kegiatan sosialisasi parenting tersebut orang tua khususnya para ibu mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya pola asuh yang tepat, melalui komunikasi hangat dan keteladanan dalam mendidik anak secara berkelanjutan.
“Semoga kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan agar para orang tua terbekali dalam menjalankan peran mulia yakni sebagai pendidik paling utama di rumah. Karena ditangan merekalah, masa depan generasi yang tangguh dan berakhlak baik,” imbuhnya. (Nadhiroh/*)












Komentar