Portalika.com [KLATEN] – Tri Yuliana, mahasiswi Universitas Slamet Riyadi yang bertugas di Desa Gledeg, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten telah melaksanakan program kerja saat pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM), Kamis, 31 Juli 2025.
Kegiatan itu yakni sosialisasi pendidikan keuangan untuk anak usia dini dengan meningkatkan pemahaman manajemen keuangan sejak usia Belia untuk siswa Sekolah Dasar kelas IV dan VI. Sebanyak 12 anak mengikuti kegiatan itu.
Menurutnya, program kerja ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman dasar tentang manajemen keuangan kepada anak-anak sejak usia dini. Mengingat pentingnya kemampuan mengelola uang di era digital dan konsumtif saat ini.
“Pendidikan keuangan menjadi bekal penting yang sebaiknya dikenalkan sejak anak-anak berada di bangku sekolah dasar,” katanya.
Mengajarkan anak SD tentang uang, ujarnya, mungkin terdengar sederhana, tapi sebenarnya ini adalah fondasi penting untuk membentuk kebiasaan keuangan yang sehat di masa depan.
“Melalui pendekatan yang menyenangkan dan interaktif, saya membahas berbagai topik dasar tentang keuangan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Melalui kegiatan sosialisasi ini, saya menyampaikan materi seputar apa Itu uang dan mengapa penting? Saya memulai dengan menjelaskan bahwa uang adalah alat tukar yang digunakan untuk memperoleh barang atau jasa yang kita butuhkan atau inginkan,” jelasnya.
Menurutnya anak-anak diajak mengenali berbagai bentuk uang, mulai dari koin, uang kertas, hingga uang digital seperti yang digunakan di aplikasi dompet digital.
“Saya juga menjelaskan bahwa uang saku yang mereka terima setiap hari memiliki nilai dan harus digunakan secara bijak. Misalnya, untuk membeli jajanan di sekolah atau menabung untuk sesuatu yang lebih besar di kemudian hari,” jelasnya.
Lebih lanjut dia menyatakan kebutuhan dan keinginan itu apa bedanya? Salah satu bagian paling menarik dalam sesi ini adalah saat berdiskusi tentang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
“Saya menyampaikan bahwa kebutuhan adalah hal-hal penting seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal sedangkan
keinginan adalah hal-hal yang menyenangkan tapi tidak wajib dimiliki, seperti mainan baru atau gadget. Melalui cerita dan contoh sehari-hari, anak-anak diajak untuk mulai berpikir kritis dalam membedakan dua hal ini,” katanya.
Sesi selanjutnya membahas cara mengelola uang saku. Anak-anak diajarkan untuk membagi uang saku mereka ke dalam tiga kategori sederhana yaitu:
• 50% untuk kebutuhan harian
• 30% untuk ditabung
• 20% untuk hiburan
“Saya juga memperkenalkan konsep tujuan keuangan jangka pendek dan jangka menengah. Misalnya, menabung untuk membeli mainan dalam seminggu atau sepeda dalam beberapa bulan. Penting untuk dicatat, menabung berbeda dengan meminjam. Anak-anak didorong untuk menggunakan uang hasil jerih payah sendiri,” ujarnya.
Diajelaskan dalam dunia yang makin digital, penting bagi anak-anak untuk mengenal alat pembayaran modern.
“Saya memperkenalkan tiga jenis utama yakni uang tunai: koin dan uang kertas yang biasa mereka lihat. Kemudian kartu debit: alat pembayaran yang terhubung langsung ke rekening bank dan E-Wallet (dompet digital): aplikasi di ponsel yang praktis, tapi perlu bijak dalam penggunaannya. Saya menekankan pentingnya keamanan dan tanggung jawab saat menggunakan alat pembayaran digital,” tandasnya.
Dia berharap anak-anak dapat membawa pulang pemahaman baru tentang bagaimana cara menghargai uang, membedakan kebutuhan dari keinginan, serta mulai menabung dan mengelola uang saku mereka.
Menurutnya pendidikan keuangan seharusnya tidak menunggu sampai dewasa. “Justru sebaliknya, harus dimulai sedini mungkin. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang bermanfaat bagi generasi muda kita dalamm embangun masa depan yang cerdas secara finansial,” katanya. (*)
Editor: Triantotus












Komentar