Sosialisasi Anti-Bullying di SD 3 Senden Klaten Cegah Perundungan Sejak Dini

KKN Unisri Edukasi Siswa, Guru, dan Orang Tua tentang Bahaya Bullying

banner 468x60

Portalika.com [KLATEN] – Mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Nathania Fedora Rena Khanista, menggelar sosialisasi anti-bullying di SD 3 Senden, Kecamatan Senden, Klaten, pada Selasa (29/7/2025). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa, guru, dan orang tua tentang bahaya bullying. “Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan berulang untuk menyakiti,” ujar Nathania.

Nathania menjelaskan jenis-jenis bullying, seperti fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying. “Fisik seperti memukul, verbal seperti menghina, sosial mengucilkan, dan cyberbullying melalui media sosial,” katanya. Sosialisasi ini menggunakan pendekatan interaktif untuk memudahkan pemahaman siswa.“Dampak bullying serius, seperti penurunan prestasi, kecemasan, hingga depresi,” ungkap Nathania.

banner 300x250
Mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Nathania Fedora Rena Khanista, menggelar sosialisasi anti-bullying di SD 3 Senden, Kecamatan Senden, Klaten, pada Selasa (29/7/2025). (Foto: Dok.)

Ia memaparkan tanda-tanda bullying, seperti perubahan perilaku dan keluhan sakit tanpa sebab, agar guru dan orang tua lebih waspada terhadap kondisi anak. Nathania juga mengidentifikasi penyebab bullying. “Tekanan sosial, kurang empati, atau lingkungan keras di rumah bisa memicu bullying,” jelasnya.

Ia mendorong sekolah menerapkan kebijakan tegas dan nilai saling menghormati untuk mencegah perundungan.Langkah pencegahan bullying menjadi fokus kegiatan. “Pendidikan tentang dampak bullying, kebijakan anti-bullying, dan konseling sangat penting,” kata Nathania.

Ia mengajak guru dan orang tua memantau interaksi siswa dan menindaklanjuti laporan bullying.“Orang tua dan guru harus ajak anak bicara dan perhatikan perubahan perilaku,” saran Nathania. Sosialisasi ini disambut antusias, dengan guru berkomitmen menerapkan pembelajaran toleransi di kelas untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman.

Kegiatan ini dianggap relevan untuk pendidikan karakter. “Bullying tanggung jawab bersama, kita harus ciptakan sekolah yang inklusif,” tutup Nathania. Program ini diharapkan menjadi model pencegahan bullying di sekolah lain.

Penulis: Nathania Fedora Rena Khanista

Komentar