Portalika.com [WONOGIRI] – Berbekal semangat dan keikhlasan, Amir Mukminin membuktikan bahwa jalan menuju kesuksesan bisa dimulai dari tempat paling sederhana. Dari seorang marbot masjid, kini ia menjelma menjadi dosen dan penulis produktif dengan cita-cita besar meraih gelar profesor.
Lahir di Ponorogo 32 tahun silam, Amir Mukminin adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Berasal dari keluarga petani yang sederhana, sejak kecil ia telah akrab dengan kehidupan sederhananya.
Berawal dari semangat, keyakinan, dan tekad yang kuat, ia menempuh pendidikan sarjana di IAIN Ponorogo, dengan jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Hidupnya kala itu jauh dari kata mudah.
Alih-alih tinggal di kos, Amir memilih tinggal di masjid sebagai marbot. Menjadi petugas kebersihan, penjaga, dan imam. Dari masjid itu, ia bukan hanya belajar ilmu agama, tetapi juga makna keikhlasan dan pengabdian.
“Saat itu, tahun pertama saya menjadi marbot. Termasuk bersih-bersih, adzan, dan menjadi imam. Tahun kedua saya pindah ke Ma’had Al-Jami’ah IAIN Ponorogo. Semua saya jalani dengan ikhlas,” jelasnya.
Tidak berhenti di situ, ia kemudian melanjutkan studi S2 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan beaya sendiri. Ia kembali menjadi marbot masjid, mengemban tugas sebagai muadzin dan imam. Dengan gajinya, ia mampu meringankan beban kedua orang tuanya untuk membiayai kuliahnya.
Perjuangannya yang tidak mudah membuahkan hasil, ia lulus tepat waktu dan kembali menjadi bagian dari mahasiswa tercepat di angkatannya.
“Waktu itu ibu saya bilang, ‘kalau kamu yakin, berangkat saja’. Itu yang membuat saya berani,” imbuhnya.
Sosok ibunya menjadi figur yang memengaruhi kehidupan dan pendidikannya.
Siapa sangka, pria yang dulu bercita-cita sebagai polisi justru berakhir di dunia akademik dan menjadi seorang dosen. Selepas kuliah, Amir sempat diterima menjadi pengajar di salah satu pondok pesantren di Malang, namun telepon dari sang ibu mengubah segalanya.
“Beliau bilang, nanti kalau mencari pekerjaan jangan jauh-jauh dari rumah”, tuturnya.
Kemudian ia kembali pulang ke Ponorogo. Selang beberapa waktu, Amir kemudian diterima menjadi seorang tutor Bahasa Arab di Al-Azhar Arabic Course, Pare, Kediri. Selama tujuh bulan di sana, ia bukan hanya mengajar, tapi juga memperdalam kemampuannya dalam berbahasa Arab.
Hingga akhirnya, pada akhir 2017, ia mendapat panggilan untuk mengajar di Kampus Staimas Wonogiri, di sinilah langkah pertama kariernya sebagai dosen dimulai.
“Menjadi dosen bukan cita-cita saya, tapi ternyata Allah menuntun saya ke jalan ini,” ujarnya.
Selain mengajar sebagai dosen, pada periode 2017-2022 ia menduduki jabatan sebagai Sekretaris Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Setelah itu pada 2022 hingga saat ini, Amir mengemban amanah dengan menjabat sebagai Wakil Ketua I Bidang Akademik di Kampus Staimas Wonogiri.
Ia juga menjadi penulis produktif, dengan menargetkan dua publikasi jurnal setiap semester. Sejak 2020 hingga kini, ia telah mempublikasikan kurang lebih 75 artikel ilmiah. Selain artikel ilmiah, ia juga telah menerbitkan buku yang sudah terhitung sekitar 13 buku. Berkat penelitiannya, Amir menerima penghargaan menjadi dosen dengan publikasi artikel ilmiah terbanyak pada tahun 2024.
Pria 32 tahun itu, memiliki prinsip hidup yang sederhana tapi kuat. “Dahulukan yang wajib, akhirkan yang sunnah”. Artinya, apapun pekerjaan yang diemban, jalani dengan totalitas. Ia juga percaya bahwa istikomah lebih berharga dari seribu karomah.
“Sesuatu yang dilakukan dengan istiqomah, meski kecil, pasti membawa kita pada hasil yang besar,” tuturnya.
Saat ini, Amir tengah menempuh studi S3 di UNU Surakarta, dengan satu cita-cita besar yakni menjadi profesor. “Alhamdulillah sudah selesai ujian tertutup disertasi. Cita-cita menjadi profesor itu puncak perjalanan seorang dosen. Saya sudah merancang jalan ke sana, dengan melakukan penelitian dan publikasi yang sinkron. Berharap Allah rida,” jelasnya.
Untuk generasi muda, Amir berpesan bahwa “Fokuslah pada apa yang kamu lakukan sekarang. Kalau masih kuliah, lakukan dengan sungguh-sungguh. Karena kalau kamu ditakdirkan jadi orang hebat, kamu pasti bisa jadi orang hebat, entah di manapun kamu menjalani pendidikan. Yang penting istikamah. Karena istikamah, keberuntungan akan datang. Bukan karena kita hebat, tapi karena Allah menuntun langkah kita,” ujarnya. (Sandi Dwi Yulianto/*)
Editor: Triantotus












Komentar