Portalika.com [TRENGGALEK] – Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin menyampaikan dukungannya terhadap Program Swasembada Pangan berbasis sekolah saat mendampingi kunjungan Yayasan Swatantra Pangan Nusantara saat pembagian bibit dan pupuk di beberapa sekolah di Kecamatan Gandusari, Rabu, 22 April 2026.
Menurut Mas Ipin, generasi muda sekarang perlu diberi tanggungjawab menanam dan merawat sejak dini sehingga mereka dapat merasakan apa yang mereka tanam.
Menurutnya, Pogram Swasembada Pangan Berbasis Sekolah sendiri adalah inisiatif edukatif dan produktif untuk menumbuhkan kesadaran ketahanan pangan sejak dini dengan memanfaatkan lahan sekolah.
Program ini melibatkan siswa dalam bercocok tanam (sayuran/hortikultura) menggunakan media seperti polibag, serta menerapkan praktik pertanian organik untuk memperkuat pangan mandiri.
Bersama Yayasan Swatantra Pangan Nusantara, Pemkab Trenggalek ingin mewujudkan program ini di Trenggalek.
“Gerakan swasembada sangat penting. Jadi sejak kecil diajari bagaimana punya tanggungjawab bagaimana mereka menanam dan merawat dan nanti bisa mengkonsumsi sesuatu yang mereka tanam,” kata Mas Ipin.
Bupati menegaskan swasembada pangan ini sangat penting karena sudah cukup lama meninggalkan predikat agraris, tetapi membekali siswa siswi untuk sekolah yang pintar sehingga besok tidak menjadi petani seperti bapak atau ibu. “Nah ini kita mulai merevolusi bahwasannya pangan itu adalah masa depan.”
Bupati Trenggalek ingin swasembada pangan ini tidak hanya program melainkan sebuah pergerakan, karena dirinya yakin bawasannya gerakan itu akan lebih masif daripada hanya sekedar program.
“Makanya kita ingin menggerakkan semua stakeholder agar bisa bersama-sama mencapai tujuan ini. Jadi ketika sudah di sini, kita beri tahu video-video apa yang kita lakukan. Tidak hanya ketahanan pangan dalam hal sayur atau tanaman pangan saja, tetapi juga protein. Kolam-kolam ikan skala sekolah juga, semoga ini bisa menjadi sumber inspirasi anak-anak kita kedepan,” jelasnya.
Menurutnya kesuksesan tanam juga tergantung keberadaan air. “Kita sama-sama tahu siklus air sudah tereduksi secara alami dengan keberadaan hutan yang semakin berkurang. Maka kita mengkompensasi ini dengan tekhnologi. Caranya kita manfaatkan sistem kondensasi sederhana untuk menangkap uap dingin untuk berubah menjadi air. Ini penemuannya Kepala Dinas Pertanian kami dengan beberapa inovator di Trenggalek,” jelasnya.
Apalagi, menurut BMKG tahun ini akan menghadapi ancaman kekeringan cukup parah. Semoga kegiatan sekolah ini menjadi solusi dimana kita selama ini mengantarkan air ke daerah-daerah terdampak.
Biasanya kalau musim kering itu parah, ada sekitar 90 hingga 100 desa yang mengalami kekeringan dan BPBD kewalahan. “Besok kita saving anggarannya, karena anggarannya terbatas. Kita harus Whay list spending, membelanjakannya harus bijaksana, daripada kita beli sesuatu yang sesuatu itu langsung habis, maka anggarannya bisa kita pakai untuk ini. Sehingga setiap rumah tangga bisa memproduksi air sendiri,” tandasnya. (Rudi Sukamto)












Komentar