Portalika.com [SOLO] – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, Bank Jabar Banten (bjb) dan Real Estate Indonesia (REI) Jateng berkolaborasi membangun perumahan untuk para pekerja anggota BPJS Ketenagakerjaan di Jateng.
Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (Mou) tripartid REI diwakili Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) REI Jateng, Suhartono Kepala Kantor Wilayah Jateng & DIY BPJS Ketenagakerjaan, Isnavodiar Jatmiko dan CEO Regional V Bank bjb, Jadi Kusmaryadi di Rumah Makan Nawa Bistro, Punggawan, Banjarsari, Solo, Jateng, Selasa, 20 Agustus 2024 siang.
“Hari ini kita mengkonkritkan amanat pemerintah kepada BPJS Ketenagakerjaan untuk menyediakan rumah kepada pekerja di Jateng. Tapi pada prinsipnya kami tidak bisa apa-apa tanpa mitra. Karena itu kami bekerja sama dengan DPD REI sebagai penyedia rumah dan perbankan BJB sebagai penyedia dana,” ujar Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jateng & DIY, Isnavodiar Jatmiko seusai penandatanganan MoU.
Baca juga: 370 Anggota PSHT Wonosari Klaten, Peserra UKT Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
Menurut dia sinergitas ketiga lembaga ini penting untuk mewujudkan amanah tersebut. Karena kalau tidak ada kolaborasi, BPJS Ketenagakerjaan hanya punya amanah saja tapi tidak bisa menjalankan amanahnya.
Dia menjelaskan manfaat layanan tambahan (MLT) semacam ini mempunyai dua fungsi yaitu untuk pekerja dan untuk developer melalui kredit konstruksi.
Yang menarik adalah selama ini pihaknya bergerak sendiri mulai dari penjualan sampai meyakinkan kepada peserta dan kemudian mengalihkan pembiayaan ke bank. Tapi hal itu dinilai membuat peserta tidak nyaman mengakses program tersebut.
“Karena proses pengambilan keputusan untuk pembelian rumah itu kan sangat emosional yang penting cepat dan mudah. Dan kami tidak mempunyai kemampuan di situ. Cepat dan mudah hanya bisa diberikan ketika ketiga pihak, penyedia rumah, pemilik program dan penyalur dana bisa bersama-sama,” papar dia.
Sementara itu Jadi Kusmaryadi menyatakan program MLT ini cukup baik di tengah saat ini ada fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) sedang dievaluasi pemerintah, sehingga saat ini untuk sementara tidak bisa menyalurkan. Sebenarnya program MLT ini sudah lama cuma belum terealisasi.
“Mungkin kita mulai hari ini bagaimana kita memulai pemasaran bareng. Karena bagamanapun kita tidak bisa memasarkan sendiri-sendiri, kita harus berkolaborasi. Jadi kita rangkul pemilik dana dari BPJS Ketenagakerjaan, kami sebagai penyalurnya dan juga penyedianya dari REI. Mudah-mudahan Dengan pertemuan MoU ini mengisisiasi bagaimana cara kita merealisasikannya,” katanya.
Pada bagian lain Ketua DPD REI Jateng, Suhartono menyambut gembira kolaborasi ini bersama BPJS Ketenagakerjaan dan Bank bjb. Menanggapi sudah habisnya kuota rumah subsidi, pihaknya siap mengajukan penambahan kuota, karena informasi yang dia peroleh akan ada penambahan.
Ketika MLT dari BPJS menjadi solusi menjadi angin segar, ujar dia, mudah-mudahan tidak sekadar MoU tapi lebih pada kerja nyata realisasi di lapangan.
“Apalagi sebagian besar tenaga kerja itu menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan, tentu ini peluang bagus bagi kami REI khususnya Jateng. Karena tadi disampaikan Pak Iko [Jatmiko] bahwa ada sekitar 18.000 perusahaan besar di Jateng yang bergabung di BPJS Ketenagakerjaan. Cuma di sini ada sesuatu yang perlu kita diskusikan lebih intens bahwa sebagian besar mereka adalah masyarakat bawah,” kata dia.
Tidak Diterima Bank
Sementara MLT di BPJS dinilai untuk masyarakat non-masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sehingga dia mengusulkan jika memungkinkan untuk masyarakat tadi diperhatikan.
Sebab masyarakat kelas bawah di Jateng ketika butuh rumah tidak bisa diterima oleh bank, karena banyak yang berstatus outsourcing. Sehingga masih banyak yang belum mempunyai rumah, sementara kalau dimasukkan di bank tidak memenuhi syarat.
“Ini PR bersama, mudah-mudahan ke depan masyarakat golongan ini bisa difasilitasi barangkali dengan aturan khusus,” papar Suhartono.
Menyikapi lontaran Suhartono, Jadi Kusmaryadi bisa memaklumminya. Namun pihaknya pihaknya juga diawasi beberapa regulator dengan ketentuan-ketentuan cukup banyak.
“Tapi betul itu kenyataan di lapangan, tantangan kami memang dihadapkan dengan masyarakat yang tidak bankable karena kami beriringan dengan regulator. Kami terus melakukan literasi-literasi keuangan yang tentu ini salah satu cara untuk menjawab tantangan bagaimana sih sebenarnya kita berbank seperti apa. Karena memang berat, berbank itu catatannya seumur hidup,” papar dia sambil menambahkan pihaknya coba literasi keuangan dari level sedini mungkin, sehingga dari SD sudah diajari melalui tabungan dan sebagainya. (Iskandar)












Komentar