Portalika.com [TRENGGALEK] – Pemerintah Kabupaten Trenggalek memperkenalkan inovasi teknologi sederhana berbasis kondensasi untuk menghasilkan air dari uap dingin. Inovasi ini digagas sebagai solusi menghadapi ancaman kekeringan yang diprediksi cukup parah tahun ini.
Inovasi tersebut dikenalkan langsung oleh Bupati Mochamad Nur Arifin di sela-sela kunjungan kerja di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Rabu, 22 April 2026.
Bupati Mochamad Nur Arifin menjelaskan bahwa ketersediaan air menjadi faktor krusial dalam mendukung ketahanan pangan. Namun, siklus air alami saat ini mengalami penurunan akibat berkurangnya kawasan hutan serta rusaknya tampungan air bawah tanah, termasuk kawasan kars, yang terdampak pembangunan.
“Kalau kita berbicara masalah pangan, salah satu komponen besar yang menentukan adalah ketersediaan air. Sementara itu, siklus air alami sudah tereduksi,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipatif, Pemkab Trenggalek mengoptimalkan teknologi kondensasi untuk menangkap uap dingin di udara dan mengubahnya menjadi air. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi Kepala Dinas Pertanian bersama para inovator lokal di Trenggalek.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi kekeringan tahun ini cukup tinggi. Selama musim kemarau, biasanya terdapat sekitar 92 hingga 100 desa di Trenggalek yang terdampak kekurangan air.
Kondisi ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) harus bekerja ekstra mendistribusikan air bersih setiap hari, yang tidak jarang mengalami keterlambatan.
“Selama ini kita mengirim air ke daerah terdampak, dan BPBD sering kewalahan karena harus bolak-balik setiap hari. Dengan teknologi ini, harapannya masyarakat bisa memproduksi air sendiri,” tambahnya.
Dari sisi anggaran, pemerintah daerah juga melakukan efisiensi dengan mengalihkan belanja yang bersifat konsumtif ke investasi teknologi yang berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai lebih bijak karena memberikan manfaat jangka panjang dibandingkan solusi sementara. (Rudi Sukamto)












Komentar