Portalika.com [DEMAK] – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Tim 141 Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan inovasi berupa Peta Potensi Biogas berbasis Geographic Information System (GIS) yang dilengkapi rancangan instalasi biogas skala rumah tangga di Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.
Program multidisiplin tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) berbasis potensi lokal sekaligus mendukung pengelolaan limbah peternakan di lingkungan masyarakat.
Program ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Pemetaan potensi dilakukan Dhafa Rizky Haryanto dan Iqbal Khasani, mahasiswa Program Studi Geologi, melalui analisis spasial berbasis GIS pada skala 1:20.000. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, di antaranya kelimpahan biomassa rumput, aksesibilitas, serta ketersediaan lahan di Desa Batursari.
Hasil pemetaan tersebut kemudian dikolaborasikan dengan bidang arsitektur melalui Andina Rahma Sulaeman, mahasiswi Program Studi Arsitektur, yang menyusun rancangan instalasi biogas skala rumah tangga.
Rancangan itu disajikan dalam bentuk denah, potongan, serta visualisasi tiga dimensi (3D) reaktor biogas pada skala 1:20.
Kolaborasi lintas disiplin ini dilakukan agar hasil pemetaan tidak hanya memberikan informasi mengenai wilayah yang berpotensi untuk pengembangan biogas, tetapi juga dilengkapi gambaran teknis instalasi yang dapat menjadi referensi awal bagi pemerintah desa maupun masyarakat.
Peta cetak, rancangan teknis, dan dokumen digital hasil program kemudian diserahkan secara simbolis oleh Dhafa, Iqbal, dan Andina mewakili Tim KKNT-141 Undip kepada Kepala Desa Batursari, Sutikno, SE.
Penyerahan tersebut turut disaksikan jajaran perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat. Kepala Desa Batursari, Sutikno, mengapresiasi inovasi mahasiswa yang dinilai mampu memberikan gambaran mengenai potensi biomassa sekaligus alternatif pemanfaatannya sebagai sumber energi.
“Inovasi komprehensif dari mahasiswa KKNT-141 Undip ini sangat luar biasa. Tidak hanya memetakan daerah mana saja yang kaya biomassa, tetapi juga memberikan gambar teknis instalasi biogas skala rumah tangga yang sangat jelas dan tertata rapi. Ini akan menjadi acuan penting bagi Desa Batursari dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan mandiri energi,” ujar Sutikno.
Untuk mempermudah akses terhadap hasil program, peta dan rancangan instalasi biogas juga dilengkapi QR Code yang terhubung dengan dokumen digital.
Perangkat desa maupun masyarakat dapat memindai kode tersebut untuk mengakses peta beresolusi tinggi serta dokumen rancangan secara praktis.
Berdasarkan hasil analisis geospasial skala 1:20.000, wilayah Desa Batursari terbagi menjadi tiga kategori potensi biogas, yakni tinggi, sedang, dan rendah.
Zona potensi tinggi memiliki luas sekitar 2.218.371 meter persegi atau 35,38 persen dari total wilayah. Zona ini tersebar di Dusun Mondosari, Karangjati, Karangmalang, Dongko, dan sebagian Kadungwringin.
Wilayah tersebut memiliki ketersediaan biomassa rumput yang melimpah serta lahan yang relatif luas. Sementara itu, zona potensi sedang mencakup sekitar 1.159.686 meter persegi atau 18,38 persen dari total wilayah.
Zona tersebut meliputi Dusun Gembyong, Kopen, Gebangsari, dan sebagian Pilang dengan ketersediaan biomassa rumput, aksesibilitas, serta lahan yang cukup memadai.
Adapun zona potensi rendah mencakup sekitar 2.914.174 meter persegi atau 46,24 persen dari total wilayah. Zona ini didominasi kawasan permukiman padat, seperti Dusun Pucanggading, Daleman, Batursari, Tlogo, Wates, dan Karanggeneng Kayon.
Keterbatasan biomassa rumput, aksesibilitas, serta ketersediaan lahan menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya potensi pengembangan biogas pada wilayah tersebut.
Pemetaan juga mencatat keberadaan instalasi biogas aktif di perbatasan Dusun Dongko dan Dusun Tlogo. Keberadaan instalasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi biogas telah mulai diterapkan di lingkungan masyarakat Desa Batursari dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut.
Sebagai tindak lanjut dari pemetaan, mahasiswa turut menyusun rancangan instalasi biogas skala rumah tangga yang memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan baku utama.
Instalasi tersebut terdiri atas sejumlah komponen, mulai dari bak inlet, pengaduk, pipa masuk, reaktor atau digester, kubah penampung gas, bak outlet penampung slurry hingga jaringan pipa untuk menyalurkan gas menuju titik penggunaan.
Sistem instalasi bekerja melalui proses fermentasi anaerob. Kotoran ternak segar dicampurkan dengan air menggunakan perbandingan 1:1 hingga homogen sebelum dialirkan menuju digester.
Di dalam reaktor, bahan organik diuraikan oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen sehingga menghasilkan biogas yang mengandung metana (CH₄).
Biogas yang terbentuk kemudian ditampung pada bagian kubah dan dialirkan melalui jaringan pipa menuju titik pemanfaatan, seperti kompor biogas. Sementara itu, sisa hasil fermentasi berupa slurry dialirkan menuju bak penampungan untuk selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Dengan sistem tersebut, kotoran ternak yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi alternatif. Produk samping dari proses produksi biogas juga masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.
“Inovasi ini kami rancang secara utuh. Selain memetakan zonasi potensi biomassa rumput di Desa Batursari, kami juga menyusun desain teknis instalasi biogas skala rumah tangga lengkap dengan spesifikasi komponennya. Harapannya, rancangan ini dapat menjadi referensi awal bagi masyarakat yang ingin mengembangkan reaktor biogas di sekitar rumah maupun kandang ternak,” ujar Iqbal dan Dhafa.
Pengembangan peta potensi dan rancangan instalasi biogas tersebut turut mendukung SDG 7 melalui pemanfaatan sumber energi alternatif berbasis biomassa.
Pengelolaan kotoran ternak menjadi biogas juga sejalan dengan SDG 11 karena berpotensi membantu mengurangi limbah dan pencemaran di lingkungan permukiman.
Di sisi lain, pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi serta penggunaan kembali slurry sebagai pupuk organik menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui program tersebut, Tim KKNT-141 Undip berharap peta dan rancangan yang telah disusun tidak hanya menjadi luaran kegiatan KKN, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi Pemerintah Desa Batursari dan masyarakat dalam mengembangkan pemanfaatan biogas secara bertahap dan berkelanjutan.
Pengembangan biogas skala rumah tangga ke depan diharapkan dapat mendorong pengelolaan limbah peternakan yang lebih optimal, mengurangi potensi pencemaran lingkungan, sekaligus mendukung kemandirian energi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di Desa Batursari. (*)
Editor: Triantotus












Komentar