Jawab Tantangan Derasnya Arus Informasi Digital, SMG Luncurkan Literaworks

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] — Solopos Media Group (SMG) resmi meluncurkan Literaworks dalam acara SMG Economic Insight 2026 di Radya Litera Multifunction Hall, Solo, Jateng, Jumat, 30 Januari 2026. Literaworks merupakan agensi kreatif mitra komunikasi strategis yang mengedepankan pendekatan narasi berbasis konteks dan dampak nyata.

Ke depan, Literaworks siap menjalin kemitraan dengan berbagai kalangan untuk membangun pemahaman publik yang lebih komprehensif. Peluncuran ini menjawab tantangan derasnya arus informasi digital yang membuat banyak kampanye gagal menciptakan dampak berkelanjutan karena mengabaikan konteks.

banner 300x250

Literaworks hadir sebagai mitra komunikasi strategis yang mengedepankan pendekatan narasi berbasis konteks dan dampak nyata. Mengusung filosofi Context First, Impact Follows, Literaworks memosisikan diri bukan sekadar sebagai agensi produksi konten, melainkan sebagai mitra strategis yang membangun pemahaman public, sekaligus memengaruhi proses pengambilan keputusan.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) SMG, Arif Budisusilo, menyampaikan Literaworks menerapkan empat pilar kerja utama: Context, Content, Channel, dan Impact.

“Jadi kekuatan kita apa? Kami adalah born media. Kalau bicara pendekatan jurnalistik, tentu iya. Justru kami memiliki competitive advantage, yakni jurnalis-jurnalis dari Solo, Jogja, hingga Jakarta yang bekerja berbasis data,” papar dia saat peluncuran Literaworks bertema Branding Bukan Sekadar Citra itu.

Menurut dia keunggulan Literaworks juga diperkuat oleh pengelolaan ekosistem media besar dalam satu payung, yakni Bisnis Indonesia Group, SNG, dan Harian Jogja Group. Integrasi ini memungkinkan pendekatan komunikasi yang sensitif terhadap konteks lokal maupun nasional, berbasis pada praktik jurnalistik yang kredibel dan data-driven, serta didukung oleh distribusi multiplatform yang luas.

Literaworks Jadi Pembeda
Sementara itu Presiden Komisaris SMG, Hariyadi BS Sukamdani mengutarakan kehadiran Literaworks akan menjadi pembeda antara SMG dengan media lainnya. Pendekatan yang digunakan adalah mengintegrasikan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk melayani kebutuhan dunia usaha maupun sektor yang lebih luas.

Terkait itu pihaknya meluncurkan produk terbarunya yaitu Literaworks. “Ini sekaligus untuk mencakup dan menjawab kebutuhan klien.”

Sedangkan Walikota Solo, Respati Ardi yang hadir pada acara tersebut mengatakan, adaptasi di tengah perkembangan zaman yang terus berubah menjadi kebutuhan mendasar, tidak hanya bagi pemerintahan, tetapi juga sektor bisnis.

“Solopos Media Group mampu mengikuti perkembangan zaman dan menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Solo, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Kota Solo,” papar dia.

Di bagian lain, Pelaksana Tugas Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jawa Tengah, Sarworini, mewakili Gubernur Jateng menyampaikan pada 2026 menjadi fase penting bagi dunia branding. Branding tidak lagi cukup dimaknai sebagai slogan atau kampanye viral semata, melainkan harus menghadirkan nilai relevansi dan dampak nyata.

“Dalam konteks Jawa Tengah, value-based branding kami pandang sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Branding yang kuat harus berangkat dari kebijakan yang berpihak,” kata dia.

Hadirkan Pakar Komunikasi dan Branding
Launching Literaworks digelar dalam rangkaian acara talkshow SMG Economic Insight yang mengusung tema Branding Bukan Sekadar Citra. Talkshow yang mengupas strategi branding terkini ini menghadirkan dua pakar komunikasi dan branding.

Pakar Branding Universitas Prasetiya Mulya, Prof Agus W Soehadi, PhD, dalam paparannya bertajuk “Political Cinematic Brand Aura”, menjelaskan mengenai strategi branding terutama dalam merebut perhatian Gen Z.

Menurut dia karakteristik Gen Z sebagai digital natives yang memiliki kepercayaan rendah terhadap institusi namun sensitivitas emosional yang tinggi, mengubah cara berpolitik. Politik tidak lagi dijelaskan melalui pesan-pesan yang kaku, melainkan dirasakan melalui pengalaman. Politik saat ini telah menjadi micro-cinema di mana video pendek mendominasi perhatian publik.

“Generasi Z tidak suka dengan sesuatu yang panjang, sebab terbiasa dengan short video. Namun dengan short video yang kemudian dikumpulkan, maka benang merahnya terlihat. Maka benang merah juga penting dibuat,” kata dia.

Sedangkan Direktur PT Asia Pacific Fibers, Dr. Antonius W. Sumarlin memaparkan ketika kepercayaan (trust) telah menjadi modal strategis bagi industri, dan bukan sekadar isu komunikasi biasa. Menurutnya, kegagalan dalam membangun kepercayaan di era digital bisa dianggap sebagai risiko terbesar bagi reputasi perusahaan.

Komunikasi tersebut bukan hanya secara internal, namun mencakup komunikasi dengan sektor eksternal. Untuk itu butuh strategi komunikasi yang tetap relevan, dapat dipercaya dan kompetitif.

Dia menjelaskan komunikasi yang lancar di sebuah perusahaan juga bisa berdampak pada penentuan kebijakan. Dia menyebut di era saat ini kebijakan tidak bisa hanya ditentukan satu arah, sehingga bawahan dipaksa untuk menuruti kebijakan yang ada.

“Jadi bukan one way lagi, saya bikin begini, orang dipaksa. Tidak akan bisa diera sekarang, apalagi ada generasi Z,” kata dia. (Iskandar)

Komentar