Portalika.com [KLATEN] – Potensi peternakan di Desa Blimbing, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
Melihat adanya potensi susu kambing dan susu sapi segar dari peternak setempat, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan ide bisnis roasted milk tea sebagai salah satu alternatif pengolahan produk lokal.
Program tersebut merupakan kegiatan kerja monodisiplin yang dilaksanakan oleh Rismawati, mahasiswa Akuntansi Perpajakan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi secara door to door kepada pelaku UMKM di Desa Blimbing dengan membawa dua materi utama, yaitu pengenalan Harga Pokok Produksi (HPP) dan pengembangan ide bisnis roasted milk tea.
Dalam kegiatan sosialisasi, Rismawati menjelaskan bahwa perhitungan HPP menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku UMKM sebelum menentukan harga jual.
Dengan mengetahui biaya bahan baku, kemasan, serta biaya produksi lainnya, pelaku usaha dapat menentukan harga yang lebih sesuai dan mengetahui perkiraan keuntungan dari produk yang dijual.
Roasted milk tea yang diperkenalkan dalam kegiatan ini menggunakan bahan dasar susu segar, baik susu kambing maupun susu sapi perah.
Pemanfaatan susu lokal tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk pengembangan potensi yang sudah dimiliki Desa Blimbing.
Bahan baku yang berasal dari peternak setempat juga dapat memberikan peluang untuk menghubungkan potensi peternakan dengan kegiatan usaha masyarakat.
Selain dalam bentuk botolan, Rismawati juga memperkenalkan alternatif penyajian roasted milk tea agar produk dapat dikembangkan menjadi menu baru. Salah satu konsep yang ditawarkan yaitu satu botol roasted milk tea dapat dibagi menjadi dua gelas dengan tambahan es batu.
Dengan konsep tersebut, roasted milk tea tidak hanya dipasarkan sebagai produk siap bawa dalam kemasan botol, tetapi juga dapat disajikan langsung kepada pelanggan.
“Dari produk yang sudah ada, sebenarnya masih bisa dikembangkan lagi. Misalnya satu botol roasted milk tea bisa disajikan menjadi dua gelas dengan tambahan es. Jadi, pelaku usaha mempunyai pilihan untuk menjualnya dalam bentuk botolan maupun sebagai minuman yang langsung disajikan kepada pelanggan,” jelas Rismawati.
Konsep tersebut juga dapat menjadi alternatif bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan variasi menu tanpa harus membuat produk yang benar-benar berbeda.
Dengan memanfaatkan produk dasar yang sama, pelaku usaha dapat menawarkan bentuk penyajian yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan karakter konsumennya.
Pelaksanaan sosialisasi secara door to door memungkinkan adanya komunikasi yang lebih dekat dengan pelaku UMKM. Rismawati tidak hanya menyampaikan materi mengenai HPP, tetapi juga berdiskusi mengenai kemungkinan penerapan ide pengembangan produk berdasarkan kondisi usaha masing-masing.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pelaku UMKM Desa Blimbing dapat semakin memahami pentingnya perhitungan biaya produksi dalam menentukan harga jual serta melihat peluang pengembangan produk dari potensi yang tersedia di desa.
Pemanfaatan susu kambing dan susu sapi segar sebagai bahan dasar roasted milk tea menjadi salah satu contoh bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih inovatif dan memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi KKN Undip dalam mendukung pengembangan UMKM Desa Blimbing, khususnya melalui peningkatan pemahaman mengenai pengelolaan biaya dan penciptaan alternatif ide bisnis yang memanfaatkan potensi lokal. (*)
Editor: Triantotus












Komentar