Manajemen PKK Harus Ada Skala Prioritas Program Sesuai Kebutuhan Masyarakat

Pengurus PKK Digembleng Bersinergi Berkolaborasi

banner 468x60

Portalika.com [YOGYAKARTA] – Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah mengadakan pembekalan selama dua hari, Selasa dan Rabu, 24 dan 25 Juni 2025 untuk memperkuat kemampuan dan kapasitas pengurus PKK periode 2025-2030.

Acara di Jungwok Blue Ocean Resort Gunungkidul, DI Jogjakarta itu, dibagi dua sesi. Hari pertama para pengurus digembleng pembekalan materi organisasi, penggalian ide, manajemen program, kepemimpinan, tim work, analisa program, pemecahan masalah dan lainya. Dari siang hingga malam penguatan kapasitas diisi oleh pemateri Bangkit Ari Sasongko, Direktur LPP SLH dari NGO HIV/AID Banjarnegara.

banner 300x250

Penyampaian materi berjalan menarik. Dari awal hingga akhir, peserta diminta aktif berproses dalam menyerap materi. Diminta berdiri, maju kedepan, berkelompok, berdiskusi, menyelesaikan tugas, tanya jawab, hingga menjawab pertanyaan dengan menggeser kertas jawaban dari satu teman ke teman lainya.

Peserta aktif terlibat dalam berbagai permainan. Di tengah-tengah acara, diminta senam dan ngedance supaya tidak jenuh.

“Kami sangat senang mengikuti model pembekalan dari awal hingga akhir karena hidup. Kami diminta aktif tidak hanya duduk mendengarkan. Kami jadi tahu, ternyata mengurus PKK ada ilmunya, tidak sekadar kumpul arisan dan ngerumpi,”kata Ny Zubaidah, salah satu peserta.

Peserta juga disuruh membuat tim memecahkan masalah-masalah PKK. Mulai dari isu kesehatan, ekonomi, sosial, perempuan dan gender, masalah anak, lingkungan hingga pendidikan. Mereka diminta membuat program, apa masalahnya, bagaimana solusinya. Apa yang diharapkan masyarakat, apa kritik kepada PKK, apa program prioritasnya.

“Benar-benar memeras otak supaya kita bisa membuat dan merencanakan program yang dibutuhkan masyarakat,” kata Yulianto, pengurus PKK dari unsur laki-laki.

Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga PKK, Indah Sumarno, mewakili Ketua TP PKK Provinsi Jateng, Nawal Arafah Yasin, dalam pembukaan acara menyampaikan,pembekalan untuk memperkuat kemampuan pengurus dalam menjalankan roda PKK.

“Dari kegiatan ini kami berharap para pengurus punya kapasitas menjalankan 10 program pokok PKK kedepan. Ini berat tapi karena kita orang-orang militan, akan tetap semangat menyumbangkan tenaga dan pikiranya untuk PKK tanpa imbalan,” katanya.

Nawal Arafah Yasin juga berpesan, agar diantara pengurus lama dan baru saling mengenal dan bersinergi membentuk kekuatan untuk menyangga tugas PKK. Sebab beban PKK sangat banyak, mengurus manusia mulai kehamilan, bayi, remaja, dewasa, hingga lansia.

“Ya ngurus anti narkoba, cegah pernikahan dini, ibu hamil, posyandu Lansia dan lain-lain. Dibutuhkan  kepedulian dan kekompakan, itu kunci keberhasilan PKK,”pesan Ning Nawal, panggilan akrabnya.

Sekretaris PKK Provinsi Jateng, Ema Rachmawati, dalam evaluasi kegiatan mengatakan, semua pengurus PKK harus kompak dan berkolaborasi dalam menjalankan program. Dari materi yang diberikan pembicara harus bisa dipahami dan dijalankan. Intinya sebuah organisasi harus kolaborasi dan berbagi peran.

“Kita harus saling terbuka jangan menutup diri supaya tidak ada ganjalan dan kendala dalam menjalankan organisasi bersama,” katanya.

Pengisi materi, Bangkit Ari Sansongko menjelaskan, bekal paling utama pengurus PKK adalah memahami potensi masing-masing, kapasitas dan kekompakan kerja tim. Satu sama lain harus saling membutuhkan. Ada tim yang berperan sebagai Front Line (pemimpin), Support Sistem (penyedia konsep, data dan analisa) dan Ground Zone (tim bagian bawah atau grassroot). Ketiganya harus bersinergi dan saling membutuhkan.

“PKK itu aset sosial yang luar biasa. Tugas PKK adalah tugas kenabian yang sangat mulia membantu masyarakat,” katanya.

Tim ahli PKK Jawa Tengah, Fachruroji menambahkan, dalam manajemen PKK harus ada skala prioritas program supaya benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat. Mana yang penting mendesak, mana yang penting tidak mendesak, mana yang tidak penting dan tidak mendesak.

“Kelemahan kita itu membuat program tanpa kajian. Harus ada skala prioritas supaya tepat menjawab kebutuhan masyarakat. Misal musim pendaftaran sekolah, beli pakaian tidak penting, yang penting dan mendesak adalah beaya sekolah,” kata Oji, panggilan akrabnya. (*)

Editor: Suryono

Komentar