Portalika.com [VATIKAN, ROMA] – Robert Francis Prevost, 69 terpilih menjadi Paus Leo XIV menggantikan Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April 2025 setelah memperoleh suara oleh 133 kardinal elektor.
Nama ini mengejutkan dunia setelah dirinya diumumkan sebagai Paus baru Gereja Katolik menenggelamkan dua nama kandidat diawal pemilihan, yakni Kardinal Pietro Parolin dan Kardinal Luis Antonio Tagle.
Prevost pertama kali diperkenalkan kepada dunia dengan nama yang ia pilih, Paus Leo XIV, dari loggia Basilika Santo Petrus, Vatikan, Kamis, 8 Mei 2025 malam WIB. Ia terpilih sebagai Paus ke-267 melalui proses konklaf kepausan yang mencakup pemungutan suara, oleh 133 kardinal elektor.
“Damai sejahtera bagi kamu semua” adalah kalimat pertama yang dia sampaikan dari balkon tengah basilika yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus.
Paus Leo XIV, adalah Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat sekaligus Paus pertama dari Ordo Santo Agustinus. Ia lahir di Chicago pada 14 September 1955 dari pasangan Louis Marius Prevost (keturunan Prancis dan Italia) dan Mildred Martínez (keturunan Spanyol) dan ia resmi ditahbiskan sebagai imam pada Juni 1982.
Kepastian terpilihnya Paus baru ditandai adanya sinyal asap putih yang keluar dari cerobong asap Kapel Sistina pada Kamis petang sekitar pukul 18.00 waktu Vatikan atau 23.00 WIB sebagai tanda kepada dunia bahwa seorang Paus baru telah terpilih.
Pemimpin baru bagi 1,4 miliar umat Katolik sedunia ini setelah dia mendapatkan mayoritas dua pertiga suara dari proses pemungutan suara yang dilakukan sejumlah kardinal. Prosesinya Paus baru tersebut akan memilih nama yang akan digunakan selama masa kepausannya.
Kemudian, dia akan masuk ke “Ruang Air Mata” guna mempersiapkan diri untuk sebuah perubahan besar dalam hidupnya.
Setelah itu, kardinal protodiakon akan muncul di logia tengah Basilika Santo Petrus dan mengumumkan dalam bahasa Latin “habemus papam” yang berarti “kita memiliki seorang Paus”.
Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025, Gereja Katolik memasuki masa sede vacante-periode ketika takhta kepausan kosong. Masa ini menandai berakhirnya satu kepemimpinan dan membuka jalan bagi dimulainya proses pemilihan pemimpin baru.
Proses Konklaf
Dalam situasi ini, perhatian dunia tertuju pada proses konklaf, sebuah tradisi berabad-abad yang menentukan pemimpin tertinggi Gereja Katolik berikutnya.
Para kardinal dari seluruh dunia berkumpul di Vatikan untuk memilih paus baru, sebuah momen penting yang sarat makna spiritual dan historis. Apa itu konklaf dalam pemilihan paus baru?
Konklaf berasal dari bahasa Latin cum clave, yang berarti “dengan kunci”. Istilah ini mencerminkan praktik penguncian para kardinal dalam sebuah tempat tertutup untuk memilih Paus baru tanpa intervensi dari luar.
Penguncian tersebut bertujuan menjaga kerahasiaan dan kebebasan dalam pemilihan, sehingga tidak ada pihak luar yang dapat memengaruhi keputusan kardinal.
Tradisi konklaf dimulai pada abad ke-13, tepatnya saat penetapan Paus Gregorius X. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mencegah campur tangan politik dalam proses pemilihan Paus.
Sejak saat itu, konklaf menjadi prosedur yang diikuti dalam pemilihan Paus, menjaga integritas dan kekudusan proses tersebut.
Konklaf biasanya dimulai 15 hingga 20 hari setelah wafatnya Paus, memberikan waktu bagi para kardinal dari seluruh dunia untuk berkumpul di Vatikan. Proses ini diawali dengan Misa khusus yang disebut Missa pro eligendo Pontifice di Basilika Santo Petrus.
Setelah Misa, para kardinal memasuki Kapel Sistina dan dikunci di dalamnya. Selama konklaf, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan dunia luar, termasuk melalui telepon atau internet, untuk menjaga kerahasiaan dan integritas proses pemilihan.
Setiap hari, dilakukan hingga empat kali pemungutan suara, dua kali di pagi hari dan dua kali di sore hari. Untuk terpilih sebagai Paus, seorang kandidat harus memperoleh dua pertiga suara dari total kardinal yang hadir.
Setelah setiap sesi pemungutan suara, hasilnya diumumkan kepada publik melalui asap yang keluar dari cerobong Kapel Sistina. Asap hitam menandakan belum terpilihnya Paus baru, sementara asap putih menandakan bahwa Paus baru telah terpilih.
Setelah terpilih, Paus baru akan mengenakan jubah putih di “Ruang Air Mata” dan kemudian muncul di balkon Basilika Santo Petrus untuk memberikan berkat pertamanya kepada umat Katolik di seluruh dunia.
Pengumuman resmi dilakukan dengan kalimat Latin “Habemus Papam”, yang berarti “Kita memiliki Paus”. Konklaf bukan sekadar proses administratif, melainkan ritual sakral yang mencerminkan spiritualitas dan tradisi Gereja Katolik.
Proses ini melibatkan kardinal-kardinal yang terkunci dalam ruangan, berdoa dan bermeditasi, untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi Gereja.
Melalui konklaf, gereja memastikan bahwa pemilihan Paus dilakukan dengan penuh doa, refleksi dan kebijaksanaan. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan spiritual yang membawa kedamaian dan arah bagi umat Katolik di seluruh dunia. (ANT/Hilal Eka Saputra Harahap/Yashinta Difa Pramudyani)
Editor: Triantotus












Komentar