Variasi Produk Olahan Ikan Sekitar WGM Penting Untuk Penanggulangan Stunting Dan Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

banner 468x60

Portalika.com [WONOGIRI] – Olahan konvensional ikan nila di warung makan dan rumah makan sekitar Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Desa Sendang, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri dilirik Prof Dr Ir Joko Santoso, MSi dan dosen lain di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Bersama tiga dosen lain, seperti Dr Eng Wahyu Ramadhan, SPi, MSi, Prof Dr Sugeng Heri Suseno, SPi, MSi dan Dr Kustiariyah, SPi, MSi, keempatnya membuat proposal kegiatan pengabdian kepada masyarakat dosen pulang kampung dan diimplementasikan

banner 300x250

Menurut Joko, dalam proposalnya yang diterima Rabu, 24 Juli 2024, olahan ikan bisa mengurangi stunting jika orangtua mau memanfaatkannya. “Masyarakat yang tinggal di sekitar Waduk Gajah Mungkur, biasanya hanya mengolah hasil ikan dengan cara digoreng atau dibakar dan dijual dalam bentuk segar atau disajikan menjadi aneka makanan di rumah makan sekitar,” tulisnya.

Baca juga: Apakah Boleh Memberi Penyedap Rasa Pada MP-ASI?

Padahal, ujarnya, produk olahan hasil ikan nila bernilai tambah di sekitar Waduk Gajah Mungkur masih jarang ditemui. “Variasi produk olahan ikan sangat penting untuk penanggulangan stunting, bahkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat.”

Lebih lanjut Joko menyatakan, masyarakat Desa Sendang, yang tinggal di wilayah sekitar Waduk Gajah Mungkur, memiliki potensi perikanan nila yang belum dimanfaatkan. Diversifikasi produk olahan ikan nila di sekitar Waduk Gajah Mungkur melalui intervensi gizi pada aneka makanan lokal mampu meningkatkan nilai gizi pangan dapat berkontribusi dalam mengatasi stunting,” jelasnya.

Menurutnya, Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang masih mengalami prevalensi stunting tertinggi. Sebagai contoh, Kecamatan Tirtomoyo mengalami peningkatan kasus stunting dari 258 pada tahun 2019 menjadi 406 pada tahun 2022. Hal serupa terjadi di Kecamatan Kismantoro, yang berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo di sebelah timur dan Kabupaten Pacitan di sebelah selatan.

Portalika.com/Ist

Edukasi gizi selama 1.000 hari pertama kehidupan, termasuk asupan gizi dari masa sebelum lahir hingga usia 2 tahun, berdampak positif pada pertumbuhan bayi. Kader posyandu, ujarnya, juga memiliki peran penting dalam pendataan, pencegahan, dan penanggulangan stunting.

Beberapa peran yang dapat dilakukan adalah pendataan balita, ibu nifas, ibu hamil dan ibu menyusui, persiapan bahan untuk pemberian makanan tambahan (PMT), serta sosialisasi mengenai potensi bahaya pada saat ibu mengandung, gizi pada ibu hamil, ASI eksklusif, persiapan saat persalinan dan menyusui, serta pola asuh anak balita agar tumbuh sehat, cerdas, tanggap, dan aktif.

Menurutnya, ikan nila merupakan ikan yang banyak dibudidayakan masyarakat di sekitar Waduk Gajah Mungkur. Kandungan gizi ikan nila meliputi protein (43,76%), lemak (7,01%), dan abu (6,80%). Tepung ikan nila, mengandung protein tinggi (71,02%), lemak (4,46%), abu (9,64%), dan air (9,83%).

Permasalahan lain adalah pengetahuan masyarakat terhadap olahan ikan masih sangat minim. Permasalahan ini ditambah lagi terutama dalam menghasilkan produk olahan hasil perikanan yang bergizi, bermutu dan bernilai jual masih terbatas,” katanya.

Portalika.com/Ist

Untuk itu, dia menggandeng mitra kegiatan Kelompok Pengolah dan Pemasar Produk Hasil Perikanan (Poklahsar), Basid Haryanto sebagai Lembaga Mitra Poklahsar Rejo Makmur.
Bidang Kegiatan Pengolah Aneka Produk Perikanan. Lembaga mitra beralamat di Kebonagung RT 003/ RW 001 Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Joko menyatakan kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat dengan memberikan informasi kegiatan kreativitas intervensi gizi pada pangan lokal. Informasi yang diberikan saat sosialisasi meliputi peran gizi dalam mengatasi stunting, manfaat ikan untuk kesehatan dan kecerdasan, aneka pangan olahan khas Wonogiri yang berpotensi untuk diperkaya protein ikan.

Selesai sosialisasi tim mengadakan kreativitas intervensi gizi pangan lokal, meliputi pretest dan posttest, praktik dasar gizi pangan, praktik tata cara penanganan dan pengolahan ikan yang baik, pembuatan tepung ikan protein tinggi dan pembuatan aneka produk ikan bergizi tinggi serta diskusi dan evaluasi produksi dan peningkatan nilai gizi.

Pembuatan menu makan ikan keluarga dilakukan selama seminggu dengan didampingi dosen program kegiatan pulang kampung. (Triantotus)

Komentar